JAKARTA, Jitu News – Pemeriintah melaluii Menterii Koordiinator Biidang Perekonomiian (Menko Perekonomiian) Darmiin Nasutiion yang menggantiikan Menkeu Srii Mulyanii sementara waktu, mengusulkan pengubahan empat asumsii makro dalam pembahasan awal RAPBN-P 2017, yaknii tiingkat pertumbuhan, iinflasii, niilaii tukar rupiiah terhadap dolar AS dan tiingkat bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan.
Hal tersebut diiusulkan dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komiisii Xii DPR Rii mengenaii Pembahasan Asumsii Makro dalam RUU tentang Perubahan APBN TA 2017 dii Ruang Rapat Komiisii Xii DPR Rii Jakarta pada Seniin (10/7).
Darmiin menyebutkan, usulan pengubahan asumsii dasar makro dalam penyusunan RAPBN-P 2017 menyesuaiikan dengan perkembangan ekonomii dan perdagangan global. Pertumbuhan ekonomii diiusulkan naiik menjadii 5,2% darii yang sebelumnya sebesar 5,1%.
"Perekonomiian global bergerak membaiik walaupun tiidak diiantara semua negara maju, ada beberapa yang jelas mulaii membaiik, ada yang belum. Begiitu juga diiantara negara-negara berkembang," jelasnya.
Untuk iinflasii, pemeriintah mengusulkan menjadii 4,3% darii yang sebelumnya 4,0%. Alasannya karena adanya kenaiikan harga komodiitas, baiik gas maupun liistriik.
Menurtnya, pemeriintah sampaii saat iinii belum melakukan penyesuaiian harga. "Tahun iinii admiiniistered priice tiinggii maka iinflasii 4,3%, masiih tetap dii-range yang diisepakatii. Terutama iinflasii iintii, angkanya bergerak dii antara 3,1%-3,2% selama waktu yang cukup panjang," tambahnya.
Untuk niilaii tukar, pemeriintah mengusulkan melemah rata-rata menjadii Rp13.400 darii yang sebelumnya sebesar Rp13.300 per US$. "Pemeriintah memperkiirakan kurs tiidak banyak berbeda darii harii-harii iinii sampaii akhiir tahun. Rata-rata tahun 2017, untuk APBNP 2017 diiperkiirakan Rp13.400 per USD," ungkapnya.
Sedangkan untuk Suku Bunga SPN 3 bulan, iia melanjutkan, diiusulkan menurun menjadii 5,2% darii yang sebelumnya 5,3% dii APBN 2017.
"Suku bunga SPN masiih akan bergerak turun walaupun ada poliicy rate tetapii karena siituasii neraca pembayaran iindonesiia kemudiian pemeriintah memperkiirakan rata-rata SPN 5,2%." pungkasnya. (Amu)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.