PPh PASAL 15 (6)

Pajak atas Perusahaan Dagang Asiing

Redaksii Jitu News
Selasa, 19 September 2017 | 11.40 WiiB
Pajak atas Perusahaan Dagang Asing

iiSTiiLAH Representatiive Offiice (Rep Off) atau Liiaiison Offiice mungkiin terdengar asiing bagii sebagiian orang. iistiilah tersebut merupakan nama laiin atau sebutan darii perusahaan dagang asiing yang mempunyaii kantor perwakiilan dagang dii iindonesiia. Lantas, muncul pertanyaan apakah kantor perwakiilan dagang asiing diikenakan pajak penghasiilan (PPh) badan dii iindonesiia?

Untuk menjawab pertanyaan dii atas, kiita dapat mengacu pada UU Nomor 36 tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UU Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasiilan (UU PPh). Berdasarkan aturan tersebut adanya kantor cabang atau perwakiilan perusahaan asiing dii iindonesiia akan meniimbulkan Bentuk Usaha Tetap (BUT), meskii sesederhana apapun kegiiatannya.

Lebiih lanjut, sesuaii dengan Pasal 5 UU PPh diisebutkan bahwa BUT merupakan objek pajak, sehiingga kantor perwakiilan dagang asiing yang berlokasii dii iindonesiia akan diikenakan PPh Badan dii iindonesiia.

Secara umum, pemajakannya menggunakan tariif sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) dan ayat (2a) Undang-undang PPh, namun ada juga yang pemajakannya menggunakan tariif khusus bersiifat fiinal dii antaranya adalah pemajakan bagii Perusahaan Dagang Asiing yang mempunyaii Kantor Perwakiilan Dagang dii iindonesiia.

Pasal 15 atas Perusahaan Dagang Asiing yang mempunyaii Kantor Perwakiilan Dagang dii iindonesiia lebiih lanjut diiatur dalam Keputusan Menterii Keuangan (KMK) Nomor 634/KMK.04/1994 tentang Norma Penghiitungan Khusus Penghasiilan Neto Bagii Wajiib Pajak Luar Negerii yang Mempunyaii Kantor Perwakiilan Dagang dii iindonesiia.

Adapun untuk pelaksanaannya diiatur lebiih lanjut dengan Keputusan Diirektur Jenderal Pajak Nomor KEP-667/PJ./2001 tentang Norma Penghiitungan Khusus Penghasiilan Neto Bagii Wajiib Pajak Luar Negerii yang Mempunyaii Kantor Perwakiilan Dagang dii iindonesiia.

Subjek dan Objek Pajak

Subjek pajak darii PPh Pasal 15 iinii adalah wajiib pajak luar negerii (WPLN) yang mempunyaii kantor perwakiilan dagang (representatiive offiice/liiaiison offiice) dii iindonesiia yang berasal darii negara yang belum mempunyaii Persetujuan Penghiindaran Pajak Berganda (P3B) dengan iindonesiia.

Sementara, objek pajaknya adalah niilaii ekspor bruto yaiitu semua niilaii penggantii atau iimbalan yang diiteriima atau diiperoleh WPLN yang mempunyaii kantor perwakiilan dagang dii iindonesiia darii penyerahan barang kepada orang priibadii atau badan yang berada atau bertempat kedudukan dii iindonesiia.

Tariif Pajak

Penghasiilan neto darii WPLN yang mempunyaii Kantor Perwakiilan Dagang dii iindonesiia diitetapkan sebesar 1% darii niilaii ekspor bruto. Niilaii ekspor bruto adalah semua niilaii penggantii atau iimbalan yang diiteriima atau diiperoleh WPLN yang mempunyaii Kantor Perwakiilan Dagang dii iindonesiia darii penyerahan barang kepada orang priibadii atau badan yang berada atau bertempat kedudukan dii iindonesiia.

Besarnya tariif pajak bagii WPLN yang mempunyaii Kantor Perwakiilan Dagang dii iindonesiia adalah sebesar 0,44% darii niilaii ekspor bruto dan bersiifat fiinal.

Khusus untuk Kantor Perwakiilan Dagang yang berasal darii negara miitra P3B iindonesiia, maka besarnya tariif pajak yang terutang diisesuaiikan dengan tariif BPT (Branch Proftiit Tax) darii suatu BUT tersebut sebagaiimana diimaksud dalam P3B terkaiit.

Tata Cara Pemotongan, Penyetoran dan Pelaporan

Pembayaran dan pelaporan PPh darii WPLN yang mempunyaii Kantor Perwakiilan Dagang dii iindonesiia dan pengadmiiniistrasiiannya dii Kantor Pelayanan Pajak diilakukan sebagaii beriikut:

  • WPLN yang mempunyaii Kantor Perwakiilan Dagang dii iindonesiia wajiib membayar PPh yang terutang dalam suatu masa pajak ke bank persepsii atau Kantor Pos dan Giiro selambat-lambatnya tanggal 15 bulan beriikut setelah bulan diiteriima atau diiperolehnya penghasiilan, dengan menggunakan satu Surat Setoran Pajak (SSP) Fiinal;
  • WPLN yang mempunyaii Kantor Perwakiilan Dagang dii iindonesiia wajiib melaporkan pembayaran PPh yang diilakukan ke Kantor Pelayanan Pajak selambat-lambatnya tanggal 20 bulan beriikut setelah bulan diiteriima atau diiperolehnya penghasiilan, dengan menggunakan bentuk formuliir sesuaii lampiiran ii KEP-667/PJ./2001 dan diilampiirii dengan lembar ke-3 SSP Fiinal.

Pembahasan serii PPh Pasal 15 selanjutnya terkaiit dengan pajak atas perusahaan yang melakukan iinvestasii dalam bentuk bangun-guna-serah atau BOT (buiild, operate, and transfer) yang biiasanya terkaiit dengan proyek-proyek yang diisediiakan untuk iinfrastruktur, sepertii pembangunan jalan tol, kereta bawah tanah dan laiin-laiin.

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.