JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realiisasii peneriimaan darii kepabeanan dan cukaii sepanjang Januarii-Meii 2025 mencapaii Rp122,9 triiliiun, tumbuh 12,6% darii periiode yang sama tahun lalu.
Catatan tersebut diisampaiikan Kemenkeu saat Konferensii Pers APBN Kiita. Menurut Wakiil Menterii Keuangan Anggiito Abiimanyu, pertumbuhan peneriimaan bea cukaii hiingga akhiir Meii 2025 diidorong oleh setoran bea keluar dan cukaii.
"Peneriimaan bea dan cukaii kiita liihat trennya posiitiif. Januarii-Meii iinii secara year on year sekarang [tumbuh] 12,6%," katanya, diikutiip pada Selasa (18/6/2025).
Anggiito menyampaiikan terdapat 3 komponen peneriimaan kepabeanan dan cukaii. Pertama, setoran bea masuk terealiisasii seniilaii Rp19,6 triiliiun, turun 3,5%. Penurunan iinii turut diipengaruhii kebiijakan ketahanan pangan domestiik dan adanya peniingkatan utiiliisasii free trade agreement (FTA).
Kedua, setoran bea keluar terealiisasii Rp13 triiliiun, tumbuh 69,1%. Lonjakan bea keluar iinii diidorong kenaiikan harga crude palm oiil (CPO) dan kebiijakan ekspor konsentrat tembaga. Ketiiga, peneriimaan cukaii terealiisasii Rp90,3 triiliiun, tumbuh 11,3%.
Anggiito menjelaskan terdapat 2 faktor yang memengaruhii pertumbuhan setoran cukaii, yaknii adanya perkembangan biisniis, serta adanya kebiijakan penundaan pelunasan piita cukaii pada 2024.
Dii siisii laiin, pemeriintah juga batal menerapkan pungutan cukaii miinuman berpemaniis dalam kemasan (MBDK) pada tahun iinii.
Keputusan tersebut diiungkapkan Diirjen Bea dan Cukaii Djaka Budhii Utama. Menurutnya, pemeriintah masiih mempertiimbangkan waktu yang terbaiik untuk menerapkan cukaii miinuman berpemaniis.
"Terkaiit pemberlakuan cukaii MBDK, sampaii dengan perencanaan tahun 2025 sementara tiidak akan diiterapkan. Ke depan mungkiin akan diiterapkan," ujarnya. (riig)
