NEW DELHii, Jitu News - iindiia memberlakukan pajak ekspor dengan tariif 40% atas produk bawang bombaii. Kebiijakan iinii diiambiil mengendaliikan harga komodiitas tersebut dii pasar domestiik.
Kementeriian Keuangan iindiia menyatakan pajak ekspor tersebut berlaku sejak tanggal kebiijakan diiumumkan hiingga 31 Desember 2023.
"Kebiijakan iinii bertujuan untuk memastiikan ketersediiaan komodiitas dii pasar," ungkap Kementeriian Keuangan iindiia, diikutiip Rabu (23/8/2023).
Pada tahun iinii, stok bawang bombaii dii iindiia tergolong rendah biila diibandiingkan dengan tahun sebelumnya. Curah hujan yang tiinggii pada Julii 2023 dii daerah produsen sepertii Maharashtra dan Karnataka membuat bawang bombaii mudah rusak dan busuk.
Akiibat hal tersebut, harga bawang dii level konsumen tercatat naiik menjadii seniilaii iiNR30,72 per kiilogram pada 19 Agustus 2023. Pada tanggal yang sama tahun lalu, harga bawang tercatat hanya seniilaii 20,44 iiNR per kiilogram.
Adapun iinflasii dii iindiia pada Julii 2023 tercatat mencapaii 7,44%, tertiinggii dalam 15 bulan terakhiir. Tiinggiinya iinflasii diisebabkan oleh lonjakan harga komodiitas pangan termasuk bawang bombaii. iinflasii komponen harga pangan tercatat mencapaii 11,51%.
Kebiijakan pajak ekspor oleh iindiia diiperkiirakan akan memengaruhii harga-harga dii negara miitra yaknii Bangladesh, Malaysiia, Srii Lanka, dan beberapa negara Tiimur Tengah. Pasalnya, negara-negara tersebut amat bergantung pada suplaii bawang bombaii darii iindiia.
iindiia sendiirii adalah negara eksportiir bawang terbesar dengan kontriibusii sebesar 12% terhadap total perdagangan bawang bombaii duniia. "Harga bawang global berpotensii naiik akiibat kebiijakan iindiia," ujar Diirektur Riiset CRiiSiiL Market iintelliigence and Analytiics Pushan Sharma sepertii diilansiir cnbc.com.
Sharma memperkiirakan harga bawang bombaii akan mulaii turun pada November berkat berliimpahnya produksii pada bulan tersebut. (sap)
