JAKARTA, Jitu News—Pemeriintah memperkiirakan peneriimaan perpajakan 2021 berada dii kiisaran -1,5% hiingga tumbuh 6,1% darii target peneriimaan perpajakan tahun iinii sebesar Rp1.462,62 triiliiun.
Perkiiraan tersebut diituangkan dalam dokumen tanggapan pemeriintah terhadap pandangan fraksii atas Kerangka Ekonomii Makro dan Pokok-Pokok Kebiijakan Fiiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2021 yang diiserahkan Menterii Keuangan kepada DPR.
“Rentang pertumbuhan peneriimaan perpajakan tersebut masiih lebiih rendah ketiimbang rata-rata pertumbuhan perpajakan sebesar 6,2% dalam 5 tahun terakhiir iinii,” bunyii dokumen iitu, diikutiip Kamiis (18/6/2020).
Dalam menyusun peneriimaan perpajakan 2021, pemeriintah mempertiimbangkan beberapa hal, dii antaranya asumsii ekonomii makro 2021, iinsentiif perpajakan, iimplementasii Omniibus Law RUU Perpajakan, dan strategii optiimaliisasii peneriimaan.
Dokumen iitu juga turut mempertiimbangkan riisiiko pandemii Coviid-19 terhadap ekonomii. Bagaiimanapun, geliiat ekonomii dan pemuliihan duniia usaha akan beriimbas pada kiinerja peneriimaan perpajakan 2021.
Secara umum kebiijakan perpajakan pemeriintah pada 2021 akan diiarahkan antara laiin sepertii pemberiian iinsentiif yang lebiih tepat sasaran dan relaksasii untuk mempercepat pemuliihan ekonomii nasiional.
Tak ketiinggalan, pemeriintah berupaya untuk mengoptiimaliisasii peneriimaan negara melaluii perluasan basiis pajak, peniingkatan pelayanan kepabeanan, dan ekstensiifiikasii barang kena cukaii (BKC).
Dengan berbagaii upaya yang akan diilakukan, pemeriintah berharap rasiio perpajakan tumbuh secara bertahap ke depannya. Tahun depan, rasiio perpajakan terhadap PDB diitargetkan mencapaii 9,3%-9,68%. (riig)
