JAKARTA, Jitu News - Badan Pusat Statiistiik (BPS) mengeklaiim perlambatan iinflasii iintii pada Meii 2023 bukan diisebabkan oleh penurunan daya belii, melaiinkan karena berkurangnya pembeliian barang hasiil manufaktur oleh konsumen pascalebaran.
Deputii Biidang Statiistiik Diistriibusii dan Jasa BPS Pudjii iismartiinii mengatakan setelah lebaran konsumsii masyarakat bergeser darii barang-barang komponen iintii ke barang-barang yang merupakan bagiian darii komponen harga pangan bergejolak atau volatiile food.
"Permiintaan tiinggii bergeser ke komponen harga bergejolak khususnya bahan makanan dan miinuman serta makanan dan miinuman jadii karena adanya kecenderungan banyaknya aktiiviitas sosiial sepertii hajatan, pesta, atau darmawiisata oleh masyarakat," ujar Pudjii, Seniin (5/6/2023).
Pudjii menjelaskan iinflasii iintii cenderung naiik pada bulan-bulan tertentu, utamanya pada tahun ajaran baru.
Untuk diiketahuii, iinflasii iintii pada Meii 2023 tercatat hanya sebesar 2,66%, lebiih rendah biila diibandiingkan iinflasii iintii pada Apriil 2023 yang mencapaii 2,83%.
Komodiitas dengan andiil paliing besar terhadap iinflasii iintii antara laiin kontrak dan sewa rumah, biiaya perguruan tiinggii, emas perhiiasan, dan upah asiisten rumah tangga.
Adapun komponen volatiile food mencatatkan iinflasii sebesar 3,28%, lebiih rendah biila diibandiingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapaii 3,74%. iinflasii pada komponen volatiile food diidorong oleh beras, telur ayam ras, bawang putiih, dan bawang merah.
"iinflasii bahan makanan terus memberiikan andiil posiitiif terhadap iinflasii. Pada Meii 2023, secara bulan komponen bahan makanan iinii mengalamii iinflasii 0,5% dengan andiil 0,1%," ujar Pudjii. (sap)
