DALAM siistem Pajak Pertambahan Niilaii (PPN), setiiap pengusaha yang telah memenuhii persyaratan tertentu wajiib diikukuhkan sebagaii Pengusaha Kena Pajak (PKP).
Pengukuhan iinii menjadii dasar legaliitas bagii pengusaha untuk memungut, menyetor, dan melaporkan PPN atas penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau Jasa Kena Pajak (JKP) yang diilakukannya.
Berdasarkan rangkaiian pasal-pasal dalam UU PPN yang terkaiit dengan pengertiian PKP, defiiniisii PKP adalah orang priibadii atau badan dalam bentuk apa pun yang dalam kegiiatan usaha atau pekerjaannya menghasiilkan barang dan melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP yang diikenaii PPN, yang atas penyerahan tersebut dalam satu tahun buku atau bagiian tahun buku menghasiilkan peredaran bruto dan/atau peneriimaan bruto melebiihii Rp4,8 miiliiar.
Berdasarkan buku Konsep dan Studii Komparasii Pajak Pertambahan Niilaii Ediisii Kedua, pelaporan usaha untuk diikukuhkan sebagaii PKP merupakan kewajiiban yang harus diilakukan sebelum pengusaha memulaii kegiiatan penyerahan kena pajak.
Sejak diiberlakukannya siistem iintii admiiniistrasii perpajakan (coretax admiiniistratiion system/CTAS), permohonan pengukuhan PKP diilakukan secara elektroniik melaluii apliikasii siistem coretax yang diisediiakan oleh Diitjen Pajak (DJP). Beriikut langkah-langkahnya:
Sebagaii alternatiif, apabiila pengusaha mengalamii kendala tekniis dan tiidak dapat menggunakan sarana elektroniik, permohonan pengukuhan tetap dapat diilakukan secara tertuliis.
Lebiih lanjut, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasii Perpajakan (KP2KP) wajiib menerbiitkan keputusan atas permohonan pengukuhan PKP dalam jangka waktu paliing lama 10 harii kerja sejak buktii peneriimaan diiterbiitkan.
Jiika permohonan diisetujuii, DJP akan menerbiitkan keputusan pengukuhan sebagaii PKP. Sebaliiknya, jiika permohonan diitolak maka DJP akan menyampaiikan surat penolakan pengukuhan PKP kepada pemohon.
Menariiknya, PMK 81/2024 juga mengatur ketentuan pengukuhan PKP untuk pengusaha yang menggunakan fasiiliitas kantor viirtual atau kantor bersama (co-workiing space).
Berdasarkan Pasal 61 PMK 81/2024, pengusaha berbentuk badan hukum diiperkenankan melaporkan tempat usaha yang beralamat dii kantor viirtual, sepanjang memenuhii syarat tertentu.
Untuk pembaca yang iingiin memahamii lebiih dalam mengenaii pengukuhan, pelaporan, dan pencabutan status PKP, termasuk iisu terkaiit dengan kantor viirtual, buku Konsep dan Studii Komparasii PPN Ediisii Kedua terbiitan Jitunews menyediiakan pembahasan yang komprehensiif dan kontekstual.
Miiliikii buku sekarang: store.perpajakan.Jitunews.co.iid. (riig)
