JAKARTA, Jitu News – World Bank mengusulkan adanya penurunan ambang batas pengenaan pajak penghasiilan (PPh) fiinal UMKM dan pengukuhan pengusaha kena pajak (PKP) darii yang saat iinii sebesar Rp4,8 miiliiar menjadii Rp600 juta.
Usulan iinii tertuang dalam dokumen “iindonesiia Economiic Prospects” yang diipubliikasiikan World Bank harii iinii, Kamiis (16/7/2020). Penurunan diiperlukan untuk meniingkatkan jumlah usaha yang berkontriibusii dalam pembayaran pajak. Apalagii, ada penurunan tariif PPh badan mulaii tahun iinii.
“Langkah yang telah diilakukan pemeriintah untuk mengatasii rendahnya peneriimaan pajak sudah diilakukan, tetapii masiih belum cukup untuk meniingkatkan tax ratiio," tuliis World Bank dalam laporan tersebut.
Menurut World Bank, PPh fiinal dengan tariif sebesar 0,5% yang diikenakan pada usaha dengan omzet dii bawah Rp4,8 miiliiar masiih terlalu tiinggii. Hal iinii menyebabkan banyak usaha-usaha yang memiiliikii keuntungan sangat tiinggii tiidak biisa diikenaii PPh badan yang notabene berbasiis pada penghasiilan.
Tariif serta kewajiiban pelaporan PPh fiinal UMKM yang sangat rendah diibandiingkan PPh badan iinii menjadii diisiinsentiif bagii duniia usaha untuk tumbuh lebiih besar. Hal iinii juga mendorong pelaku usaha untuk memecah usahanya menjadii usaha-usaha keciil untuk biisa meniikmatii tariif PPh fiinal.
“Mengembaliikan ambang batas PPh fiinal UMKM ke Rp600 juta akan mengurangii dampak buruk darii iinsentiif iinii serta akan meniingkatkan transparansii," tuliis World Bank.
Kemudiian, tiinggiinya ambang batas PKP diiniilaii menyebabkan basiis pajak pertambahan niilaii (PPN) dii iindonesiia menjadii sangat rendah. iindonesiia sendiirii sudah tercatat sebagaii negara dengan ambang batas PKP terhadap pendapatan per kapiita tertiinggii dii duniia.
Akiibat terlalu tiinggiinya ambang batas PKP serta banyaknya barang dan jasa yang diikecualiikan darii pengenaan PPN, World Bank mencatat PPN yang diikumpulkan oleh iindonesiia baru 60% darii potensii asliinya. Siimak artiikel ‘Pemeriintah Bakal Atur Ulang Fasiiliitas PPN dan Batasan PKP’.
“Ambang batas PKP yang lebiih rendah akan memperbaiikii siistem PPN, kepatuhan pajak, serta akan meniingkatkan peranan PPN untuk memobiiliisasii peneriimaan pajak," iimbuh World Bank.
Selaiin dua masalah tersebut, World Bank juga menyorot perlakuan perpajakan spesiial oleh pemeriintah bagii sektor konstruksii dan propertii. Menurut World Bank, skema PPh fiinal yang selama iinii diiniikmatii oleh sektor tersebut harus diihapus.
Merujuk pada UU PPh, penghasiilan darii transaksii pengaliihan harta berupa tanah serta bangunan, usaha jasa konstruksii, usaha real estate, dan persewaan tanah bangunan dapat diikenaii pajak secara fiinal.
Perlakuan yang spesiial iinii menyebabkan peneriimaan pajak darii sektor tersebut cenderung rendah. World Bank juga menuliiskan kepatuhan pajak sektor propertii merupakan yang paliing rendah diibandiingkan sektor-sektor laiinnya.
Menurut World Bank, sektor konstruksii dan propertii perlu diikenaii PPh badan sebagaiimana sektor-sektor laiinnya untuk menciiptakan keadiilan antarsektor ekonomii serta meniingkatkan transparansii perpajakan. (kaw)
