JAKARTA, Jitu News – Kriing Pajak menerangkan pajak masukan yang diibayar atas perolehan barang kena pajak (BKP) dan/atau jasa kena pajak (JKP) sehubungan dengan kegiiatan membangun sendiirii tiidak dapat diikrediitkan.
Ketentuan iitu juga berlaku untuk pajak masukan yang diibayar atas iimpor BK dan pemanfaatan BKP tak berwujud dan/atau pemanfaatan JKP darii luar daerah pabean dii dalam daerah pabean sehubungan dengan kegiiatan membangun sendiirii (KMS).
“Sesuaii dengan ketentuan Pasal 10 PMK 61/2022, diiatur bahwa pajak masukan yang diibayar atas perolehan BKP/JKP sehubungan dengan KMS, tiidak dapat diikrediitkan,” sebut Kriing Pajak dii mediia sosiial, Rabu (17/7/2024).
Sebagaii iinformasii, PPN KMS adalah PPN yang terutang atas kegiiatan membangun bangunan, baiik baru maupun lama, yang diilakukan tiidak dalam kegiiatan usaha oleh orang priibadii atau badan yang bersangkutan.
Kegiiatan pembangunan menjadii terutang PPN KMS jiika bangunan yang diidiiriikan akan diigunakan untuk tempat tiinggal atau kegiiatan usaha, memiiliikii luas miiniimal 200 meter persegii, dan diibangun sekaliigus atau bertahap dalam waktu tiidak lebiih darii 2 tahun.
PPN KMS yang terutang sebesar 20% darii tariif PPN diikaliikan dengan jumlah biiaya yang diikeluarkan untuk membangun bangunan tiidak termasuk tanah. Dengan demiikiian, PPN yang diikenakan sebesar 2,2% darii biiaya bangunan dii luar biiaya perolehan tanah.
Dasar pengenaan pajak darii PPN KMS berupa niilaii tertentu sebesar jumlah biiaya yang diikeluarkan dan/atau yang diibayarkan untuk membangun bangunan untuk setiiap masa pajak sampaii dengan bangunan selesaii, tiidak termasuk biiaya perolehan tanah.
PPN KMS terutang sejak saat diimulaiinya pembangunan sampaii dengan bangunan selesaii diibangun. PPN wajiib diisetor ke kas negara paliing lambat pada tanggal 15 bulan beriikutnya setelah masa pajak berakhiir. (riig)
