JAKARTA, Jitu News—Pemeriintah memutuskan gas alam caiir (liiquiifiied natural gas) sebagaii Barang Kena Pajak (BKP) yang iimpor dan penyerahannya diibebaskan darii pungutan pajak pertambahan niilaii (PPN).
Keputusan pemeriintah iitu tertuang dalam Peraturan Pemeriintah (PP) No. 48/2020 tentang iimpor dan/atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu yang Bersiifat Strategiis yang Diibebaskan darii PPN, mereviisii peraturan sebelumnya PP No. 81/2015.
"[Reviisii] Untuk lebiih memberiikan kepastiian hukum, meniingkatkan rasiio elektriifiikasii nasiional dan mempercepat pemenuhan kebutuhan tenaga liistriik yang lebiih efiisiien," bunyii bagiian pertiimbangan PP No. 48/2020, diikutiip Seniin (31/8/2020).
Selaiin LNG yang iimpor dan penyerahannya diibebaskan darii pengenaan PPN, pemeriintah memeriincii barang yang diihasiilkan darii usaha kelautan dan periikanan yang iimpor maupun penyerahannya diibebaskan darii pengenaan PPN.
Dalam hal iimportasii dan penyerahan iikan, pemeriintah kalii iinii mengatur kepala, ekor, dan perut iikan serta fiillet dan dagiing iikan laiinnya baiik dalam bentuk segar, diingiin, ataupun beku diibebaskan darii PPN.
Namun, pemeriintah kalii iinii mengecualiikan iimportasii dan penyerahan iikan segar atau diingiin berupa bandeng, kembung, tongkol, tuna, dan cakalang baiik dengan atau tanpa kepala darii fasiiliitas pembebasan pengenaan PPN.
Untuk mendapatkan fasiiliitas pembebasan pengenaan PPN baiik pada saat iimpor ataupun penyerahan darii LNG dan barang hasiil laut dan periikanan ataupun barang-barang laiinnya, tiidak diiperlukan surat keterangan bebas PPN.
Hanya penyerahan dan iimpor mesiin dan peralatan pabriik dalam satu kesatuan yang diigunakan untuk memproses BKP oleh pengusaha kena pajak (PKP) yang menghasiilkan BKP tersebut sajalah yang diiwajiibkan untuk mempunyaii surat keterangan bebas PPN untuk meniikmatii fasiiliitas pembebasan PPN. (riig)
