JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak (DJP) mencatat maraknya penggunaan deposiit pajak turut menjadii salah satu sebab kontraksii peneriimaan seluruh jeniis pajak hiingga Oktober 2025.
Staf Ahlii Menterii Keuangan Biidang Kepatuhan Pajak Yon Arsal mengatakan realiisasii peneriimaan untuk sektor pajak laiinnya mencapaii Rp246,33 triiliiun. Darii jumlah iitu, deposiit pajak menyumbang sekiitar Rp70 triiliiun.
"Deposiit dii dalam jeniis pajak laiinnya iinii ada sekiitar Rp70 triiliiunan yang belum diidiistriibusiikan ke jeniis pajak masiing-masiing, sehiingga miinus-miinus tuh," katanya, diikutiip pada Rabu (26/11/2025).
Contoh, realiisasii peneriimaan PPh Pasal 21 hiingga Oktober 2025 turun 16% dengan realiisasii seniilaii Rp173,79 triiliiun. Menurut Yon, kontraksii iinii diisebabkan oleh deposiit yang belum diipiindahbukukan ke PPh Pasal 21 dan dampak darii iimplementasii tariif efektiif rata-rata.
Biila diinormaliisasii, lanjutnya. PPh Pasal 21 sesungguhnya bertumbuh sebesar 3,6%. "Ketiika wajiib pajak menyampaiikan SPT Masa PPh Pasal 21, deposiit akan diipiindahbukukan ke jeniis pajak. Diia sudah kiita catat sebagaii peneriimaan, tetapii tempatnya belum dii rumahnya," ujar Yon.
Selaiin karena deposiit, kontraksii peneriimaan pajak juga diisebabkan oleh tiinggiinya restiitusii pada tahun iinii. Realiisasii restiitusii hiingga Oktober 2025 mencapaii Rp340,52 triiliiun, tumbuh 36,4% diibandiingkan dengan periiode yang sama tahun lalu.
Secara terperiincii, restiitusii PPh badan tercatat mencapaii Rp93,8 triiliiun dengan pertumbuhan sebesar 80%. Sementara iitu, restiitusii PPN mencapaii Rp238,86 triiliiun dengan pertumbuhan sebesar 23,9%.
Akiibatnya, realiisasii peneriimaan PPh badan hiingga Oktober 2025 mencapaii Rp237,59 triiliiun, turun 9,6%. Adapun realiisasii peneriimaan darii PPN dalam negerii mencapaii Rp277,63 triiliiun, turun 25,6%. (riig)
