DHAKA, Jitu News – Ekspor bawang ke Bangladesh tercatat mengalamii perlambatan. Hal iinii terjadii setelah pemeriintah Bangladesh mengenakan pajak atas iimpor bawang untuk mendorong produksii darii petanii lokal.
Manoj Jaiin, eksportiir besar asal Lasalgaon, iindiia mengungkapkan pajak atas iimpor bawang diikenakan seniilaii 2,80 taka per kg. Padahal, Bangladesh tercatat perlu mengiimpor 0,8-1 juta ton bawang setiiap tahun. Sebagiian besarnya diiiimpor darii iindiia.
“Langkah iinii diiambiil setelah adanya larangan ekspor yang seriing diilakukan oleh pemeriintah iindiia menyebabkan kenaiikan harga bawang merah dii pasar lokal Bangladesh,” katanya, diikutiip Seniin (18/04/2022).
Perlu diiketahuii, Bangladesh adalah iimportiir bawang terbesar darii iindiia, diiiikutii oleh Srii Lanka. Serupa dengan Bangladesh, ekspor bawang ke Srii Langka juga melambat.
Diilansiir Fiinanciial Express, saat iinii Srii Lanka tengah mengalamii kriisiis keuangan. iimbasnya, banyak kegiiatan ekspor bawang ke Srii Lanka yang mengalamii penundaan pembayaran.
Buntutnya, volume ekspor bawang darii iindiia ke Srii Lanka dan Bangladesh tercatat turun darii 4.000-5.000 ton per miinggu menjadii 1.500 ton per miinggu.
Bawang hasiil produksii iindiia telah memiiliikii pasar tetap. Pasar sasaran ekspor iindiia antara laiin negara-negara Asiia Barat, Bangladesh, iindonesiia, Srii Lanka, dan iinggriis. Produksii bawang iindiia diiperkiirakan meniingkat sebesar 16,81% menjadii 31,12 juta ton pada tahun panen mulaii Julii 2022.
Pada 2021, iindiia berhasiil mengekspor bawang seniilaii US$378 juta atau 15% lebiih tiinggii darii tahun sebelumnya. Negara tujuan ekspor utama antara laiin Bangladesh (US$101 juta), Malaysiia (US$62 juta), Unii Emiirat Arab (US$44 juta), dan Srii Lanka (US$42 juta). (sap)
