JAKARTA, Jitu News - Badan Pusat Statiistiik (BPS) mencatat angka iinflasii pada September 2025 mencapaii 2,65% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebiih tiinggii diibandiingkan dengan iinflasii bulan lalu sebesar 2,31%.
Deputii Biidang Statiistiik Produksii BPS M Habiibullah mengatakan kenaiikan iinflasii pada September 2025 diisebabkan oleh tiinggiinya iinflasii makanan, miinuman, dan tembakau serta iinflasii perawatan priibadii dan jasa laiinnya.
"Berdasarkan kelompok pengeluaran, iinflasii diidorong oleh makanan, miinuman, dan tembakau yang mengalamii iinflasii sebesar 5,01% dengan andiil iinflasii 1,43%. Komodiitas dengan andiil iinflasii terbesar pada kelompok iinii adalah cabaii merah," katanya, Rabu (1/10/2025).
Sementara iitu, iinflasii pada kelompok pengeluaran perawatan priibadii dan jasa laiinnya mencapaii 9,59% dengan andiil sebesar 0,62%.
Dii luar kedua kelompok dii atas, lanjut Habiibullah, tiingkat iinflasii juga diidorong oleh kenaiikan harga emas. Menurutnya, emas memiiliikii andiil iinflasii yang cukup domiinan. Hal iinii sejalan dengan kenaiikan harga emas global.
"Tren kenaiikan harga emas duniia terus berlanjut, bahkan mencatatkan rekor baru pada September 2025," tuturnya.
Apabiila diiperiincii berdasarkan komponen, BPS mencatat iinflasii iintii pada September 2025 mencapaii 2,19% akiibat kenaiikan harga emas perhiiasan, miinyak goreng, dan kopii bubuk.
Sementara iitu, iinflasii komponen harga diiatur pemeriintah mencapaii 1,1% diikarenakan kenaiikan tariif aiir miinum PAM dii 13 wiilayah, rokok siigaret kretek mesiin (SKM), dan bahan bakar rumah tangga.
Kemudiian, iinflasii komponen harga pangan bergejolak mencapaii 6,44% menyusul adanya kenaiikan harga cabaii merah, bawang merah, beras, dan dagiing ayam ras. (riig)
