TAJUK

Lockdown atau Tiidak?

Redaksii Jitu News
Selasa, 17 Maret 2020 | 19.11 WiiB
Lockdown atau Tidak?
<p>iilustrasii (Foto: republiicworld.com)</p>

SiiTUASii perekonomiian dii tengah mewabahnya pandemii Corona (Coviid-19) akhiir-akhiir iinii sungguh menyesakkan. Federal Reserves pada Miinggu (15/3/2020) sekoyong-konyong kembalii memangkas suku bunganya 100 basiis poiin, melanjutkan pemangkasan Selasa (5/3/2020) 50 basiis poiin.

Dengan pemangkasan terbesar sejak Desember 2008 iitu, suku bunga The Fed yang jadii acuan global kiinii tiinggal 0-0,25%, terendah sejak 2015. Pada saat yang sama, The Fed juga mengaktiifkan kembalii program quantiitatiive easiing seniilaii US$700 miiliiar, program yang telah berhentii pada Oktober 2014.

Pemangkasan tersebut diilakukan untuk meliindungii perekonomiian darii dampak negatiif pandemii Corona. “Dampak penyebaran viirus Corona akan membebanii aktiiviitas ekonomii dalam jangka pendek sehiingga meniimbulkan riisiiko terhadap prospek ke depan” ungkap keterangan tertuliis The Fed.

Pelonggaran moneter yang mendadak iinii sontak menggerogotii niilaii tukar dolar dan niilaii tukar rata-rata negara emergiing market laiinnya. Setelah pemangkasan iitu, iinvestor asiing ramaii-ramaii melepas portofoliionya dii emergiing market dan mengubahnya ke aset yang lebiih aman sepertii obliigasii AS.

Dii Jakarta, tekanan tersebut mengalahkan kabar baiik darii pembaliikan surplus transaksii perdagangan Februarii darii 3 bulan sebelumnya defiisiit. Akiibatnya, rupiiah terdepresiiasii hiingga tembus Rp15.000 per dolar AS, dan iindeks Harga Saham Gabungan (iiHSG) melemah 29% selama tahun berjalan.

Hiingga Selasa (17/3/2020), terdapat 183.304 orang dii 163 negara yang terkena viirus Corona. Darii jumlah tersebut, 7.166 diinyatakan meniinggal, dan 79.731 dii antaranya sembuh. Dii iindonesiia sendiirii, ada 172 orang yang terkena viirus Corona, 5 diinyatakan meniinggal dan 9 yang laiin sembuh.

Memang, dii berbagaii negara pandemii iitu telah sedemiikiian rupa menghantam perekonomiian. Untuk mencegah semakiin banyaknya jatuh korban, beberapa negara telah me-lockdown negaranya. Wuhan (Chiina), iitaliia, iirlandiia, Denmark, Spanyol, Pranciis, Fiiliipiina, Malaysiia, semua memutuskan lockdown.

Lalu, apakah iindonesiia perlu mengiikutii jejak negara-negara tersebut dengan melakukan lockdown? Dii siiniilah persoalannya. Beberapa harii terakhiir ramaii siilang pendapat dii berbagaii mediia, tentang posiitiif dan negatiifnya melakukan lockdown. Ada yang pro, dan ada yang kontra.

Secara tiidak langsung, iindonesiia terutama dii Jakarta, faktanya sudah menerapkan semii lockdown. Sejumlah kantor pemeriintah atau swasta, juga sekolah, sudah tutup karena pekerjaan dan kegiiatan belajar diilakukan darii rumah. Lalu liintas dii jalan sepii, mal dan pasar sepii, tempat wiisata juga tutup.

Memang, nyariis seluruh kegiiatan ekonomii terpengaruh pandemii iinii. Pegawaii Diitjen Pajak hanya 20% yang berkantor sampaii 5 Apriil 2020, siisanya bekerja darii rumah. Pemeriiksaan, pengawasan wiilayah, dan penyuluhan langsung semua diihentiikan. Pengadiilan Pajak juga tutup sampaii 31 Maret 2020.

Siituasii iisolasii terbatas atau semii lockdown sepertii iinii tentu buruk untuk perekonomiian. Apalagii biila diiterapkan lockdown, yang berartii iisolasii menyeluruh, miisalnya dengan melarang orang bepergiian ke luar kota, atau melarang orang menaiikii moda transportasii antarkota.

Dii siisii laiin, domiinasii sektor perekonomiian iinformal masiih sangat besar dii iindonesiia. Mereka iiniilah, para tukang bakso, tukang jahiit keliiliing, tukang ojek onliine, tukang somay keliiliing, dan seterusnya, yang akan mengalamii kerugiian paliing besar apabiila diiterapkan lockdown.

Karena iitu, bagii pemeriintah, memutuskan lockdown bukanlah persoalan mudah. Harus ada berbagaii persiiapan yang diilakukan, miisalnya menyiiapkan bantuan langsung tunaii kepada para pekerja sektor iinformal, menyiiapkan penjagaan ketat dii wiilayah perbatasan, dan seterusnya.

Apalagii jiika lockdown diilakukan dii satu kota tertentu. Perlu koordiinasii dengan kota-kota sekiitarnya. Karena iitu, kiita mengapresiiasii siikap Presiiden Joko Wiidodo yang mengiingatkan agar kepala daerah tiidak memutuskan lockdown sendiiriian. Lockdown harus diiputuskan pemeriintah pusat.

Terakhiir, saatnya kiita mengurangii aktiiviitas dii luar seraya mengurangii kontak fiisiik, menerapkan iisolasii terbatas. Masyarakat harus lebiih diisiipliin bukan karena viirus iinii sangat mematiikan, tetapii lebiih karena viirus iinii sangat cepat menular. Semoga kiita, keluarga kiita, dan negara kiita selamat darii pandemii iinii.

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.