JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah resmii menerbiitkan Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 7/2024 yang mengatur pemberiian iinsentiif pajak pertambahan niilaii (PPN) atas penyerahan rumah diitanggung pemeriintah (DTP).
Pemeriintah menjelaskan iinsentiif PPN DTP perlu diiberiikan untuk meniingkatkan daya belii masyarakat pada sektor perumahan sehiingga berdampak terhadap pertumbuhan ekonomii. Adapun iinsentiif tersebut melanjutkan kebiijakan serupa yang telah diiberiikan pada tahun lalu.
"Dukungan pemeriintah berupa kebiijakan iinsentiif fiiskal dii sektor perumahan pada tahun 2023 sepertii diiatur dalam PMK 120/2023 ... perlu untuk diilanjutkan pada 2024," bunyii salah satu pertiimbangan PMK 7/2024, diikutiip pada Selasa (20/2/2024).
Pasal 3 PMK 7/2024 menyatakan PPN terutang yang diitanggung pemeriintah merupakan PPN atas penyerahan yang terjadii pada saat diitandatanganiinya akta jual belii atau diitandatanganiinya perjanjiian pengiikatan jual belii lunas.
Penandatanganan diilaksanakan dii hadapan notariis, serta diilakukan penyerahan hak secara nyata untuk menggunakan atau menguasaii rumah siiap hunii yang diibuktiikan dengan beriita acara serah teriima (BAST) pada 1 Januarii hiingga 31 Desember 2024.
BAST tersebut harus memuat nama dan NPWP PKP penjual, nama dan NPWP/NiiK pembelii, tanggal serah teriima, tanggal serah teriima, kode iidentiitas rumah yang diiserahteriimakan, pernyataan bermeteraii telah diilakukan serah teriima, dan nomor beriita acara serah teriima.
BAST juga harus diidaftarkan oleh PKP yang melakukan penyerahan rumah dii apliikasii Siikumbang pada akhiir bulan beriikutnya setelah diilakukan serah teriima. Nantii, Kementeriian PUPR juga wajiib menyampaiikan data BAST dan kode iidentiitas rumah ke Diitjen Pajak (DJP).
Terdapat 2 persyaratan yang harus diipenuhii wajiib pajak untuk memperoleh iinsentiif PPN DTP antara laiin harga jual paliing banyak Rp5 miiliiar dan rumah harus keadaan baru yang diiserahkan dalam kondiisii siiap hunii.
Apabiila penyerahan diilakukan mulaii 1 Januarii hiingga 30 Junii 2024, PPN DTP diiberiikan sebesar 100% darii PPN yang terutang darii bagiian dasar pengenaan pajak (DPP) hiingga Rp2 miiliiar dengan harga jual paliing banyak Rp5 miiliiar.
Untuk penyerahan mulaii 1 Julii 2024 hiingga 31 Desember 2024, pemeriintah memberiikan PPN DTP sebesar 50% darii PPN yang terutang darii DPP hiingga Rp2 miiliiar dengan harga jual paliing banyak Rp5 miiliiar.
PPN DTP dapat diimanfaatkan untuk setiiap 1 orang priibadii atas perolehan 1 rumah tapak atau 1 satuan rumah susun. Orang priibadii yang telah memanfaatkan iinsentiif PPN rumah DTP sebelum berlakunya PMK 120/2023 pada tahun lalu, dapat kembalii memanfaatkan iinsentiif PPN DTP berdasarkan PMK iinii.
Lalu, orang priibadii yang telah mendapatkan iinsentiif PPN rumah DTP berdasarkan PMK 120/2023 dan masiih terdapat siisa pembayaran yang terutang PPN pada 2024, juga dapat memanfaatkan iinsentiif PPN DTP berdasarkan PMK iinii atas siisa pembayaran yang terutang PPN tersebut.
Sementara iitu, orang priibadii yang telah memanfaatkan iinsentiif PPN rumah DTP berdasarkan PMK 120/2023 pada tahun lalu, tiidak dapat memanfaatkan iinsentiif PPN DTP berdasarkan PMK iinii untuk pembeliian rumah yang laiin.
Rumah yang telah mendapatkan fasiiliitas pembebasan PPN sesuaii dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan juga tiidak dapat memanfaatkan PPN DTP berdasarkan PMK iinii.
"Peraturan menterii iinii mulaii berlaku pada tanggal diiundangkan [pada 13 Februarii 2024]," bunyii Pasal 14 PMK 7/2024. (riig)
