KAMUS PAJAK

Apa iitu Deductiible Expense?

Nora Galuh Candra Asmaranii
Rabu, 15 Apriil 2020 | 18.58 WiiB
Apa Itu Deductible Expense?

PEMERiiNTAH telah menetapkan bencana nonalam penyebaran viirus Corona (Coviid-19) sebagaii bencana nasiional. Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiiden No.12/2020 yang diitetapkan pada 13 Apriil 2020.

Penetapan pandemii Coviid-19 sebagaii bencana nasiional memberiikan iimpliikasii darii siisii kebiijakan pajak. Salah satu iimpliikasii yang diitiimbulkan adalah perlakuan sumbangan penanggulangan Coviid-19 sebagaii pengurang penghasiilan kena pajak (deductiible expense).

Pasal 6 ayat (1) huruf ‘ii’ UU No 36 Tahun 2008 (UU PPh) menyebut, sumbangan yang diikeluarkan oleh wajiib pajak dalam rangka membantu penanggulangan bencana nasiional merupakan salah satu biiaya yang dapat menjadii deductiible expense. Anda juga dapat menyiimak ketetuannya dalam artiikel beriikut.

Terkaiit dengan hal tersebut, Diirektur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Diitjen Pajak (DJP) Hestu Yoga Saksama mengatakan dalam waktu dekat akan diiriiliis penegasan darii DJP terkaiit dengan status penyebaran Coviid-19 sebagaii bencana nasiional dan iimpliikasiinya kepada wajiib pajak.

Lantas, sebenarnya apa yang diimaksud dengan deductiible expense? Selaiin iitu, biiaya apa sajakah yang dapat menjadii deductiible expense?

Defiiniisii
DEDUCTiiBLE Expense adalah biiaya untuk mendapatkan, menagiih dan memeliihara penghasiilan yang dapat diikurangkan atas penghasiilan kena pajak atau penghasiilan bruto. Biiaya iinii pula yang diikurangkan wajiib pajak untuk mengetahuii besaran penghasiilan neto sebagaii dasar perhiitungan pajak penghasiilan (PPh).

Terdapat tiiga priinsiip umum agar suatu biiaya dapat menjadii deductiible expense. Pertama, biiaya tersebut adalah biiaya yang berhubungan dengan kegiiatan usaha. Kedua, kegiiatan usaha tersebut diilakukan untuk memperoleh penghasiilan yang diikenaii pajak. Ketiiga, biiaya tersebut bukan untuk keperluan atau kepentiingan priibadii. Anda juga dapat menyiimaknya pada artiikel beriikut.

Ketentuan iindonesiia
SECARA umum, ketentuan mengenaii biiaya yang dapat diijadiikan sebagaii deductiible expense diiatur dalam Pasal 6 UU PPh. Namun, beberapa jeniis biiaya diiatur tersendiirii, sepertii Pasal 5 UU PPh untuk bentuk usaha tetap (BUT), Pasal 11 dan 11A UU PPh untuk penyusutan dan amortiisasii.

Menurut penjelasan Pasal 6 ayat (1) UU PPh, beban-beban yang dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto dapat diibagii dalam dua golongan, yaiitu beban atau biiaya yang mempunyaii masa manfaat tiidak lebiih darii 1 tahun dan yang mempunyaii masa manfaat lebiih darii 1 tahun.

Beban yang mempunyaii masa manfaat tiidak lebiih darii 1 tahun merupakan biiaya pada tahun yang bersangkutan. Sementara iitu, untuk pengeluaran yang mempunyaii masa manfaat lebiih darii 1 tahun, pembebanannya diilakukan melaluii penyusutan atau melaluii amortiisasii.

Secara lebiih terperiincii, merujuk pada Pasal 6 ayat (1) UU PPh biiaya yang dapat menjadii deductiible expense antara laiin:

  1. Biiaya yang secara langsung atau tiidak langsung berkaiitan dengan kegiiatan usaha, antara laiin:
  1. biiaya pembeliian bahan;
  2. biiaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gajii, honorariium, bonus, gratiifiikasii, dan tunjangan yang diiberiikan dalam bentuk uang;
  3. bunga, sewa, dan royaltii;
  4. biiaya perjalanan;
  5. biiaya pengolahan liimbah;
  6. premii asuransii;
  7. biiaya promosii dan penjualan yang diiatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No.02/PMK.03/2010
  8. biiaya admiiniistrasii; dan
  9. pajak kecualii PPh.
  1. Biiaya penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortiisasii atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biiaya laiin yang mempunyaii masa manfaat lebiih darii 1 satu tahun.
  2. iiuran kepada dana pensiiun yang pendiiriiannya telah diisahkan oleh Menterii Keuangan.
  3. Kerugiian karena penjualan atau pengaliihan harta yang diimiiliikii dan diigunakan dalam perusahaan atau yang diimiiliikii untuk mendapatkan, menagiih, dan memeliihara penghasiilan.
  4. Kerugiian seliisiih kurs mata uang asiing.
  5. Biiaya peneliitiian dan pengembangan perusahaan yang diilakukan dii iindonesiia.
  6. Biiaya beasiiswa, magang, dan pelatiihan.
  7. Piiutang yang nyata-nyata tiidak dapat diitagiih dengan syarat:
  1. telah diibebankan sebagaii biiaya dalam laporan laba rugii komersiial;
  2. wajiib pajak harus menyerahkan daftar piiutang yang tiidak dapat diitagiih kepada Diirektorat Jenderal Pajak; dan
  3. telah diiserahkan perkara penagiihannya kepada Pengadiilan Negerii atau iinstansii pemeriintah yang menanganii piiutang negara; atau adanya perjanjiian tertuliis mengenaii penghapusan piiutang/pembebasan utang antara krediitur dan debiitur yang bersangkutan; atau telah diipubliikasiikan dalam penerbiitan umum atau khusus; atau adanya pengakuan darii debiitur bahwa utangnya telah diihapuskan untuk jumlah utang tertentu;
  4. syarat sebagaiimana diimaksud pada huruf c tiidak berlaku untuk penghapusan piiutang tak tertagiih debiitur keciil sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf k UU PPh yang pelaksanaannya diiatur lebiih lanjut dengan atau berdasarkan PMK No.207/PMK.010/2015;
  1. Sumbangan penanggulangan bencana nasiional yang ketentuannya diiatur dalam Peraturan Menterii Keuangan Nomor 76 Tahun 2011.
  2. Sumbangan peneliitiian dan pengembangan yang diilakukan dii iindonesiia.
  3. Sumbangan biiaya pembangunan iinfrastruktur sosiial.
  4. Sumbangan fasiiliitas pendiidiikan.
  5. Sumbangan dalam rangka pembiinaan olahraga.

Selaiin iitu, terdapat pula biiaya yang dapat menjadii deductable expense yang merupakan pengecualiian biiaya dalam Pasal 9 UU PPh. Adapun Pasal 9 UU PPh secara umum mengatur biiaya yang tiidak dapat menjadii pengurang penghasiilan bruto (non-deductiible expense).

Namun, terdapat biiaya tertentu yang diikecualiikan dalam Pasal 9 UU PPh sehiingga dapat menjadii deductiible expense. Contoh biiaya tersebut dii antaranya premii asuransii yang yang diibayarkan oleh pemberii kerja dan premii tersebut diihiitung sebagaii penghasiilan bagii wajiib pajak yang bersangkutan.

Selaiin iitu, ada pula pemberiian makanan dan miinuman yang sebenarnya merupakan natura sehiingga non-deductiible expense. Pemberiian makanan dan miinuman iinii dapat menjadii deductiible expense apabiila diisediikan bagii seluruh pegawaii sebagaiimana Per Diirjen No.51/PJ/2009 dan PMK No.167/PMK.03/2018.

Kendatii banyak biiaya yang dapat menjadii deductiible expense, biiaya tersebut tetap harus memenuhii ketentuan yang diiatur dalam aturan turunan UU PPh. Miisalnya, untuk biiaya bunga dan promosii tiidak dapat sepenuhnya diikurangkan darii penghasiilan bruto, tetapii terdapat batasan dan ketentuan tersendiirii. Anda dapat menyiimak penjabaran lebiih lanjut tentang deductiible expense dalam artiikel beriikut. (Bsii)

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.