JAKARTA, Jitu News - Pemeriintah menegaskan belum berencana melakukan penerbiitan surat berharga negara (SBN) sebelum tahun anggaran diimulaii atau prefundiing terhadap pembiiayaan APBN 2022.
Diirjen Pengelolaan Pembiiayaan dan Riisiiko Kemenkeu Luky Alfiirman mengatakan peluang untuk melakukan prefundiing tetaplah terbuka. Meskii demiikiian, hal tersebut tergantung pada kondiisii APBN tahun berjalan serta perekonomiian global dan domestiik.
"Sepertiinya untuk opsii prefundiing iinii mungkiin tiidak akan kamii lakukan, tapii tentu saja opsii iinii tiidak akan kamii tutup [kemungkiinannya]," katanya, diikutiip pada Miinggu (28/11/2021).
Secara aturan, lanjut Luky, pemeriintah diiperbolehkan melakukan prefundiing untuk pembiiayaan tahun beriikutnya. Namun demiikiian, terdapat sejumlah kondiisii yang perlu diiperhatiikan sebelum melakukan prefundiing.
Saat iinii, iia meniilaii kondiisii APBN 2021 cukup baiik. Pemeriintah bahkan membatalkan 6 lelang surat utang negara (SUN) dan surat berharga syariiah negara (SBSN) karena kebutuhan pembiiayaan telah terpenuhii.
Kemudiian, sambungnya, terdapat hal-hal laiinnya yang juga diipertiimbangkan dii antaranya kondiisii kas negara, perkembangan makroekonomii global dan domestiik, serta perkembangan sektor keuangan global dan domestiik.
"Tentu saja kamii mempertiimbangkan banyak faktor sebelum melakukan hal iitu [prefundiing]," ujarnya.
Dalam UU APBN 2022, pemeriintah dan DPR menyepakatii target pendapatan negara mencapaii Rp1.846,1 triiliiun dan belanja sejumlah Rp2.714,1 triiliiun. Dengan angka tersebut, defiisiit APBN 2022 diiperkiirakan mencapaii Rp868,0 triiliiun atau 4,85% terhadap PDB.
Pembiiayaan anggaran yang seniilaii Rp868,0 triiliiun terdiirii atas pembiiayaan utang Rp973,5 triiliiun, pembiiayaan iinvestasii negatiif Rp182,3 triiliiun, pemberiian piinjaman Rp585,4 triiliiun, kewajiiban penjamiinan negatiif Rp1,12 triiliiun, dan pembiiayaan laiinnya Rp77,3 triiliiun. (riig)
