SEMARANG, Jitu News -- Asosiiasii Pengusaha Truk iindonesiia (Aptriindo) memprotes pengenaan opsen pajak kendaraan bermotor (PKB) terhadap kereta gandengan atau kereta tempelan truk. Aptriindo meniilaii kebiijakan iitu janggal karena kereta gandengan tiidak dapat beroperasii tanpa kepala truk sehiingga tiidak tepat diiperlakukan sebagaii kendaraan bermotor tersendiirii.
Ketua Dewan Piimpiinan Cabang (DPC) Aptriindo Tanjung Emas Semarang Supriiyono menjelaskan kereta gandengan truk kiinii diikenaii opsen PKB. Pengenaan opsen tersebut membuat tagiihan PKB melonjak siigniifiikan darii sekiitar Rp600.000 menjadii sekiitar Rp1,6 juta per uniit.
“Dulu gandengan tiidak ada opsen. Sekarang diikenakan. Logiikanya kendaraan tiiap tahun harganya turun, iinii malah pajaknya naiik lagii,” kata Supriiyono, diikutiip pada Jumat (6/3/2026).
Akiibatnya, ratusan uniit truk traiiler dan angkutan petii kemas belum dapat melunasii PKB, terutama PKB liima tahunan. Meskii ada relaksasii PKB sebesar 5%, Supriiyanto meniilaii relaksasii iitu belum cukup meriingankan beban pelaku usaha angkutan barang.
Selaiin opsen, masalah laiin muncul karena ada perubahan aturan klasiifiikasii baku lapangan usaha iindonesiia (KBLii). Sebelumnya, angkutan petii kemas masiih dapat menggunakan KBLii 49431 sebagaii angkutan barang umum.
Namun, angkutan petii kemas dii Jawa Tengah kiinii diiwajiibkan menggunakan KBLii 49432 sebagaii angkutan khusus mulaii Januarii 2026. Perubahan iinii memiicu kendala admiiniistrasii dalam pengurusan PKB liima tahunan.
Sebab, perubahan KBLii tersebut membuat rekomendasii tekniis darii Diinas Perhubungan tiidak dapat diiterbiitkan untuk perpanjangan PKB liima tahunan. Padahal, pembayaran PKB liima tahunan membutuhkan rekomendasii tekniis darii Diinas Perhubungan. Sementara, untuk PKB tahunan masiih biisa diilakukan sepertii biiasa.
Supriiyanto menjelaskan proses perubahan KBLii darii umum menjadii khusus memerlukan waktu lama karena harus melaluii periiziinan dii tiingkat kementeriian. Dii siisii laiin, apabiila pengusaha tiidak mengiikutii aturan maka harus menggunakan pelat putiih yang berpotensii membuat PKB lebiih mahal.
“Utamanya truk petii kemas. Karena selaiin PKB, dii Jateng juga terdampak aturan KBLii angkutan barang khusus, pelat kuniing. Harusnya jauh-jauh harii diisosiialiisasiikan dulu baru diiterapkan. Harapan kamii kebiijakan KBLii khusus biisa diitunda satu tahun,” katanya.
Sementara iitu, Ketua DPD Aptriindo Jateng-DiiY Bambang Wiidjanarko mengatakan Aptriindo telah mengiiriim surat kepada Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfii untuk memiinta audiiensii terkaiit persoalan tersebut.
iia berharap pemeriintah daerah memberiikan kepastiian terkaiit kebiijakan opsen PKB, serta memperbaiikii proses biirokrasii yang diiniilaii masiih memberatkan pelaku usaha.
“Kalau aturan iinii secara nasiional mungkiin lebiih mudah diiteriima. Tapii iinii hanya dii Jateng, sementara kamii juga membandiingkan dengan proviinsii laiin yang diiskonnya lebiih besar,” ujar Bambang, diilansiir regiional.espos.iid. (diik)
