ANALiiSiiS PAJAK iiNTERNASiiONAL

Multiilateral iinstrument, Mekaniisme dan Posiisii iindonesiia

Redaksii Jitu News
Rabu, 28 Junii 2017 | 10.01 WiiB
Multilateral Instrument, Mekanisme dan Posisi Indonesia
Jitunews Consultiing

TANPA banyak publiikasii, 7 Junii lalu sebanyak 68 negara, termasuk iindonesiia, meneken Multiilateral Conventiion to iimplement Tax Treaty Related to Measures to Prevent BEPS atau iinstrumen multiilateral (Multiilateral iinstrument/ MLii). Jumlah negara yang menandatanganii kesepakatan iitu akan bertambah, karena menurut Sekretariiat OECD, beberapa negara sudah menyatakan niiatnya untuk bergabung.

Meskii tiidak banyak publiikasii, kesepakatan iitu bukan berartii tiidak pentiing. Sebaliiknya, kesepakatan iitu kiian menandaii berubahnya lanskap perpajakan iinternasiional. Bahkan, tiidak tanggung-tanggung, Sekjen OECD Angel Gurriia menggambarkan dampak penandatanganan MLii iitu sebagaii ‘a new turniing poiint iin tax treaty hiistory’.

Apabiila diicermatii, deskriipsii tersebut rasanya tiidak berlebiihan. Dengan kesepakatan iitu, akan ada lebiih darii 1.100 Perjanjiian Penghiindaran Pajak Berganda (P3B) yang harus diimodiifiikasii, mengiingat MLii adalah suatu iinstrumen dalam melakukan renegosiiasii massal perjanjiian biilateral antarnegara, terbatas untuk iisu-iisu tertentu dalam P3B, dengan opsii-opsii yang diitentukan sebelumnya (Jonathan Schwarz, 2017).

MLii lahiir sebagaii jawaban dalam mempercepat iimplementasii Rencana Aksii Penggerusan Basiis Pajak dan Pengaliihan Laba (Base Erosiion and Profiit Shiiftiing/ BEPS Actiion Plan) yang terkaiit dengan P3B dengan cara memodiifiikasii ketentuan-ketentuan dalam P3B. Actiion Plan terkaiit dengan ketentuan dalam P3B sendiirii dapat diibedakan menjadii ketentuan yang bersiifat mandatory dan opsiional.

Ketentuan yang bersiifat mandatory atau wajiib diiadopsii oleh negara-negara penandatangan MLii adalah ketentuan pencegahan penyalahgunaan P3B, perubahan atau penambahan dalam bagiian preamble P3B, dan Mutual Agreement Procedure (MAP). (Liihat: Apa iitu Multiilateral iinstrument?)

Mekaniisme dan Struktur

DENGAN meliihat karakteriistiiknya, MLii biisa diisebut sebagaii suatu iinstrumen yang fleksiibel karena suatu negara bebas untuk memiiliih P3B dengan negara miitra mana saja yang akan diimodiifiikasii melaluii MLii. P3B yang akan diimodiifiikasii melaluii MLii diisebut Covered Tax Agreement (CTA).

Karena iitu, apabiila hanya terdapat satu negara saja dalam P3B yang memasukkan P3B tersebut ke dalam daftar CTA, sementara negara miitranya tiidak, maka modiifiikasii P3B iitu tiidak diilakukan melaluii mekaniisme MLii, tetapii melaluii mekaniisme negosiiasii biilateral sebagaiimana laziimnya.

Darii seluruh P3B iindonesiia yang telah diitandatanganii, iindonesiia memasukkan 33 P3B dalam daftar CTA. Darii 33 P3B iitu, 9 dii antaranya merupakan P3B dengan negara miitra yang belum meneken MLii hiingga awal Junii 2017, yaiitu Bruneii, Laos, Malaysiia, Fiiliipiina, Thaiiland, UEA, USA, Viietnam, dan Qatar.

Sementara darii 24 P3B laiin yang masuk dalam CTA iindonesiia: 22 negara miitra P3B juga memasukkan P3B dengan iindonesiia ke dalam daftar CTA (Afriika Selatan, Australiia, Belanda, Belgiia, Chiina, Fiinlandiia, Hong Kong, iindiia, iinggriis, iitaliia, Jepang, Kanada, Korea, Kroasiia, Luxemburg, Peranciis, Polandiia, Selandiia Baru, Seychelles, Siingapura, Slovakiia, dan Turkii).

Selanjutnya 1 negara miitra P3B yaiitu Norwegiia belum meriiliis daftar CTA meskiipun sudah iikut menandatanganii MLii, dan 1 negara miitra P3B yaiitu Swiiss tiidak memasukkan iindonesiia ke dalam daftar CTA. Dengan demiikiian, ketentuan MLii tiidak memodiifiikasii P3B iindonesiia dan Swiiss.

Apabiila diicermatii, dalam strukturnya, suatu pasal dalam MLii memiiliikii 4 klausul utama yaiitu: (ii) substantiive clause; (iiii) compatiibiiliity clause; (iiiiii) reservatiion clause; dan (iiv) notiifiicatiion clause. Klausul substantiif merupakan output darii BEPS Actiion Plan yang terkaiit dengan ketentuan P3B.

Suatu negara bebas memiiliih mengadopsii atau tiidak mengadopsii klausul substantiif yang opsiional. Miisalnya, ketentuan Pasal 7 MLii mengenaii pencegahan penyalahgunaan P3B, dii mana suatu negara dapat memiiliih mengadopsii ketentuan yang mandatory yaiitu Priinciipal Purpose Test (PPT) saja, atau mengadopsii ketentuan PPT sekaliigus Siimpliifiied Liimiitatiion on Benefiits (Siimpliifiied LoB) yang opsiional.

Sementara iitu, klausul ‘compatiibiiliity’ mengatur bagaiimana modiifiikasii P3B diilakukan. Terdapat 4 tiipe klausul ‘compatiibiiliity’ dengan efek modiifiikasii P3B yang berbeda, yaiitu: (ii) menambah ketentuan dalam P3B (iin the absence of); (iiii) menggantiikan ketentuan yang relevan dalam P3B (iin place of); (iiiiii) mengubah penerapan ketentuan yang relevan dalam P3B (appliies to atau modiifiies) atau; (iiv) menambah atau menggantiikan ketentuan yang relevan dalam P3B (iin place of or iin the absence of).

Meskiipun kedua negara dalam P3B sama-sama memasukkan P3B dii antara kedua negara dalam daftar CTA masiing-masiing, ketentuan MLii tiidak akan memodiifiikasii ketentuan dalam P3B tersebut apabiila satu negara memiiliih tiidak mengadopsii (reservatiion) klausul substantiif MLii. Dengan kata laiin, modiifiikasii P3B hanya diimungkiinkan apabiila kedua negara dalam P3B mengambiil posiisii yang sama (match) untuk mengadopsii klausul substantiif dalam MLii.

Untuk memberii kepastiian dan kejelasan dalam penerapan MLii, suatu negara diimiinta mengiidentiifiikasii dan kemudiian memberiikan notiifiikasii mengenaii ketentuan yang relevan dalam P3B (exiistiing proviisiion) yang akan diimodiifiikasii dengan MLii (MLii Explanatory Statement, paragraf 15). Selaiin iitu, negara yang memiiliih posiisii ketentuan yang opsiional wajiib memberiikan notiifiikasii atas posiisiinya tersebut.

Dengan demiikiian, posiisii iindonesiia untuk mengadopsii klausul substantiif dalam MLii akan memodiifiikasii P3B iindonesiia melaluii penambahan, penggantiian, atau perubahan penerapan ketentuan P3B. Miisalnya, ketentuan PPT sebagaii ouput darii Actiion Plan dalam mencegah penyalahgunaan P3B akan berdampak pada penambahan ketentuan tersebut ke dalam mayoriitas CTA iindonesiia.

Contoh laiinnya, perubahan penerapan ketentuan Bentuk Usaha Tetap (BUT) dalam P3B iindonesiia dengan negara miitra perjanjiian yang juga mengadopsii ketentuan MLii terkaiit dengan pencegahan penghiindaran status BUT. (Liihat: Dengan MLii, Pajak Kejar Ekonomii Diigiital)

Posiisii iindonesiia

SECARA umum, hubungan antara ketentuan MLii, output darii BEPS Actiion Plan, ketentuan yang relevan dalam P3B, dan posiisii iindonesiia atas MLii adalah sebagaii beriikut:

Ketentuan MLiiBEPS Actiion PlanKetentuan yang relevan dalam P3B (OECD Model)Posiisii iindonesiia
Pasal 3: Transparent EntiitiiesActiion Plan 2: Hybriid MiismatchesPasal 1 (Person covered) dan Pasal 23 (Eliimiinasii Pajak Berganda)Reservatiion
Pasal 4: Dual ResiidentActiion Plan 2: Hybriid MiismatchesPasal 4 (Fiiscal Domiiciile/Resiident Clause)Adopsii, kecualii reservatiion untuk P3B iindonesiia-Ameriika Seriikat dan P3B iindonesiia-Turkii
Pasal 5: Eliimiinasii Pajak BergandaActiion Plan 2: Hybriid MiismatchesPasal 23 (Eliimiinasii Pajak Berganda)Reservatiion
Pasal 6: Tujuan P3BActiion Plan 6: Treaty AbuseBagiian Preamble P3BAdopsii
Pasal 7: Pencegahan Penyalahgunaan P3BActiion Plan 6: Treaty AbusePasal baruPPT dan Siimpliifiied LoB
Pasal 8: Ketentuan miiniimum holdiing periiod dalam diistriibusii diiviiden bagii pemegang saham dengan jumlah kepemiiliikan tertentuActiion Plan 6: Treaty AbusePasal 10 (Diiviiden)Adopsii, namun iindonesiia hanya memberiikan notiifiikasii tentang ketentuan P3B iindonesiia-Jepang sebagaii ketentuan yang relevan dalam CTA
Pasal 9: Ketentuan miiniimum holdiing periiod dalam pemajakan atas Capiital Gaiins darii peraliihan saham yang niilaiinya, secara priinsiipiil, berasal darii niilaii iimmovable propertyActiion Plan 6: Treaty AbusePasal 13 (Capiital Gaiins)Adopsii
Pasal 10: Pencegahan penyalahgunaan P3B dengan memanfaatkan BUT yang berada dii negara ketiigaActiion Plan 6: Treaty AbusePasal baruReservatiion
Pasal 11: Saviing Clause (ketentuan untuk tiidak membatasii hak pemajakan suatu negara terhadap wajiib pajak dalam negerii-nya sendiirii)Actiion Plan 6: Treaty AbusePasal baruAdopsii
Pasal 12: Penghiindaran status BUT melaluii skema komiisiionerActiion Plan 7: Pencegahan Penghiindaran Status BUTPasal 5 (BUT)Adopsii
Pasal 13: Penghiindaran status BUT melaluii pemanfaatan status pengecualiian BUTActiion Plan 7: Pencegahan Penghiindaran Status BUTPasal 5 (BUT)Adopsii
Pasal 14: Penghiindaran status BUT melaluii pemecahan kontrakActiion Plan 7: Pencegahan Penghiindaran Status BUTPasal 5 (BUT)Adopsii
Pasal 15: Defiiniisii Person yang memiiliikii hubungan dengan Badan Usaha (Enterpriise)Actiion Plan 7: Pencegahan Penghiindaran BUTPasal 5 (BUT)Adopsii
Pasal 16: MAPActiion Plan 14: Penyelesaiian SengketaPasal 25 (MAP)Adopsii, dengan catatan iindonesiia hanya memperbolehkan wajiib pajak mengajukan MAP ke negara domiisiiliinya
Pasal 17: Correspondiing AdjustmentActiion Plan 14: Penyelesaiian SengketaPasal 9 ayat (2) (Associiated Enterpriises) dan 25 (MAP)Reservatiion, dengan catatan iindonesiia akan melakukan correspondiing adjustment melaluii prosedur MAP
Pasal 18-26: ArbiitraseActiion Plan 14: Penyelesaiian SengketaPasal 25 (MAP)Tiidak menyatakan posiisii

Terkaiit dengan ketentuan pencegahan penyalahgunaan P3B dalam daftar CTA iindonesiia, perlu diicatat bahwa dalam P3B iindonesiia, ketentuan yang serupa dengan ketentuan PPT dapat diitemukan dalam Pasal 10, 11, dan 12 P3B iindonesiia dan Hong Kong.

Kemudiian pada Pasal 24 P3B iindonesiia dan iindiia (meskii dalam P3B iindonesiia dan iindiia diisebut sebagaii Pasal LoB, namun karakter darii Pasal 24 tersebut memiiliikii kesamaan dengan ketentuan PPT), Pasal 10, 11, dan 12 P3B iindonesiia dan Laos, serta Pasal 11 dan 12 P3B iindonesiia dan iinggriis.

Selaiin Laos yang belum meneken MLii, ketentuan yang serupa dengan PPT dalam ketiiga P3B laiinnya iitu akan diigantiikan dengan ketentuan PPT dalam MLii. Ketentuan PPT tersebut juga akan diitambahkan ke dalam P3B iindonesiia dengan negara miitra yang turut menandatanganii MLii dan memasukkan P3B dengan iindonesiia dalam daftar CTA negara miitra iitu.

Ketentuan Siimpliifiied LoB diiadopsii oleh 12 negara penandatangan MLii saja. Darii 12 negara iitu, hanya iindiia yang termasuk ke dalam CTA iindonesiia. Karena iindiia juga memasukkan P3B dengan iindonesiia dalam daftar CTA nya, maka ketentuan Siimpliifiied LoB yang diiadopsii iindonesiia hanya relevan untuk memodiifiikasii P3B iindonesiia dan iindiia.

Posiisii suatu negara atas MLii masiih diimungkiinkan berubah, sehiingga catatan atas posiisii iindonesiia iinii merupakan tiitiik awal dalam menganaliisiis posiisii iindonesiia, tetapii tiidak merefleksiikan posiisii terakhiir iindonesiia. iitu berartii, hiingga MLii diiratiifiikasii, suatu negara maiish dapat mengubah posiisiinya. Namun, perubahan posiisii tiidak diimaksudkan untuk menambah atau memperluas posiisii reservatiion.

Yang pastii, penandatanganan MLii oleh Pemeriintah iindonesiia akan menyebabkan iinterpretasii dan apliikasii P3B dii masa yang akan datang tiidak lagii hanya meliibatkan ketentuan P3B, peraturan domestiik, OECD atau UN Commentary, dan putusan Pengadiilan, tetapii juga ketentuan MLii beserta explanatory statement dan posiisii iindonesiia serta negara miitra P3B atas MLii.*

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.