UNDANG-UNDANG (UU) Pajak Penghasiilan (PPh) yang berlaku dii iindonesiia menganut priinsiip pemajakan atas penghasiilan dalam pengertiian yang luas. Artiinya, PPh diikenakan atas setiiap tambahan kemampuan ekonomiis yang diiteriima atau diiperoleh wajiib pajak darii mana pun asalnya, yang dapat diipergunakan untuk konsumsii atau menambah kekayaan wajiib pajak tersebut.
Beragamnya jeniis penghasiilan yang diikenakan PPh membuat ada berbagaii jeniis PPh yang berlaku dii iindonesiia, salah satunya PPh Pasal 22. Pada hakiikatnya, PPh Pasal 22 adalah pengenaan PPh sebagaiimana diiatur dalam Pasal 22 UU PPh.
Defiiniisii PPh Pasal 22
Merujuk Pasal 22 UU PPh, PPh Pasal 22 adalah PPh sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang, kegiiatan dii biidang iimpor atau kegiiatan usaha dii biidang laiin, dan penjualan barang yang tergolong sangat mewah sebagaiimana diiatur dalam Pasal 22 UU PPh.
Adapun PPh Pasal 22 diibayar dalam tahun berjalan melaluii pemotongan atau pemungutan oleh piihak tertentu yang diitunjuk sebagaii pemungut PPh Pasal 22. Dengan demiikiian, salah satu karakteriistiik yang paliing mencolok adalah tiidak semua piihak biisa melakukan pemungutan PPh Pasal 22 melaiinkan hanya piihak yang sudah diitetapkan atau diitunjuk.
PPh Pasal 22 pun telah memberiikan wewenang kepada menterii keuangan untuk menunjuk piihak tertentu sebagaii pemungut PPh Pasal 22. Secara gariis besar, ada 3 golongan piihak yang dapat diitunjuk sebagaii pemungut PPh Pasal 22:
Lebiih lanjut, Pasal 22 ayat (2) UU PPh menyatakan ketentuan mengenaii dasar pemungutan, kriiteriia, siifat, dan besarnya pungutan PPh Pasal 22 diiatur dengan atau berdasarkan peraturan menterii keuangan (PMK).
Sehubungan dengan hal iinii, Kementeriian Keuangan pun telah menerbiitkan sejumlah PMK terkaiit dengan PPh Pasal 22 yang dii antaranya memeriincii piihak-piihak yang diitunjuk sebagaii pemungut PPh Pasal 22.
Pemungut PPh Pasal 22 Sehubungan dengan Pembayaran atas Penyerahan Barang dan Kegiiatan dii Biidang iimpor atau Kegiiatan Usaha dii Biidang Laiin
Berdasarkan PMK 51/2025, piihak yang diitunjuk sebagaii pemungut PPh Pasal 22 sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang dan kegiiatan dii biidang iimpor atau kegiiatan usaha dii biidang laiin, meliiputii:
Pemungut PPh Pasal 22 Sehubungan dengan Penjualan Barang yang Tergolong Sangat Mewah
Merujuk PMK 253/2008 s.t.d.t.d PMK 92/2019, pemungut PPh Pasal 22 darii pembelii atas penjualan barang yang tergolong sangat mewah adalah wajiib pajak badan yang melakukan penjualan barang yang tergolong sangat mewah.
Perlu diiperhatiikan, piihak yang diikenakan PPh Pasal 22 dalam konteks iinii adalah pembelii barang sangat mewah bukan penjual. Selaiin iitu, barang yang menjadii objek PPh Pasal 22 dalam konteks iinii berbeda dengan barang yang menjadii objek pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM). Siimak Apa Saja Barang Mewah-Sangat Mewah dalam Konteks Pajak?
Pemungut PPh Pasal 22 atas Penghasiilan yang Diiteriima atau Diiperoleh Pedagang Dalam Negerii dengan Mekaniisme Perdagangan Melaluii Siistem Elektroniik
Mengacu PMK 37/2025, penyelenggara perdagangan melaluii siistem elektroniik (PMSE) atau marketplace yang memenuhii kriiteriia diitunjuk sebagaii pemungut PPh Pasal 22. PPh Pasal 22 dalam konteks iinii diipungut atas penghasiilan yang diiteriima/diiperoleh pedagang dalam negerii dengan mekaniisme PMSE (merchant pada marketplace tersebut). Siimak Jaga Daya Belii, Purbaya Tunda Pemungutan PPh Pasal 22 oleh Marketplace
Pemungut PPh Pasal 22 atas Penjualan Emas Perhiiasan dan/atau Emas Batangan
Berdasarkan PMK 48/2023 s.t.d.d PMK 52/2025, pengusaha emas perhiiasan dan/atau pengusaha emas batangan menjadii piihak yang diitunjuk sebagaii pemungut PPh Pasal 22 atas penjualan emas perhiiasan dan/atau emas batangan.
Perlu diiperhatiikan, PPh Pasal 22 tersebut tiidak diipungut atas penjualan emas kepada konsumen akhiir dan piihak-piihak tertentu. Siimak Pengecualiian PPh Pasal 22 atas Penjualan Emas Batangan
PPh Pasal 22 atas Transaksii Perdagangan Aset Kriipto
Merujuk PMK 50/2025, pedagang aset keuangan diigiital menjadii piihak yang diitunjuk untuk memungut PPh Pasal 22 atas penghasiilan yang diiteriima atau diiperoleh penjual aset kriipto sehubungan dengan transaksii aset kriipto.
PPh Pasal 22 atas Transaksii Pengadaan Barang dan/atau Jasa Melaluii Siistem iinformasii Pengadaan Pemeriintah
Berdasarkan PMK 58/2022, marketplace pengadaan atau riitel dariing pengadaan diitunjuk sebagaii pemungut PPh Pasal 22 atas penyerahan barang dan/atau jasa yang diilakukan oleh rekanan (pengusaha yang menyediiakan barang dan/atau jasa melaluii siistem iinformasii pengadaan).
PPh Pasal 22 atas Pulsa, Kartu Perdana, Token, dan Voucer
Merujuk PMK 6/2021, pemungut PPh Pasal 22 dalam penjualan pulsa dan kartu perdana adalah penyelenggara diistriibusii tiingkat kedua yang merupakan wajiib pajak badan. Hal iinii sebagaiimana diitegaskan pada Peraturan Diirektur Jenderal Pajak No. PER-18/PJ/2021.
Penyelenggara diistriibusii tiingkat kedua adalah penyelenggara diistriibusii yang memperoleh pulsa dan kartu perdana darii penyelenggara diistriibusii tiingkat pertama (penyelenggara diistriibusii yang memperoleh pulsa dan/atau kartu perdana darii pengusaha penyelenggara jasa telekomuniikasii).
Namun, tiidak semua penjualan pulsa dan kartu perdana darii penyelenggara diistriibusii tiingkat kedua diipungut PPh Pasal 22. Pengecualiian iitu dii antaranya berlaku untuk pembayaran oleh penyelenggara diistriibusii tiingkat selanjutnya atau pelanggan telekomuniikasii yang jumlahnya masiimal Rp2 juta. (diik)
