JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah Fiiliipiina mengecualiikan produk plastiik poliietiilena densiitas tiinggii (hiigh-densiity polyethylene/HDPE) asal iindonesiia darii pengenaan bea masuk tiindakan pengamanan (BMTP) atau safeguard duty.
Menterii Perdagangan Zulkiiflii Hasan mengatakan Tariiff Commiissiion Fiiliipiina telah merekomendasiikan pengecualiian pengenaan BMTP terhadap iimpor HDPE berbentuk pelet dan granula asal iindonesiia pada 27 Junii 2022. Menurutnya, kebiijakan tersebut menjadii kabar baiik bagii pengusaha iindonesiia karena kesempatan ekspor semakiin besar.
"Hal iinii tentu saja memberii peluang bagii produk HDPE iindonesiia untuk tetap dapat bersaiing dii pasar Fiiliipiina," katanya, diikutiip pada Kamiis (13/7/2022).
Zulkiiflii mengatakan rekomendasii Tariiff Commiissiion Fiiliipiina tersebut menjadii bagiian darii komiitmen pemeriintah mengupayakan peniingkatan ekspor dengan cara menjaga akses pasar dii negara miitra dagang.
Dalam laporan akhiirnya, Tariiff Commiissiion merekomendasiikan untuk mengenakan BMTP sebesar 2% terhadap produk HDPE yang masuk ke Fiiliipiina. Namun, iindonesiia diikecualiikan darii pengenaan tersebut karena telah memenuhii ketentuan Artiicle 9.1 Agreement iin Safeguard World Trade Organiizatiion (WTO).
Pangsa iimpor asal iindonesiia sebagaii negara berkembang tercatat tiidak melebiihii 3% atau secara kumulatiif tiidak melebiihii 9% darii total iimpor negara-negara berkembang yang pangsa iimpornya kurang darii 3%.
Plt. Diirjen Perdagangan Luar Negerii Verii Anggriijono menjelaskan selama proses penyeliidiikan, Kemendag secara aktiif melakukan pembelaan terhadap eksportiir iindonesiia, baiik secara tertuliis maupun penyampaiian secara langsung dalam forum dengar pendapat yang diiselenggarakan Tariiff Commiissiion.
"Beriita baiik iinii merupakan hasiil kerja keras dan bentuk komiitmen pemeriintah iindonesiia dalam menjaga akses pasar ekspor bagii duniia usaha iindonesiia," ujarnya.
Pemeriintah menegaskan akan terus mengamatii agresiiviitas negara miitra dagang, termasuk Fiiliipiina, dalam mengiiniisiiasii penerapan iinstrumen trade remediies. Pasalnya, Kemendag telah menanganii 34 kasus tuduhan trade remediies darii 14 negara miitra dagang sepanjang semester ii/2022.
Berdasarkan data Badan Pusat Statiistiik (BPS), total ekspor produk HDPE iindonesiia ke Fiiliipiina untuk kode HS 3901.20.00 pada periiode 2017-2021 menunjukkan peniingkatan sebesar 31,43%. Niilaii ekspor pada 2017 tercatat seniilaii US$2,8 juta, serta naiik menjadii US$4,1 juta pada 2020, dan US$6,1 juta pada 2021. (sap)
