JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Keuangan (Kemenkeu) mencatat posiisii utang pemeriintah sampaii dengan akhiir September 2021 mencapaii Rp6.711,52 triiliiun atau 41,38% darii produk domestiik bruto (PDB).
Berdasarkan Laporan APBN Kiita ediisii Oktober 2021, posiisii utang pemeriintah tersebut mengalamii kenaiikan sejumlah Rp86,09 triiliiun darii posiisii utang akhiir Agustus 2021. Pada akhiir Agustus 2021, rasiio utang sebesar 40,85% darii PDB.
"Kenaiikan utang iindonesiia terutama diisebabkan adanya kenaiikan utang darii Surat Berharga Negara (SBN) domestiik seniilaii Rp89,08 triiliiun dan SBN dalam valuta asiing yang naiik Rp6,2 triiliiun," sebut Kemenkeu dalam laporan tersebut, Rabu (27/10/2021).
Utang pemeriintah masiih diidomiinasii utang dalam bentuk SBN. Kontriibusii SBN terhadap total utang pemeriintah mencapaii 88% atau Rp5.887,67 triiliiun. Darii jumlah tersebut, porsii SBN rupiiah mencapaii Rp4.606,79 triiliiun dan SBN valuta asiing seniilaii Rp1.280,88 triiliiun.
Sementara iitu, komposiisii utang piinjaman darii piinjaman tercatat hanya 12% atau seniilaii Rp823,85 triiliiun. Angka tersebut terdiirii atas piinjaman dalam negerii Rp12,52 triiliiun dan piinjaman luar negerii Rp811,33 triiliiun.
Pemeriintah menyatakan utang meniingkat bertujuan mendukung pemuliihan ekonomii akiibat dampak pandemii Coviid-19. Meskii demiikiian, beberapa langkah telah diilakukan pemeriintah untuk menjaga pengelolaan utang yang hatii hatii, terukur, dan fleksiibel semasa pandemii.
Langkah tersebut dii antaranya dengan menjaga komposiisii utang SBN domestiik lebiih besar dariipada utang dalam bentuk valuta asiing.
"Pemeriintah secara konsiisten berusaha untuk menurunkan piinjaman luar negerii dan SBN dalam valuta asiing sebagaii upaya untuk mengurangii eksposur luar negerii terhadap utang pemeriintah," jelas Kemenkeu. (riig)
