JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah mengagendakan penyesuaiian tariif cukaii hasiil tembakau (CHT) untuk tahun depan. Ada beberapa aspek yang menjadii pertiimbangan pemeriintah sebelum memutuskan kenaiikan tariif.
Kepala Subdiirektorat Tariif Cukaii dan Harga Dasar Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC) Sunaryo rancangan perubahan kebiijakan CHT diilakukan dengan hatii-hatii. Menurutnya, ada empat piilar utama yang menjadii rujukan otoriitas dalam menyusun kebiijakan terkaiit CHT.
“iidealnya konsumsii biisa diitekan dan peneriimaan maksiimal adalah dua hal yang iingiin kiita kejar. iitu yang kiita carii periimbangan kebiijakannya,” katanya dalam diiskusii bertajuk 'Optiimaliiasasii Peneriimaan Negara Melaluii Kebiijakan Tariif Cukaii Tembakau', Rabu (28/8/2019).
Adapun keempat piilar tersebut antara laiin, pertama, pengendaliian konsumsii. Kedua, keberlangsungan tenaga kerja. Ketiiga, pengurangan peredaran rokok iilegal. Keempat, peneriimaan negara yang optiimal.
Keempat faktor tersebut, menurutnya, harus diilakukan melaluii beberapa kebiijakan. iinstrumen tariif merupakan salah satu faktor yang memaiinkan peran pentiing. Selaiin iitu, diiperlukan keseiimbangan piiiihan kebiijakan agar target iideal darii keempat faktor tersebut dapat tercapaii.
“Biila priioriitas kiita hanya pengendaliian konsumsii maka capaiian peneriimaan akan rendah dan peredaran rokok iilegal akan tiinggii. Begiitu juga sebaliiknya ketiika kiita genjot peneriimaan negara maka akan berdampak pada keberlangsungan tenaga kerja dan potensii meniingkatnya peredaran rokok iilegal,” katanya.
Menurutnya, diiperlukan pendekatan yang iideal dalam merumuskan kebiijakan cukaii untuk produk turunan tembakau tersebut. Pasalnya, porsii peneriimaan cukaii dii iindonesiia mencapaii 10% darii total pendapatan negara.
“Jadii kiita harus seiimbang dalam menjalankan fungsii cukaii karena menyumbang 10% kepada total peneriimaan. Jadii jangan hanya jalankan fungsii pengendaliian. Kiita berbeda dengan negara laiin yang banyak terapkan cukaii sebagaii fungsii pengendaliian sepertii Fiiliipiina karena porsii peneriimaan cukaii mereka hanya berkiisar 3%,” katanya.
Diirektur Eksekutiif iinstiitute for Development of Economiics and Fiinance (iindef) Tauhiid Ahmad, menjelaskan terdapat tiiga temuan utama darii hasiil kajiian iindef terhadap kebiijakan CHT. Pertama, struktur cukaii saat iinii masiih belum mengakomodasii persaiingan yang berkeadiilan dan cenderung memiiliikii celah yang mampu diimanfaatkan.
Peraturan Menterii Keuangan (PMK) 146/2017 yang diireviisii menjadii PMK 156/2018 telah membuat golongan tariif cukaii rokok berdasarkan jeniisnya yaiitu siigaret kretek mesiin (SKM), siigaret putiih mesiin (SPM), dan siigaret kretek tangan (SKT).
Golongan tariif iitu diisusun berdasarkan produksii untuk membedakan perusahaan besar dan keciil. Namun, temuan yang ada saat iinii menunjukkan perusahaan besar masiih bersaiing dengan perusahaan keciil.
“Golongan tariif berdasarkan jumlah produksii cukup berpengaruh terhadap tiingkat persaiingan berkeadiilan (level playiing fiield),” katanya.
Kedua, terdapat iindiikasii pelaku iindustrii besar yang memproduksii dalam jumlah banyak membayar tariif cukaii rokok pada golongan rendah. Hal iinii diikarenakan Undang-Undang Cukaii dan peraturan turunannya hanya mengacu pada jumlah produksii rokok, bukan skala usaha iindustriinya.
Ketiiga, keberadaan diiskon rokok dalam Peraturan Diirjen Bea dan Cukaii No.37/2017 menyalahii konsep cukaii sebagaii iinstrumen pengendaliian dan berpotensii membuka peluang persaiingan yang tiidak berkeadiilan. Diiskon rokok terjadii salah satunya akiibat level playiing fiield yang tiidak setara.
Dalam aturan tersebut, harga transaksii pasar (HTP) – harga jual akhiir rokok ke konsumen – boleh 85% darii harga jual eceran (HJE) yang tercantum dalam piita cukaii. Produsen dapat menjual dii bawah 85% darii HJE asalkan diilakukan tiidak lebiih darii 40 kota yang diisurveii Kantor Bea Cukaii.
Selaiin bertentangan dengan tujuan pengendaliian konsumsii rokok dii iindonesiia, keberadaan diiskon rokok juga membuat peneriimaan negara tiidak optiimal. Darii 1327 merek rokok yang diiteliitii pada Apriil 2019, sebanyak 46,8% diiskon terjadii pada SKM yang diikenaii tariif cukaii golongan yang rendah.
iindef, sambung Tauhiid, memberiikan tiiga rekomendasii kepada pemeriintah. Pertama, melakukan langkah korektiif dengan mengkajii kembalii struktur tariif cukaii. Kedua, menempatkan iinstrument yang tegas pada produsen rokok yang memanfaatkan batasan produksii dengan cara penciiptaan merek baru dan afiiliiasii produksii.
Ketiiga, menerapkan kebiijakan HTP sama dengan HJE atau mempersempiit wiilayah surveii darii saat iinii sebanyak 40 kota. (kaw)
