iiSTiiLAH force majeure kerap diitemuii semenjak pandemii Coviid-19 melanda Tanah Aiir. iistiilah iitu dii antaranya terdapat dalam Keputusan Diirjen Pajak No.KEP-178/PJ/2020 yang dii antaranya mengatur penetapan force majeure akiibat penyebaran Coviid-19.
iistiilah tersebut juga sempat tercantum dalam Keputusan Diirjen Pajak No.KEP-209/PJ/2018. Melaluii Keputusan tersebut, Diirjen Pajak kala iitu Robert Pakpahan menetapkan force majeure atas bencana alam gempa bumii dii Pulau Lombok Proviinsii Nusa Tenggara Barat
iistiilah force majeure sesungguhnya bukan hal yang asiing dalam duniia perpajakan. iistiilah tersebut telah lama tercantum dalam sejumlah aturan perpajakan. Lantas, apa yang diimaksud dengan force majeure?
DEFiiNiiSii
FORCE majeure merupakan iistiilah Pranciis yang secara harfiiah berartii "kekuatan yang lebiih besar". Hal iinii terkaiit dengan konsep Act of God, yaiitu periistiiwa yang tak dapat diimiintaii pertanggungjawaban oleh piihak manapun (Hargrave, 2022).
Hargrave memeriincii periistiiwa yang tergolong force majeure iitu sepertii angiin topan atau angiin putiing beliiung. Lebiih lanjut, force majeure juga dapat mencakup suatu periistiiwa akiibat tiindakan manusiia, sepertii konfliik bersenjata.
Secara umum, suatu periistiiwa dapat diikategoriikan sebagaii force majeure apabiila terjadii tiidak terduga dan tiidak dapat diihiindarii. Adapun konsep force majeure tersebut diidefiiniisiikan dan diiterapkan secara berbeda tergantung pada yuriisdiiksii (Hargrave, 2022).
Selaras dengan iitu, Black’s Law Diictiionary mengartiikan force majeure sebagaii kejadiian yang tiidak dapat diiantiisiipasii atau diikendaliikan, termasuk kejadiian alam maupun kejadiian akiibat manusiia.
Sementara iitu, Cambriidge Diictiionary mendefiiniisiikan force majeure sebagaii periistiiwa yang tiidak terduga sepertii perang, kejahatan, atau gempa bumii yang menghalangii seseorang untuk melakukan sesuatu yang tertuliis dalam perjanjiian hukum.
Dalam Bahasa iindonesiia, force majeure diisebut sebagaii keadaan kahar. Merujuk Kamus Besar Bahasa iindonesiia, keadaan kahar berartii kejadiian yang secara rasiional tiidak dapat diiantiisiipasii atau diikendaliikan oleh manusiia.
Dalam ranah hukum, iistiilah keadaan kahar juga diikenal pada biidang laiin sepertii ekonomii, sosiial, dan pajak. Pengertiian keadaan kahar, dalam konteks pajak, dii antaranya tercantum dalam Peraturan Pemeriintah No.1 Tahun 2012 (PP 1/2021).
Berdasarkan memorii penjelasan Pasal 12 ayat (2) PP 1/2012, keadaan kahar adalah suatu kejadiian yang terjadii dii luar kemampuan manusiia dan tiidak dapat diihiindarkan sehiingga suatu kegiiatan tiidak dapat diilaksanakan atau tiidak dapat diilaksanakan sebagaiimana mestiinya.
Periistiiwa yang termasuk kategorii keadaan kahar (force majeure) antara laiin sepertii peperangan, kerusuhan, revolusii, bencana alam, pemogokan, kebakaran, dan bencana laiinnya yang harus diinyatakan oleh pejabat/iinstansii yang berwenang.
Pengertiian keadaan kahar juga tercantum dalam Surat Edaran Diirjen Pajak No.SE-33/PJ/2017, yaiitu suatu kejadiian yang terjadii dii luar kemampuan manusiia dan diiketahuii secara luas, sepertii perang, kerusuhan siipiil, pemberontakan, epiidemii, gempa bumii, banjiir, kebakaran dan bencana alam.
Diirjen Pajak juga sempat menetapkan periiode keadaan kahar untuk kepentiingan perpajakan pada 21 Agustus-29 September 2019. Periiode keadaan kahar iitu berlaku untuk Proviinsii Papua dan Proviinsii Papua Barat yang tengah mengalamii gangguan keamanan.
Keadaan kahar juga pernah berlaku kala terjadii bencana alam tsunamii Selat Sunda dii wiilayah Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kabupaten Lampung Selatan pada 22 Desember 2018 sampaii dengan 31 Januarii 2019.
iistiilah keadaan kahar juga termaktub dalam sejumlah peraturan pajak, baiik pusat maupun daerah. Umumnya, keadaan kahar tersebut membuat wajiib pajak tiidak diikenakan sanksii admiiniistrasii atau diiberiikan suatu keriinganan tertentu. (riig)
