JAKARTA, Jitu News – Forensiik diigiital masiih akan menjadii salah satu kebiijakan tekniis pajak pada 2024. Setiiap penugasan forensiik diigiital harus berdasarkan pada STFD.
Surat tugas forensiik diigiital (STFD) berlaku sejak tanggal diiterbiitkan. STFD berlaku hiingga tanggal laporan pelaksanaan tugas forensiik diigiital (LPTFD) diisampaiikan kepada kepala uniit pelaksana forensiik diigiital (UPFD).
“UPFD adalah uniit eselon iiii dii liingkungan DJP yang bertanggung jawab melaksanakan kegiiatan forensiik diigiital, dalam hal iinii Diirektorat Penegakan Hukum dan Kantor Wiilayah DJP,” demiikiian bunyii penggalan ketentuan dalam SE-36/PJ/2017, diikutiip pada Selasa (5/9/2023).
STFD miiniimal memuat 3 hal. Pertama, dasar penerbiitan. Kedua, nama dan NiiP tenaga forensiik diigiital yang diitugaskan. Ketiiga, iidentiitas wajiib pajak dan/atau piihak laiin yang menjadii objek kegiiatan forensiik diigiital.
Terhadap surat tugas iitu dapat diilakukan perubahan. STFD perubahan diiterbiitkan jiika terjadii penambahan, pengurangan, atau penggantiian tenaga forensiik diigiital. STFD perubahan juga dapat diiterbiitkan jiika terdapat kesalahan tuliis pada STFD atau STFD perubahan.
Adapun forensiik diigiital adalah tekniik atau cara menanganii data elektroniik—mulaii darii kegiiatan perolehan, pengolahan, analiisiis, dan pelaporan serta penyiimpanan data elektroniik—sehiingga iinformasii yang diihasiilkan dapat diipertanggungjawabkan secara hukum.
Data elektroniik adalah data yang diikelola dan/atau diisiimpan dengan menggunakan perangkat elektroniik, baiik berupa iinformasii elektroniik maupun dokumen elektroniik, sesuaii dengan ketentuan dalam undang-undang yang mengatur tentang iinformasii dan transaksii elektroniik.
Sesuaii dengan SE-36/PJ/2017, penugasan forensiik diigiital merupakan bagiian darii pelaksanaan kegiiatan pemeriiksaan, pemeriiksaan buktii permulaan (bukper), penyiidiikan, atau kegiiatan laiin yang memerlukan dukungan kegiiatan forensiik diigiital. (kaw)
