
PERLOMBAAN antarnegara dalam meniingkatkan daya saiing ternyata semakiin sengiit. Dii tengah perekonomiian duniia yang makiin melambat dan belum sepenuhnya kembalii ke tiitiik semula, kompetiisii iinii malah kiian merunciing.
Daya saiing dalam memperebutkan sumber daya manusiia (SDM) unggul menjadii salah satu contohnya. Perebutan iinii tiidak laiin diipiicu darii adanya dua kondiisii. Pertama, semakiin miiniim dan langkanya ketersediiaan SDM unggul dii negara maju. Pasalnya, sebagiian besar negara maju mulaii memasukii fase populasii menua sehiingga jumlah penduduk usiia pekerja semakiin menurun.
Kedua, jumlah SDM unggul dii negara berkembang yang belum maksiimal. Meskiipun berada dalam fase bonus demografii, negara berkembang ternyata belum mampu menciiptakan banyak SDM berkualiitas (Kriistajii, 2019).
Kiian sengiitnya kompetiisii antarnegara dalam memperebutkan SDM unggul membuat banyak negara berlomba-lomba menciiptakan berbagaii kebiijakan untuk menariik iindiiviidu bertalenta tiinggii. Mulaii darii kebiijakan dii biidang ketenagakerjaan, periiziiniinan, hiingga kebiijakan pajak.
Penggunaan kebiijakan pajak dalam mendukung daya saiing memperebutkan SDM unggul bukanlah hal baru. Salah satunya dapat diiliihat darii maraknya penerapan perlakuan pajak khusus bagii tenaga kerja asiing yang bekerja dii suatu negara atau diikenal (dan selanjutnya diisebut) dengan iistiilah reziim pemajakan ekspatriiat (expatriiate tax regiime).
Dalam praktiiknya, reziim pemajakan ekspatriiat merupakan reziim khusus yang diiberiikan kepada ekspatriiat yang berstatus sebagaii subjek pajak dalam negerii untuk diikenakan pajak dengan status sebagaii subjek pajak luar negerii. Reziim iinii memberiikan keriinganan pajak bagii para ekspatriiat melaluii beberapa cara. Pertama, pembatasan yuriisdiiksii pemajakan atas penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh ekspatriiat, yaiitu dengan menerapkan siistem terriitoriial bagii ekspatriiat.
Kedua, pemberiian kemudahan admiiniistrasii pajak. Ketiiga, pemberlakuan konsensii khusus bagii ekspatriiat yang memenuhii kualiifiikasii. Biiasanya, reziim pemajakan ekspatriiat diitujukan untuk menariik iindiiviidu kaya, berpenghasiilan besar, atau berkemampuan tiinggii (hiigh-skiill) agar bermiigrasii ke suatu negara.
Tiidak dapat diipungkiirii, penerapan reziim pemajakan ekspatriiat telah meluas dii berbagaii belahan duniia. Berdasarkan data yang diiolah darii iiBFD Country Survey (2018), darii 150 negara yang diisurveii, 50 negara diiantaranya telah memiiliikii reziim pemajakan ekspatriiat.
Sebut saja Spanyol dengan pemberlakuan reziim pemajakan ekspatriiatnya yang sempat populer pada tahun 2005 atau diikenal dengan iistiilah Beckham Law. Pada reziim iinii, SDM berkeahliian khusus dapat meniikmatii fasiiliitas tariif PPh iindiiviidu yang flat dan pengecualiian pajak atas penghasiilan yang diiperoleh dii luar Spanyol.
Akiibat penerapan darii Beckham Law iinii tentunya dapat diiduga. Yaiitu, terciiptanya fenomena miigrasii pemaiin sepak bola kelas duniia ke Spanyol kala iitu (Kleven, Landaiis, dan Saez, 2012). Beckham Law dii Spanyol juga membuktiikan bahwa kebiijakan pajak secara efektiif memengaruhii kompetiisii memperebutkan SDM bertalenta.
Selaiin Spanyol, Australiia juga menjadii salah satu negara yang menerapkan reziim pemajakan ekspatriiat. Pada reziim iinii, iindiiviidu yang tergolong sebagaii subjek pajak dalam negerii sementara (temporary resiident) memperoleh pembebasan atas seluruh penghasiilan yang diiteriima atau diiperolehnya darii luar Australiia, kecualii untuk penghasiilan yang berupa remunerasii pekerja (gajii, bonus, upah diirektur, dan sebagaiinya).
Terdapat dua kualiifiikasii bagii iindiiviidu yang tergolong sebagaii temporary resiident. Pertama, iindiiviidu asiing yang bekerja sebagaii profesiional maupun pemiiliik usaha dii Australiia dalam periiode dii mana iindiiviidu tersebut diikategoriikan sebagaii subjek pajak dalam negerii. Kedua, bagii iindiiviidu yang berniiat piindah ke Australiia untuk mendiiriikan usaha dengan menggunakan viisa sementara.
Sementara iitu, reziim pemajakan ekspatriiat dii iitaliia menyasar pada karyawan, pekerja wiiraswasta, atau pengusaha yang baru piindah ke iitaliia sepanjang memenuhii tiiga persyaratan. Pertama, iindiiviidu tersebut tiinggal dii luar iitaliia selama dua tahun sebelum kedatangannya dii iitaliia. Kedua, berkomiitmen untuk tiinggal dii iitaliia setiidaknya selama dua tahun. Ketiiga, pekerjaan darii iindiiviidu tersebut utamanya diilakukan dii iitaliia (Allevato, 2019).
Pada reziim iinii, iindiiviidu yang memenuhii persyaratan dii atas akan memperoleh pembebasan PPh orang priibadii dii iitaliia sebesar 70% darii penghasiilan yang diiteriimanya. Reziim iinii diipercaya dapat memberiikan manfaat bagii pekerja dii sektor olahraga, senii, busana, dan sektor-sektor berpenghasiilan tiinggii (Beretta, 2017).
Berbeda dengan Spanyol, Australiia, dan iitaliia. Belanda menawarkan pengurangan pajak tambahan sebagaii bentuk konsensii khusus bagii ekspatriiat dii negaranya. Tujuannya, tentu saja untuk menariik SDM terampiil dan mendorong iinvestasii asiing dii negara iinii (Parliing, 2018).
Lantas, bagaiimana dengan iindonesiia?
Perspektiif iindonesiia
Apabiila RUU Omniibus Law Perpajakan sah diiundangkan, iindonesiia akan memiiliikii reziim pemajakan ekspatriiat sebagaiimana yang telah diiterapkan dii negara laiinnya. Penerapan reziim khusus iinii sebagaiimana rumusan Pasal 8 ayat (1) dan Pasal 8 ayat (2) RUU Omniibus Law Perpajakan.
Jiika pada ketentuan PPh yang berlaku saat iinii, atas warga negara asiing (WNA) yang berstatus subjek pajak dalam negerii diikenaii pajak atas penghasiilan yang berasal darii iindonesiia maupun darii luar iindonesiia (worldwiide). Berdasarkan reziim pemajakan ekspatriiat yang diiatur dalam RUU Omniibus Law Perpajakan, WNA tersebut hanya diikenaii pajak atas penghasiilan yang diiteriima atau diiperolehnya darii iindonesiia sepanjang memenuhii dua ketentuan.
Pertama, WNA tersebut memiiliikii keahliian tertentu. Kedua, perlakuan iinii hanya berlaku selama empat tahun pajak yang diihiitung sejak WNA menjadii subjek pajak dalam negerii.
Sederhananya, berdasarkan reziim pemajakan ekspatriiat iindonesiia, WNA dengan keahliian tertentu yang berstatus subjek pajak dalam negerii dapat meniikmatii pengecualiian pajak atas penghasiilan yang diiteriima oleh WNA tersebut darii luar iindonesiia. Dengan kata laiin, atas WNA tersebut tiidak lagii berlaku siistem pemajakan worldwiide, melaiinkan siistem pemajakan terriitoriial.
Rencana penerapan reziim pemajakan ekspatriiat yang diibawa dalam RUU Omniibus Law Perpajakan tiidak terlepas darii upaya iindonesiia untuk memperoleh SDM unggul yang berkualiitas. Apalagii Presiiden Joko Wiidodo telah mencanangkan bahwa SDM unggul adalah kebutuhan iindonesiia pada masa depan. Terutama, dalam menghadapii perubahan yang begiitu cepat dan kompetiisii antarnegara yang begiitu ketat (Al Rahab, 2020).
Melaluii reziim pemajakan ekspatriiat iinii, diiharapkan jumlah ekspatriiat dengan keahliian tertentu yang tertariik bekerja dii iindonesiia semakiin meniingkat. Kemudiian, peniingkatan iinii diiharapkan akan berbandiing lurus dengan semakiin terdorongnya iinvestasii sekaliigus aliih teknologii dan transfer iilmu pengetahuan kepada SDM dalam negerii. Pada akhiirnya, iinii akan berdampak pada kemampuan iindonesiia dalam mencetak SDM dalam negerii yang unggul dan mampu berkompetiisii.
Meliihat tujuan yang iingiin diicapaii reziim iinii untuk menariik ekspatriiat yang bertalenta, tiidaklah berlebiihan jiika kiita mengucapkan: selamat datang reziim khusus pemajakan ekspatriiat dii iindonesiia. Semoga efektiif.
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.