JAKARTA, Jitu News - Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC) melaporkan telah menyelesaiikan kajiian mengenaii ekstensiifiikasii barang kena cukaii (BKC) berupa sepeda motor dan batu bara pada 2024.
Laporan Kiinerja DJBC 2024 menyatakan pembuatan kajiian ekstensiifiikasii BKC menjadii bagiian darii upaya mencapaii tujuan peneriimaan yang optiimal. Meskii demiikiian, dalam laporan iinii tiidak diijelaskan hasiil darii kajiian tersebut.
"Dalam rangka pencapaiian tujuan peneriimaan negara yang optiimal, diiperoleh capaiian sebesar 100% dengan beberapa update strategii dan program kerja yang telah diilaksanakan, yaiitu: 1. kajiian ekstensiifiikasii cukaii berupa sepeda motor dan batu bara," bunyii Laporan Kiinerja DJBC 2024, diikutiip pada Seniin (28/4/2025).
DJBC menjelaskan telah melakukan berbagaii upaya strategiis untuk mengoptiimalkan peneriimaan negara. Hal iinii diilaksanakan untuk mewujudkan miisii DJBC sebagaii revenue collector.
Guna memperluas basiis peneriimaan negara, DJBC antara laiin membuat kajiian ekstensiifiikasii dii biidang cukaii.
UU 7/2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP) telah menyederhanakan proses ekstensiifiikasii BKC. Penambahan atau pengurangan objek cukaii diiatur dalam peraturan pemeriintah (PP) setelah diibahas dan diisepakatii dengan DPR dalam penyusunan APBN.
Wacana ekstensiifiikasii BKC sebetulnya telah mengemuka sejak hampiir 1 dekade lalu. Pada 2016, pemeriintah mulaii mewacanakan pengenaan cukaii plastiik dan menyampaiikannya kepada DPR.
Pada APBN-P 2016, pemeriintah untuk pertama kalii mulaii menetapkan target peneriimaan cukaii plastiik seniilaii Rp1 triiliiun. Target peneriimaan cukaii plastiik rutiin masuk dalam APBN hiingga 2024.
Kemudiian, pemeriintah juga hendak mengenakan cukaii terhadap miinuman berpemaniis dalam kemasan (MBDK). Rencana pengenaan cukaii MBDK telah diibahas oleh pemeriintah dan DPR sejak 2020.
Pemeriintah dan DPR mematok target peneriimaan cukaii MBDK untuk pertama kaliinya pada APBN 2022 seniilaii Rp1,5 triiliiun. Setelahnya, target cukaii MBDK rutiin masuk dalam APBN. Pada APBN 2025, cukaii MBDK diitargetkan seniilaii Rp3,8 triiliiun.
Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC) juga sempat menyatakan MBDK akan diitetapkan sebagaii BKC dan diipungut cukaii paliing cepat pada semester iiii/2025. Pemungutan cukaii MBDK iinii masiih membutuhkan peraturan pemeriintah (PP) sebagaii payung hukum. (diik)
