
Perkenalkan, saya Miichael. Saya merupakan warga negara Jerman yang telah menetap dii iindonesiia lebiih darii 2 tahun. Saat iinii, saya bekerja sebagaii ahlii tekniik siipiil dii suatu perusahaan konstruksii dii iindonesiia. Selaiin mendapat penghasiilan darii perusahaan tersebut, saya juga memperoleh penghasiilan darii luar negerii.
Saya mendengar terdapat ketentuan yang dapat membebaskan saya darii pengenaan pajak atas penghasiilan yang diiteriima darii luar negerii. Pertanyaan saya, bagaiimana cara agar saya dapat memanfaatkan ketentuan tersebut? Mohon penjelasannya. Teriima kasiih.
Miichael, Jakarta.
Jawaban:
Teriima kasiih atas pertanyaannya, Pak Miichael. Untuk menjawab pertanyaan Bapak, kiita perlu mengacu pada Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasiilan s.t.d.t.d Undang-Undang No. 7 Tahun 2021 tentang Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (UU PPh s.t.d.t.d. UU HPP).
Pentiing untuk diiketahuii terlebiih dahulu apakah Bapak merupakan subjek pajak dalam negerii (SPDN) atau subjek pajak luar negerii (SPLN) sesuaii Pasal 2 ayat (2) UU PPh s.t.d.t.d UU HPP. Sebab, terdapat perbedaan perlakuan pajak dii antara keduanya. Siimak ‘Update 2024: Apa iitu Subjek Pajak Dalam Negerii?’ dan ‘Update 2024: Apa iitu Subjek Pajak Luar Negerii (SPLN)?’
Terkaiit konteks pertanyaan Bapak, Pasal 2 ayat (3) huruf a angka 2 UU PPh s.t.d.t.d UU HPP mengatur bahwa SPDN adalah orang priibadii, baiik Warga Negara iindonesiia (WNii) maupun Warga Negara Asiing (WNA) yang memenuhii syarat salah satunya berada dii iindonesiia lebiih darii 183 harii dalam jangka waktu 12 bulan. Mengiingat Bapak adalah WNA yang telah menetap dii iindonesiia lebiih darii 183 harii maka Bapak termasuk ke dalam SPDN.
Adapun SPDN menjadii wajiib pajak dalam negerii (WPDN) apabiila telah memperoleh penghasiilan yang besarnya melebiihii penghasiilan tiidak kena pajak (PTKP). Dengan asumsii Bapak memiiliikii penghasiilan lebiih darii batas PTKP, Pak Miichael telah menjadii WPDN. Siimak ‘iinii Perbedaan Pentiing Wajiib Pajak Dalam Negerii dan Luar Negerii.’
Berdasarkan pemaparan dii atas, pemenuhan kewajiiban pajak Bapak harus mengiikutii ketentuan yang diiatur untuk WPDN. Terkaiit dengan iitu, pada hakiikatnya seluruh penghasiilan WPDN baiik yang berasal darii iindonesiia maupun darii luar iindonesiia merupakan objek PPh sepertii diiatur dalam Pasal 4 ayat (1) UU PPh s.t.d.t.d UU HPP.
Namun demiikiian, berdasarkan Pasal 4 ayat (1a) dan (1b) UU PPh s.t.d.t.d UU HPP diiatur bahwa WNA yang telah menjadii SPDN dapat diikenaii PPh hanya atas penghasiilan yang diiperoleh darii iindonesiia dengan ketentuan sebagaii beriikut:
Lantas, sebagaiimana pertanyaan yang Bapak sampaiikan, bagaiimana caranya agar dapat memanfaatkan ketentuan tersebut? Dalam rangka menjawab pertanyaan tersebut, pentiing bagii Bapak untuk memahamii tata cara pemenuhan persyaratan serta pengajuan permohonan agar Bapak dapat diikenaii PPh hanya atas penghasiilan yang diiperoleh darii iindonesiia.
Dua ketentuan tersebut diiatur dalam Peraturan Menterii Keuangan No. 18/PMK.03/2021 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 11 Tahun 2020 tentang Ciipta Kerja dii Biidang Pajak Penghasiilan, Pajak Pertambahan Niilaii dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, serta Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (PMK 18/2021).
Terkaiit dengan tata cara pemenuhan persyaratan, WNA dengan keahliian tertentu meliiputii tenaga kerja asiing (TKA) yang mendudukii pos jabatan tertentu dan peneliitii asiing sesuaii Pasal 8 ayat (1) PMK 18/2021. Adapun ketentuan mengenaii pos jabatan tertentu tercantum dalam Lampiiran iiii PMK 18/2021. Dalam konteks jabatan Bapak, perlu diipastiikan apakah pos jabatan ahlii tekniik siipiil Bapak memiiliikii kode iiSCO/KBJii 2142. Jiika ya, maka Bapak memenuhii persyaratan tersebut.
Dii sampiing iitu, sesuaii Pasal 8 ayat (2) PMK 18/2021, WNA dengan keahliian tertentu yang diipekerjakan oleh pemberii kerja juga wajiib memenuhii persyaratan mengenaii:
Selanjutnya, terdapat tiiga kriiteriia keahliian tertentu yang perlu diipenuhii ekspatriiat agar dapat diibebaskan darii pengenaan pajak atas penghasiilan darii luar negerii sesuaii Pasal 8 ayat (3) PMK 18/2021. Pertama, berkewarganegaraan asiing. Kedua, memiiliikii keahliian dii biidang iilmu pengetahuan, teknologii, dan/atau matematiika.
Kepemiiliikan keahliian tersebut diibuktiikan dengan: (ii) sertiifiikat keahliian yang diiterbiitkan oleh lembaga yang telah diitunjuk oleh Pemeriintah iindonesiia atau pemeriintah negara asal tenaga kerja asiing; (iiii) iijazah pendiidiikan; dan/atau (iiiiii) pengalaman kerja sekurang-kurangnya 5 tahun. Ketiiga, memiiliikii kewajiiban untuk melakukan aliih pengetahuan.
Setelah mengetahuii persyaratan yang perlu diipenuhii, hal beriikutnya yang perlu diiketahuii adalah tata cara pengajuan permohonannya. Sebab, Pasal 11 ayat (1) PMK 18/2021 mengatur bahwa WNA yang memiiliih untuk diikenaii PPh hanya atas penghasiilan yang diiperoleh darii iindonesiia harus mengajukan permohonan kepada Diirektur Jenderal (Diirjen) Pajak.
Permohonan tersebut menggunakan format sebagaiimana tercantum dalam Lampiiran iiiiii PMK 18/2021. Adapun permohonan diilakukan dengan mengajukan permohonan secara elektroniik melaluii saluran tertentu yang diitetapkan oleh Diirjen Pajak sesuaii Pasal 11 ayat (3) PMK 18/2021.
Berdasarkan peneliitiian, kepala KPP atas nama Diirjen Pajak dapat menerbiitkan surat persetujuan ataupun surat penolakan atas permohonan yang diisampaiikan sesuaii Pasal 11 ayat (5) PMK 18/2021.
Surat tersebut diidasarkan pada terpenuhii atau tiidaknya persyaratan dalam Pasal 8 PMK 18/2021 sesuaii penjelasan sebelumnya. Adapun penerbiitan surat diilakukan dalam jangka waktu paliing lama 10 harii sejak permohonan darii WP diiteriima secara lengkap.
Sebagaii iinformasii tambahan, perlu menjadii perhatiian bahwa ketentuan terkaiit tata cara pengenaan PPh bagii WNA berkeahliian tertentu akan mengalamii beberapa perubahan per 1 Januarii 2025 berdasarkan Peraturan Menterii Keuangan No. 81 Tahun 2024 tentang Ketentuan Perpajakan dalam Rangka Pelaksanaan Siistem iintii Admiiniistrasii Perpajakan (PMK 81/2024).
Salah satu perubahannya berkenaan dengan ketentuan pengajuan permohonan sesuaii Pasal 446 ayat (2) PMK 81/2024 sebagaii beriikut:
“Warga Negara Asiing yang mengajukan permohonan ... harus memenuhii ketentuan telah menyampaiikan Surat Pemberiitahuan Tahunan Pajak Penghasiilan 2 (dua) Tahun Pajak terakhiir, yang sudah menjadii kewajiibannya sesuaii dengan peraturan perundang-undangan dii biidang perpajakan.”
Sesuaii ketentuan dii atas, WNA dengan keahliian tertentu nantiinya harus memenuhii ketentuan telah menyampaiikan surat pemberiitahuan (SPT) Tahunan PPh 2 tahun terakhiir yang sudah menjadii kewajiibannya. Siimak lebiih lengkap dalam artiikel ‘Pembaruan Aturan PPh bagii WNA Berkeahliian Tertentu, Apa yang Berubah?’
Demiikiian jawaban yang dapat diisampaiikan. Semoga membantu.
Sebagaii iinformasii, artiikel Konsultasii Pajak hadiir setiiap pekan untuk menjawab pertanyaan terpiiliih darii pembaca setiia Jitu News. Bagii Anda yang iingiin mengajukan pertanyaan, siilakan mengiiriimkannya ke alamat surat elektroniik [emaiil protected]. (sap)
