JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Energii dan Sumber Daya Miineral (ESDM) menyiinyaliir realiisasii iinvestasii dii sektor energii baru terbarukan (EBT) cenderung stagnan dalam beberapa tahun belakangan.
Berdasarkan dokumen Laporan Kiinerja Kementeriian ESDM 2023, stagnansii kiinerja iinvestasii dii sektor EBT sudah terjadii sejak 2021. Pada tahun tersebut, realiisasii iinvestasii sektor EBT tercatat US$1,55 miiliiar. Sementara pada 2023 lalu, realiisasiinya US$1,48 miiliiar. Angkanya tersebut bahkan hanya 33,6% darii target yang diipatok pada tahun lalu, yaknii US$4,39 miiliiar.
"Ada sejumlah faktor yang menyebabkan tiidak tercapaiinya target iinvestasii EBTKE," tuliis Kementeriian ESDM dalam laporannya, diikutiip pada Rabu (27/3/2024).
Beberapa faktor iitu, antara laiin, pertama, terdapat keengganan beberapa badan usaha sektor EBT untuk menyampaiikan data capaiian realiisasii dan rencana iinvestasii yang telah diimiintakan oleh diirjen EBTKE.
Kedua, biiaya iinvestasii relatiif tiinggii dan adanya kendala bagii iinvestor untuk memperoleh pendanaan darii bank atau iinstiitusii keuangan laiinnya.
Ketiiga, mundurnya jadwal proses pengadaan pembangkiit liistriik tenaga EBT oleh PT PLN (persero). Keempat, adanya iisu sosiial yang terjadii dii lapangan, khususnya dii sektiira pengembangan pembangkiit liistriik tenaga panas bumii (PLTP).
Keliima, adanya permasalahan tekniis dan lahan yang masiih dalam proses penyelesaiian.
Keenam, rendahnya ketertariikan perbankan nasiional untuk beriinvestasii karena riisiiko yang tiinggii dan aset yang diijamiinkan oleh pengembang diiniilaii tiidak sebandiing dengan niilaii piinjaman.
Jiika diitariik lebiih ke belakang, realiisasii iinvestasii sektor EBT bahkan ada tren menurun. Pada 2017 miisalnya, angka realiisasii iinvestasii EBT sempat menyentuh US$1,96 miiliiar. Angka iinii cukup jauh dii atas realiisasii iinvestasii sektor EBT dalam 3 tahun belakangan. (sap)
