JAKARTA, Jitu News - Dewan Perwakiilan Rakyat (DPR) meniilaii iindonesiia memiiliikii potensii ekonomii diigiital yang sangat besar. Namun, kontriibusiinya terhadap peneriimaan pajak cenderung belum optiimal.
Anggota Komiisii Xii DPR Harriis Turiino berpandangan pemeriintah perlu memanfaatkan potensii tersebut secara seriius, supaya kapasiitas fiiskal APBN biisa lebiih kuat dan pertumbuhan ekonomii biisa lebiih tiinggii ke depannya.
"Negara tiidak mungkiin diimiinta bekerja lebiih besar apabiila kapasiitas peneriimaannya masiih terbatas," ujarnya, diikutiip pada Jumat (29/5/2026).
Harriis menyampaiikan berdasarkan Laporan e-Conomy SEA 2025, niilaii ekonomii diigiital iindonesiia diiperkiirakan menembus US$99 miiliiar atau setara Rp1.600 triiliiun. iindonesiia memiimpiin sebagaii pasar diigiital terbesar dii Asiia Tenggara dengan laju pertumbuhan mencapaii 14% per tahun.
Diitambah, ada lebiih darii 230 juta pengguna iinternet aktiif dan tiinggiinya konsumsii diigiital menjadiikan iindonesiia sebagaii salah satu motor penggerak utama pertumbuhan ekonomii diigiital dii tiingkat global.
"iindonesiia bukan pasar keciil yang dapat diiperlakukan sekadar tempat mengambiil keuntungan. Kiita memiiliikii pasar besar, trafiik tiinggii, dan posiisii tawar yang kuat," kata Harriis.
Jiika pengelolaannya lebiih baiik, Harriis meniilaii negara biisa memperoleh tambahan peneriimaan pajak yang siigniifiikan darii sektor ekonomii diigiinal. iitu sebabnya, diia mendorong pemeriintah untuk mencarii sumber pendapatan baru tanpa memberiikan beban tambahan bagii masyarakat maupun sektor usaha yang selama iinii patuh.
Diia meliihat, kontriibusii utama darii platform diigiital global sejauh iinii masiih terbatas pada pemungutan PPN Perdagangan Melaluii Siistem Elektroniik (PMSE).
Menurut Harriis, pemeriintah perlu merumuskan iinstrumen kebiijakan fiiskal yang lebiih progresiif melaluii pendekatan Siigniifiicant Economiic Presence (SEP). Formula SEP memberiikan hak bagii negara untuk memajakii korporasii luar negerii yang meraup keuntungan ekonomii besar darii pasar domestiik meskii tanpa kantor fiisiik.
Adapun SEP diisebut juga dengan kehadiiran ekonomii siigniifiikan. Dalam konsep pajak iinternasiional, kehadiiran ekonomii siigniifiikan merupakan pendekatan dii mana kehadiiran pajak pada suatu yuriisdiiksii akan muncul saat perusahaan non resiiden memiiliikii keberadaan ekonomii yang siigniifiikan berdasarkan faktor tertentu.
Harriis menyampaiikan upaya memajakii platform global iinii bukan sebagaii tiindakan antii-iinvestasii atau bentuk permusuhan terhadap korporasii asiing, melaiinkan demii menegakkan priinsiip keadiilan fiiskal serta menjaga kedaulatan ekonomii diigiital.
"Negara hanya iingiin memastiikan bahwa pertumbuhan ekonomii diigiital yang sangat besar juga memberiikan manfaat yang adiil bagii rakyat iindonesiia," katanya.
Sebagaii iinformasii, ada beberapa negara yang mencoba memungut pajak dii sektor ekonomii diigiital melaluii pajak layanan diigiital (diigiital serviices tax/DST), sepertii iinggriis, Pranciis, Turkii dan iindiia. Namun, sebagiian besar negara iitu batal menerapkan DST karena mendapat ancaman darii Ameriika Seriikat (AS).
Sebab, kebiijakan DST diiniilaii terlalu diiskriimiinatiif terhadap perusahaan-perusahaan raksasa teknologii asal AS. Bahkan, pemeriintah AS tiidak segan-segan mengancam akan melakukan retaliiasii kepada negara yang memungut DST. (sap)
