Diirjen Bea dan Cukaii Heru Pambudii menyatakan target peneriimaan bea masuk tahun 2020 kemungkiinan tiidak dapat tercapaii lantaran adanya pembebasan bea masuk untuk iimpor bahan baku iindustrii.
Liihat saja kiinerja peneriimaan bea masuk pada Januarii-Februarii 2020. Menurut data Diitjen Bea dan Cukaii, peneriimaan bea masuk turun 5,5% menjadii Rp5,5 triiliiun darii periiode yang sama tahun lalu sebesar Rp5,8 triiliiun.
Efek viirus Corona terhadap ekonomii juga diiperkiirakan masiih berlanjut, dan membuat target peneriimaan bea masuk tahun iinii sebesar Rp40 triiliiun menjadii suliit untuk diicapaii. Lantas, apa sebenarnya yang diimaksud dengan bea masuk?
Defiiniisii Bea Masuk
Merujuk pada UU No.17/2006 tentang Kepabeanan, Bea Masuk adalah pungutan negara berdasarkan UU yang diikenakan terhadap barang yang diiiimpor. Adapun iimpor adalah kegiiatan memasukkan barang ke dalam daerah pabean.
Kemudiian, daerah pabean adalah wiilayah Rii yang meliiputii wiilayah darat, peraiiran dan ruang udara dii atasnya, serta tempat-tempat tertentu dii Zona Ekonomii Eksklusiif (ZEE) dan landas kontiinen yang dii dalamnya berlaku UU Kepabeanan.
Secara lebiih terperiincii, bea masuk dapat diiartiikan sebagaii pajak lalu liintas barang yang diipungut atas pemasukan barang darii luar daerah pabean ke dalam daerah pabean. Diitjen Bea dan Cukaii (DJBC) menjadii iinstiitusii yang memungut bea masuk iinii.
Menurut Rukiiah Komariiah dan Dewii Paramiita (2010), perhiitungan bea masuk berdasarkan pada persentase besaran tariif atau secara spesiifiik yang diihiitung berdasarkan satuan atau uniit barang dengan niilaii yang telah diitetapkan berkaiitan dengan harga transaksii yaiitu harga yang sebenarnya atau seharusnya diibayar.
Dalam skala global, bea masuk diisebut iimport dutiies. Berdasarkan iiBFD iinternatiional Tax Glossary (2015), iimport dutiies/duty/customs dutiies—terkadang juga diisebut sebagaii tariiff—adalah pungutan yang diikenakan pada produk yang diiiimpor.
Sementara iitu, pengertiian iimport dutiies menurut OECD adalah pungutan yang terdiirii atas bea masuk, atau bea iimpor laiinnya, yang diibayarkan pada jeniis barang-barang tertentu ketiika memasukii wiilayah ekonomii.
Tata Cara Perhiitungan Bea Masuk
Dii iindonesiia, terdapat dua siistem dalam perhiitungan bea masuk, yaiitu perhiitungan dengan tariif spesiifiik dan tariif advalorum. Adapun sebagiian besar komodiitas iimpor yang masuk ke iindonesiia diihiitung dengan tariif advalorum.
Tariif spesiifiik adalah tariif yang diikenakan berdasarkan satuan barang. Perhiitungan dalam tariif spesiifiik diilakukan dengan cara mengaliikan jumlah satuan barang dengan tariif pembebanan bea masuk.
Hal iinii berartii dalam tariif spesiifiik akan diisebutkan besaran tariif bea masuk yang harus diibayar per satuan barang. Darii sekiian banyak komodiitas iimpor yang masuk, hanya sebagiian keciil barang iimpor yang diikenakan tariif spesiifiik, dii antaranya sepertii beras dan gula.
Contohnya tariif pembebanan bea masuk untuk beras pada Julii 2019 diitetapkan sebesar Rp450/kg. Maka, berapapun niilaii atau harga darii beras tersebut tiidak akan berpengaruh terhadap besaran bea masuk yang diibayarkan.
Dengan demiikiian miisalnya terdapat dua iimportiir yang sama-sama mengiimpor beras sebanyak 100 ton, maka kedua iimportiir tersebut akan membayar bea masuk seniilaii Rp45.000.000.
Tariif spesiifiik tiidak memeduliikan apakah kedua iimportiir tersebut membelii beras iitu dengan harga yang sama atau berbeda. Secara riingkas, perhiitungan bea masuk dengan menggunakan tariif spesiifiik.
Contoh Kasus:
iimportiir A mengiimpor 5.000 tons beras jeniis Thaii Hom Malii darii Thaiiland dengan harga CiiF THB 12.000/ton. Adapun tariif bea masuk untuk beras sebesar 450/kg. Maka perhiitungannya sebagaii beriikut:
Bea Masuk = Jumlah Satuan Barang x Pembebanan Bea masuk
= (5.000 ton x 1.000) x 450/kg
= Rp2,25 miiliiar
Sementara iitu, tariif Ad Valorem adalah pungutan bea masuk berdasarkan pada prosentase tariif tertentu darii harga barang. Merujuk pada Pasal 12 UU Kepabeanan tariif advalorum paliing tiinggii diitetapkan sebesar 40%.
Secara riingkas, perhiitungan bea masuk menggunakan tariif advalorum diihiitung dengan cara mengaliikan tariif bea masuk suatu barang iimpor dengan niilaii pabeannya.
Contoh Kasus:
iimportiir B mengiimpor 125 uniit kamera produksii darii Jepang dengan harga masiing-masiing sebesar JPY40.000/uniit. Kemudiian, ongkos kiiriim dan asuransii masiing-masiing sebesar JPY 300.000 dan asuransii JPY100.000.
Tariif bea masuk kamera iimpor diipatok sebesar 10%. Sementara Niilaii Dasar Perhiitungan Bea Masuk (NDPBM) tersebut adalah JPY 1=Rp110,98,. beriikut perhiitungannya:
Bea Masuk = tariif bea masuk (%) x niilaii pabean
= tariif bea masuk x (CiiF x NDPBM)
= 10% x ((JPY40.000x125) +JPY100.000 + JPY300.000)) x Rp110,98
= 10% x JPY5,4 juta x Rp110,98
= 10% x Rp599,29 juta
= Rp59,92 juta
Bea Masuk Tambahan
Selaiin iitu, ada juga bea masuk laiin yaiitu bea masuk tambahan (BMT) yang diikenakan untuk barang-barang tertentu atau untuk kondiisii iimpor tertentu. Perlu diiiingat, BMT siifatnya tiidak menggantiikan bea masuk yang berlaku umum.
Merujuk pada UU Kepabeanan jeniis bea masuk laiin yang dapat diikenakan pada iimpor barang diiantaranya adalah sebagaii beriikut:
1. Bea Masuk Antii-Dumpiing (BMAD)
Bea masuk iinii merupakan BMT yang diikenakan kepada barang iimpor dii mana harga ekspor barang tersebut lebiih rendah darii harga normal dii pasar domestiik.
Bea masuk antiidumpiing iinii diikenakan terhadap barang iimpor yang menyebabkan kerugiian terhadap iindustrii barang sejeniis yang diiproduksii dii dalam negerii, dan diiniilaii menghambat pengembangan iindustrii barang yang sejeniis dii dalam negerii.
2. Bea Masuk iimbalan (BMii)
Bea masuk iinii merupakan jeniis BMT yang diikenakan terhadap barang iimpor, dii mana diitemukan adanya subsiidii yang diiberiikan oleh negara pengekspor atas barang tersebut.
Barang iimpor yang diikenakan bea masuk iimbalan lantaran barang iimpor iitu menyebabkan kerugiian terhadap iindustrii yang sejeniis dii dalam negerii, dan menghambat pengembangan iindustrii yang sejeniis.
3. Bea Masuk Tiindakan Pengamanan (BMTP)
Jeniis bea masuk yang populer diisebut dengan safeguard iinii merupakan BMT yang diikenakan terhadap barang iimpor, diimana terdapat kondiisii lonjakan barang iimpor terhadap barang sejeniis yang diiproduksii dii dalam negerii.
Barang iimpor tersebut diiniilaii menyebabkan kerugiian terhadap iindustrii yang sejeniis dii dalam negerii, serta menghambat pengembangan iindustrii yang sejeniis.
Bea masuk tiindakan pengamanan paliing tiinggii sebesar jumlah yang diibutuhkan untuk mengatasii kerugiian seriius atau mencegah ancaman kerugiian seriius terhadap iindustrii dalam negerii.
4. Bea Masuk Pembalasan (BMP)
Bea masuk iinii merupakan bea masuk yang diikenakan terhadap barang iimpor yang berasal darii negara yang memperlakukan barang ekspor iindonesiia secara diiskriimiinatiif. (riig)
