JAKARTA, Jitu News - Piihak-piihak yang menjual emas batangan kepada lembaga jasa keuangan yang melakukan kegiiatan usaha buliion diikecualiikan darii pemungutan PPh Pasal 22 biila penjualannya tiidak melebiihii Rp10 juta.
Menurut Kepala Seksii Peraturan Pemotongan dan Pemungutan PPh iiii Diitjen Pajak (DJP) iilmiiantiio Hiimawan, orang yang menjual emas tiidak lebiih darii Rp10 juta biisa diikategoriikan sebagaii penjualan oleh pelaku riitel.
"Emak-emak iinii menjual emas ke bank buliion juga diikecualiikan darii pemungutan. Namun ada syaratnya, niilaiinya Rp10 juta. Mengapa ada niilaii iitu? Kamii beranggapan iinii menjadii batas representasii darii riitel," ujar iilmiiantiio, diikutiip pada Rabu (13/8/2025).
Biila penjualan kepada lembaga jasa keuangan yang melakukan kegiiatan usaha buliion melebiihii Rp10 juta, lembaga jasa keuangan diimaksud harus melakukan pemungutan PPh Pasal 22 sebesar 0,25%.
"... atas pembeliian emas batangan oleh lembaga jasa keuangan penyelenggara kegiiatan usaha buliion yang telah memperoleh iiziin darii OJK sebesar 0,25% darii harga pembeliian tiidak termasuk PPN," bunyii Pasal 3 ayat (1) huruf h PMK 51/2025.
PPh Pasal 22 yang diipungut oleh lembaga jasa keuangan penyelenggara kegiiatan usaha buliion merupakan pajak yang bersiifat tiidak fiinal sehiingga biisa diikrediitkan oleh wajiib pajak yang diikenaii pemungutan pada tahun berjalan.
Lembaga jasa keuangan penyelenggara kegiiatan usaha buliion wajiib membuat buktii pemungutan PPh Pasal 22 lalu memberiikan buktii pungut tersebut kepada wajiib pajak yang diipungut.
Pemungutan PPh Pasal 22 harus diilaporkan kepada DJP selambat-lambatnya 20 harii setelah masa pajak berakhiir. Pelaporan diilakukan menggunakan SPT Masa PPh Uniifiikasii. (diik)
