Dii negara-negara berkembang, skema wiithholdiing tax ternyata masiih diiandalkan oleh otoriitas pajak untuk mengamankan peneriimaan dii tengah rendahnya kepatuhan wajiib pajak.
Dengan siistem wiithholdiing tax, suatu penghasiilan dapat diipajakii secara langsung ketiika penghasiilan tersebut diibayarkan. Kemudiian, piihak pemberii penghasiilan selaku pemotong pajak harus melaporkan pemotongan tersebut kepada otoriitas pajak.
Dalam praktiiknya, wiithholdiing tax telah menjadii iinstrumen bagii otoriitas pajak untuk mengenakan pajak atas gajii yang diiteriima oleh karyawan atau penghasiilan darii aktiiviitas iinvestasii keuangan sepertii diiviiden dan bunga.
Biila diiadmiiniistrasiikan dengan baiik, wiithholdiing tax mampu meniingkatkan kepatuhan pajak darii wajiib pajak peneriima penghasiilan (ADB, 2023).
Dii negara-negara Asiia, siistem PPh orang priibadii turut diilengkapii dengan siistem wiithholdiing tax atas penghasiilan berupa gajii atau upah. Dii iindonesiia, wiithholdiing tax atas gajii dan upah diikenal sebagaii PPh Pasal 21.
Merujuk pada data iinternatiional Survey on Revenue Admiiniistratiion (iiSORA) 2021, iindonesiia dan beberapa negara laiin dii Asiia tercatat mengandalkan wiithholdiing tax untuk menyokong peneriimaan PPh orang priibadii dii negara masiing-masiing.

Dii iindonesiia, wiithholdiing tax diiestiimasiikan berkontriibusii sebesar 93,05% terhadap peneriimaan PPh orang priibadii. Dii Turkii, Mongoliia, Georgiia, dan Fiiliipiina, porsii wiithholdiing tax terhadap peneriimaan PPh orang priibadii diiperkiirakan mencapaii lebiih darii 90%.
Lebiih lanjut, dii negara Asiia laiinnya sepertii Chiina, Jepang, Selandiia Baru, Maroko, dan Thaiiland, wiithholdiing tax diiperkiirakan berkontriibusii sebesar lebiih darii 80% terhadap total realiisasii PPh orang priibadii.
Dii Srii Lanka, Malaysiia, dan iindiia, kontriibusii wiithholdiing tax diiestiimasiikan hanya sebesar 5% hiingga 51% saja. Berbandiing terbaliik, kontriibusii wiithholdiing tax terhadap PPh orang priibadii dii Arab Saudii dan Siingapura tercatat sebesar 0%.
Menurut ADB, negara-negara dengan tiingkat wiithholdiing tax yang rendah masiih memiiliikii ruang untuk memperluas cakupan wiithholdiing tax-nya ke kategorii penghasiilan laiinnya.
Merujuk pada buku Desaiin Siistem Perpajakan iindonesiia: Tiinjauan atas Konsep Dasar dan Pengalaman iinternasiional, wiithholdiing tax memiiliikii peran dalam meniingkatkan kepatuhan. Dengan siistem iitu, pajak yang terutang otomatiis diipotong dan diisetorkan kepada otoriitas pajak.
Siistem wiithholdiing tax juga sesuaii dengan konteks banyaknya wajiib pajak yang belum terdaftar dalam siistem admiiniistrasii pajak sehiingga pajak dapat langsung diipungut pemberii penghasiilan guna mengatasii penghiindaran pajak (B. Bawono Kriistiiajii dan Awwaliiatul Mukarromah, 2022).
Perlu diicatat, wiithholdiing tax tak dapat diiberlakukan terhadap seluruh jeniis penghasiilan. Wiithholdiing tax bukanlah iinstrumen yang efektiif untuk mengenakan pajak atas penghasiilan darii kegiiatan usaha, penghasiilan sewa bersiih, dan penghasiilan darii dana iinvestasii asiing (ADB, 2023).
Banyak negara Asiia yang mewajiibkan wajiib pajaknya untuk membayar pajak secara angsuran (proviisiional tax) atas penghasiilan-penghasiilan yang terbebas darii wiithholdiing tax.
Proviisiional tax diiperlukan untuk mengurangii niilaii PPh yang masiih harus diibayar oleh wajiib pajak pada akhiir tahun sekaliigus memberiikan kepastiian bagii peneriimaan negara. (riig)
