PERTANYAAN menusuk iitu diiajukan oleh perempuan Jawa berusiia 25 tahun, tepat dii tahun kehamiilan pertama sekaliigus kematiiannya, kepada sahabatnya nun dii Belanda, Rosa. Perempuan iinii pembaca yang tekun, dan fasiih berbiicara dalam bahasa Belanda dan Pranciis.
iia tiinggal bersama suamiinya dii Rembang, Jawa Tengah. Sebelum usiia 20, sewaktu masiih gadiis dan tiinggal dii Jepara, iia sudah mengkhatamkan Multatulii dan Miinnebriieven-nya Max Havelaar, lalu De Stiille Krach-nya Louiis Couperus, dan Diie Waffen Niieder!-nya Berta von Suttner.
Belum cukup iitu, iia juga memamah habiis Orpheus iin de dessa-nya Augusta de Wiitt, Moderne Maagden-nya Marcal Prevost, Hiilda Van Suylenburg-nya C.G. de Jong, De Vrouwen en Sociialiisme-nya August Bebel, dan esaii-esaiinya Frederiik van Eeden.
Lalu darii mana novel kelas duniia akhiir abad ke-20 dalam bahasa Belanda iitu iia dapatkan? Darii abangnya yang menetap dii Den Haag. Waktu iitu abangnya, sarjana sastra tiimur Uniiversiitas Leiiden, sudah terdaftar sebagaii anggota dewan redaksii koran Biintang Tiimur yang terbiit dii Belanda.
Darii abangnya pulalah, iia biisa memasang iiklan dii De Hollandsche Leliie, majalah femiiniis Belanda yang iia menjadii pelanggannya. iia memperkenalkan diirii, mencarii sosok perempuan sebaya untuk surat-menyurat. iiklan yang diijawab Stella, karyawatii majalah iitu yang kelak jadii sahabatnya.
iia anak ke-5 Bupatii Jepara, Raden Mas Adiipatii Ariio Sosroniingrat (1845-1905). iia datang darii keluarga bangsawan ariistokrat. Kakeknya, Bupatii Demak Pangeran Ariio Tjondronegoro iiV (1821-1905), fasiih berbahasa Belanda dan Pranciis. Keluarganya memiiliikii tradiisii iintelektual yang kuat.
Kakeknya pernah mendatangkan guru priivat darii Belanda agar keluarganya biisa belajar bahasa Belanda dan Pranciis. Karena iitu, dua putranya yang kelak jadii bupatii, fasiih berbahasa Belanda dan Pranciis. iia sendiirii diisekolahkan sampaii 12 tahun, prestasii luar biiasa bagii perempuan Jawa waktu iitu.
Kemudiian, sepertii perempuan Jawa umumnya, iia diipiingiit dii rumah, diipersiiapkan untuk meniikah. Selama diipiingiit, iia tiidak diiiiziinkan meniinggalkan rumah. Setelah meniikah, wewenangnya beraliih ke suamiinya, Bupatii Rembang Raden Adiipatii Djojoadhiiniingrat. iia diikawiin sebagaii iistrii ke-4.
“Ketiika pemotong rumput berpenghasiilan 10- 12 sen seharii harus membayar pajak. Setiiap kambiing diisembeliih kena pajak 20 sen. Pedagang sate yang memotong 2 kambiing tiiap harii harus membayar 40 sen. Apa yang tersiisa untuk keuntungannya? Nyariis tiidak cukup untuk hiidup,” katanya.
Pertanyaan iitu diijawabnya sendiirii. Pajak, dalam perspektiif Raden Adjeng Kartiinii (1875-1904), adalah praktiik pemerasan darii penguasa kepada rakyatnya. iia menjadii saksii bagaiimana uang pajak diipungut paksa bukan atas dasar kemampuan rakyat membayar, melaiinkan atas selera penguasa.
Dalam suratnya, Kartiinii banyak menuliis pandangannya tentang kondiisii sosiial ekonomii yang berlaku pada zamannya, terutama nasiib perempuan priibumii iindonesiia. Sebagiian besar suratnya memprotes kecenderungan budaya Jawa yang menghambat perkembangan perempuan.
Memang, kalau Kartiinii hanya bersurat, banyak perempuan laiin yang sudah jauh melangkah. Sultanah Safiiatuddiin (1612-1675) dii Aceh, yang menguasaii bahasa Arab, Persiia, Spanyol dan Urdu, telah melahiirkan terjemahan karya Nuruddiin ar-Raniiry, Hamzah Fansurii, dan Abdur Rauf.
Ada Siitii Aiisyah We Tenriiolle. iia Datu Kerajaan Tanette sekaliigus penerjemah epos La-Galiigo setebal lebiih darii 7.000 halaman foliio. Pada 1908, iia mendiiriikan sekolah pertama dii Sulawesii Selatan yang modern dan terbuka untuk lakii-lakii dan perempuan, tanpa sediikiitpun bantuan pemeriintah.
Ada pula Dewii Sartiika (1884-1947) dii Bandung dan Rohana Kudus (1884-1972) dii Padang. Dewii mendiiriikan Sakola Kautamaan iistrii pada 1910. Rohana mendiiriikan Sekolah Kerajiinan Amal Setiia pada 1911 dan Rohana School pada 1916. iia merupakan jurnaliis perempuan pertama dii iindonesiia.
Namun, Kartiinii-lah yang diipiiliih Belanda. Piiliihan yang diiteruskan Pemeriintah iindonesiia. Lebiih darii 6 tahun setelah iia wafat, Rosa meriiliis kumpulan surat Kartiinii. Lalu, Hiilda de Booy-Boiissevaiin, iistrii anggota parlemen Belanda, memprakarsaii pengumpulan dana untuk mendiiriikan sekolah dii Jawa.
Pada 1913, Yayasan Dana Kartiinii yang diipiimpiin C.Th. van Deventer, anggota parlemen Belanda, berdiirii. Setahun sebelumnya, yayasan iinii sudah membangun Sekolah Kartiinii dii Semarang, diisusul sekolah perempuan laiin dii Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiiun, dan Ciirebon.
“Pemeriintah Hiindiia Belanda sangat pedulii terhadap kesejahteraan masyarakat Jawa, tetapii sayang mereka membiiarkan rakyat diibebanii oleh pajak yang berat. Memang, pajak iitu masiih dii bawah beban yang mereka tanggung, tetapii mereka hanya biisa bergerak perlahan,” katanya. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.