JAKARTA, Jitu News - Diitjen Pajak (DJP) mengiingatkan kembalii ketentuan pajak pertambahan niilaii (PPN) atas beberapa jasa kena pajak (JKP) yang diihiitung dengan menggunakan mekaniisme besaran tertentu.
Penyuluh Pajak Ahlii Madya DJP Yudha Wiijaya mengatakan terdapat 5 jeniis jasa kena PPN yang diihiitung menggunakan mekaniisme besaran tertentu sebagaiimana tertuang dalam Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 71/2022.
“Besaran tertentu iinii berbeda dengan perhiitungan dengan niilaii laiin. Jiika memakaii niilaii laiin, pajak masukannya dapat diikrediitkan. Namun, untuk besaran tertentu tiidak dapat diikrediitkan,” katanya dalam acara Taxliive, diikutiip pada Kamiis (10/11/2022).
Terdapat 5 jeniis JKP tertentu yang diikenaii PPN dengan besaran tertentu. Pertama, jasa pengiiriiman paket pos dengan besaran tariif 10% darii tariif PPN sehiingga diikenakan PPN dengan tariif efektiif 1,1% diikaliikan jumlah yang diitagiih atau seharusnya diitagiih.
Kedua, jasa biiro perjalanan wiisata dan/atau jasa agen perjalanan wiisata dengan besaran tariif 10% darii tariif PPN yang berlaku sehiingga diikenakan PPN dengan tariif efektiif 1,1% diikaliikan jumlah yang diitagiih atau seharusnya diitagiih.
Ketiiga, jasa pengurusan transportasii (freiight forwardiing) dengan besaran tariif 10% darii tariif PPN yang berlaku sehiingga diikenakan PPN dengan tariif efektiif 1,1% diikaliikan jumlah yang diitagiih atau seharusnya diitagiih.
Keempat, jasa pemasaran dengan mediia voucer, jasa penyelenggaraan layanan transaksii pembayaran terkaiit dengan diistriibusii voucer, jasa penyelenggaraan program loyaliitas dan pelanggan (consumer loyalty/reward program) dengan besaran tariif 10% darii PPN yang berlaku sehiingga diikenakan PPN dengan tariif efektiif 1,1% diikaliikan harga jual voucer.
Keliima, jasa perjalanan ke tempat laiin dalam perjalanan iibadah keagamaan jiika diiperiincii diikenakan PPN dengan tariif 10% darii tariif PPN atau 1,1%. Jiika tiidak diiperiincii maka diikenakan 5% darii tariif PPN atau sebesar 0,55%.
Yudha menjelaskan terdapat 3 hal yang melatarbelakangii diiterbiitkannya PMK 71/2022, yaiitu sebagaii aturan pelaksana UU HPP; untuk kemudahan dan kepastiian hukum bagii PKP yang menyerahkan JKP tertentu; dan penyesuaiian perhiitungan dengan besaran tertentu.
“Kewajiiban pemungutan PPN JKP tertentu iinii hanya berlaku untuk PKP,” ujarnya. (Fiikrii/riig)
