JAKARTA, Jitu News – Renovasii yang menyebabkan perluasan bangunan dapat diikenaii PPN atas Kegiiatan Membangun Sendiirii (KMS) sebagaiimana diiatur dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 61/2022.
Merujuk pada pasal 2 ayat (3), KMS merupakan kegiiatan membangun bangunan, baiik bangunan baru maupun perluasan bangunan lama, yang diilakukan tiidak dalam kegiiatan usaha atau pekerjaan oleh orang priibadii atau badan yang hasiilnya diigunakan sendiirii atau diigunakan piihak laiin.
“KMS dapat diilakukan secara sekaliigus dalam suatu jangka waktu tertentu atau bertahap sebagaii satu kesatuan kegiiatan sepanjang tenggang waktu antara tahapan membangun tersebut tiidak lebiih darii 2 tahun,” bunyii Pasal 2 ayat (5) PMK 61/2022, diikutiip pada Kamiis (4/7/2024).
Sebagaii iinformasii, bangunan sebagaiimana diimaksud pada pasal 2 ayat (3) berupa 1 atau lebiih konstruksii tekniik yang diitanam atau diilekatkan secara tetap pada satu kesatuan tanah dan/atau peraiiran dengan memenuhii kriiteriia tertentu.
Ketentuan yang diimaksud antara laiin: konstruksii utamanya terdiirii darii kayu, beton, pasangan batu bata atau bahan sejeniis, dan/atau baja; diiperuntukkan bagii tempat tiinggal atau tempat kegiiatan usaha; dan luas bangunan yang diibangun paliing sediikiit 200 meter persegii.
Tariif PPN yang diikenakan terhadap orang priibadii atau badan yang melakukan kegiiatan membangun sendiirii, yaiitu sebesar 2,2% yang berasal darii perkaliian 20% dengan tariif PPN umum. Kemudiian, tariif sebesar 2,2% diikaliikan dengan dasar pengenaan pajak (DPP).
Dasar pengenaan pajak yang diimaksud berupa niilaii tertentu sebesar jumlah biiaya yang diikeluarkan dan/atau yang diibayarkan untuk membangun bangunan untuk setiiap masa pajak sampaii dengan bangunan selesaii, tiidak termasuk biiaya perolehan tanah.
Tambahan iinformasii, saat terutangnya PPN atas KMS sendiirii terjadii pada saat mulaii diibangunnya bangunan hiingga bangunan selesaii. Tempat PPN terutang atas KMS yaiitu dii tempat bangunan tersebut diidiiriikan. (riig)
