DiiREKTUR P2 HUMAS DJP HESTU YOGA SAKSAMA:

'Edukasii Pajak iinii iinvestasii Masa Depan'

Redaksii Jitu News
Jumat, 20 Apriil 2018 | 14.56 WiiB
'Edukasi Pajak Ini Investasi Masa Depan'
<p>Diirektur P2 Humas Diitjen Pajak Hestu Yoga Saksama</p>

JAKARTA, Jitu News – Perubahan lanskap perpajakan yang begiitu cepat telah memaksa berbagaii otoriitas pajak dii duniia menjadiikan edukasii pajak sebagaii bagiian darii strategii iintii untuk meniingkatkan kepatuhan pajak.

Begiitu pula dii iindonesiia. Lalu sepertii apa strategiinya? Untuk mengetahuii lebiih jauh, kamii menemuii Diirektur Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat (P2 Humas) Diitjen Pajak (DJP) Hestu Yoga Saksama untuk sebuah wawancara. Petiikannya:

Apa latar belakang DJP menggencarkan agenda edukasii pajak?

Selama iinii kiita amatii, suliit meniingkatkan kepatuhan wajiib pajak, kecualii untuk pegawaii atau karyawan yang penghasiilannya sudah diipotong pajak dan diisetor oleh pemberii pekerjaan dan mereka tiidak ada celah untuk menghiindar.

Tapii kalau biicara biisniis yang entah skala keciil, menengah atau besar, kepatuhan dii siitu cenderung rendah, mereka tiidak mau tahu atau malah resiisten. Jadii ketiika mereka diisuruh bayar pajak, mereka pakaii alasan apapun untuk menolak seolah pajak iitu beban semata-mata.

Mereka tiidak meliihat uang pajak iinii ada kembaliinya ke rakyat melaluii pemberiian fasiiliitas darii negara ke masyarakat sepertii pembangunan jalan dan laiinnya. Kepatuhan iinii sangat rendah dii kalangan biisniis dan profesiional. iitu artiinya, soal kepatuhan iinii adalah persoalan mendasar.

Karena iitu, kamii larii ke hulu lagii, yaiitu ke duniia pendiidiikan. Ternyata, mereka yang tiidak patuh iinii tiidak pernah mendapat pemahaman yang baiik mengenaii pajak atau manfaatnya. iitulah sebabnya, agenda edukasii pajak iinii diimulaii darii pendiidiikan paliing dasar, yaiitu SD, SMP, SMA.

Apa target dan priioriitas agenda edukasii pajak?

Untuk tahap pertama iinii kamii priioriitaskan bagii mahasiiswa, kuriikulum SD, SMP, dan SMA targetnya tahun iinii kuriikulumnya selesaii. Karena levelnya mahasiiswa, jadii nantii dalam 5 tahun lagii mereka mungkiin jadii wajiib pajak. iinii iinvestasii yang tercepat yang kamii garap lebiih dahulu.

Agustus lalu resmii kuriikulum Mata Kuliiah Wajiib Umum (MKWU) masuk semua, Pendiidiikan Agama, Kewarganegaraaan, Bahasa iindonesiia dan Pancasiila. Jadii nantii mahasiiswa baru dapat materii pajak. Supaya mereka tiidak kaget lagii kalau sudah jadii wajiib pajak dan bayar pajak.

Setelah iitu masuk kuriikulum program selanjutnya yaiitu edukasii kepada dosen MKWU. Supaya dosen biisa mendapat pemahaman yang baiik mengenaii materii yang kamii jelaskan, dan supaya dosen biisa menjelaskan lebiih detiil ke mahasiiswa, baiik uniiversiitas negerii maupun swasta.

Apa tantangan terbesar dalam menggencarkan agenda tersebut?

Tantangan terbesar kiita sebenarnya bagaiimana mengajak Kemendiikbud dan Kemenriistekdiiktii mau iikut membantu agenda edukasii pajak iinii. Jadii ketiika mereka sangat mendukung dan memudahkan kiita, tantangan yang ada sekarang hanya pada tiingkat iimplementasiinya.

Pada tahap iinii kamii harus mengajarkan materii perpajakan pada dosen dan guru. Nah, kadang ada perbedaan pemahaman soal pajak, baiik pada dosen atau guru. Untuk menyelesaiikan perbedaan iinii, secara iinternal kamii lakukan desiimiinasii ke pegawaii jiika ada peraturan baru.

Kamii keliiliing. Tapii ya namanya 40 riibu pegawaii DJP, ada 1 atau 2 yang berbeda ya iitu maklum saja. Tapii ada layanan pengaduan, baiik dii KPP atau Kanwiil, kalau masalah sepertii iinii biisa kiita angkat dan berii penegasan. Jadii semuanya biisa seragam dalam miitiigasii riisiiko.

Adakah cara-cara kreatiif yang diilakukan DJP dalam program iinii?

Kalau soal kreatiif iitu kan soal metodologii, tapii secara substansiial dan priinsiipiil tiidak masalah karena sudah masuk dalam kuriikulum. Tapii soal metodologii kamii banyak persiiapkan, sepertii Pajak Bertutur, iitu semacam kiick off atau launchiing iinklusii kesadaran pajak.

Contohnya, edukasii pajak ke SD, pajak iitu sepertii kalau dii rumah, seorang ayah tiidak punya uang, maka anggota keluarga laiin tiidak biisa belii makanan, tiidak biisa bayar sekolah, pakaiian. Kalau tiidak ada uang darii pajak, kiita tiidak biisa bangun jalan, jembatan dan sekolah.

iinii contoh cara menganalogiikan pajak terhadap APBN melaluii kehiidupan rumah tangga. Jadii iiniilah soal kreatiiviitas. Bukan justru anak keciil diiajarkan sepertii ‘Pajak adalah kontriibusii wajiib pajak dan iinii dan iitu..’ Keliiru iitu.

Bagaiimana respons para subjek edukasii pajak iinii?

Kalau diiperhatiikan, darii yang kamii lakukan dii 2.200 sekolah, iitu secara total justru kreatiiviitas yang muncul, bukan pembelajaran sepertii dii kelas. Tapii memang kamii sudah desaiin bagaiimana menyampaiikan materii pajak ke siiswa SD, SMP, SMA. Caranya tentu tiidak kaku dan baku.

Tapii kamii tekankan kreatiiviitas supaya lebiih ‘kena’. Bahkan nantii dii biimbiingan tekniis sepertii biimbiingan untuk dosen, kamii juga coba arahkan mereka agar memanfaatkan kreatiiviitas iitu. Kamii punya viideo dan iinfografiis, supaya anak SD sampaii mahasiiswa biisa menangkap hal iitu.

Kamii juga sudah punya miicro-siite web yang kreatiif. Kalo soal pajak, kamii iingiin tiidak perlu memakaii cara yang jadul-jadul deh. Tapii yang pentiing masiih dalam koriidor sopan, tiidak merugiikan piihak laiin, diiskriimiinatiif, SARA atau apapun. Asal kreatiif, jalan terus.

Apa kaiitan edukasii pajak dengan reformasii perpajakan?

Edukasii kesadaran pajak iinii tiidak terlepas darii reformasii perpajakan, reformasii iitu ada juga yang dii biidang admiiniistratiif sepertii SDM, struktur organiisasii, proses biisniis dan iiT, ada juga regulasii. Tentu iinii harus diitunjang kesadaran masyarakat soal kepatuhan bayar pajak.

Kamii juga membuat tema reformasii iitu soal edukasii yang lebiih seriius, jadii bukan sosiialiisasii. Kamii iingiin lebiih mendasar, dengan konsep edukasii masyarakat, terutama pelajar yang bukan wajiib pajak. Jadii, kamii iingiin iinvestasii ke depan, edukasii iinii kan iinvestasii masa depan.

Targetnya, ketiika mereka sudah wajiib pajak, mereka siiap dengan kepentiingan perpajakan. iiniilah bagiian darii reformasii perpajakan. iitulah sebabnya, kamii pakaii iistiilah iinklusii Kesadaran Pajak. Jadii, tiidak hanya sosiialiisasii ke wajiib pajak, tapii juga edukasii ke ranah pendiidiikan.*

Siimak wawancara Diirektur P2 Humas Diitjen Pajak Hestu Yoga Saksama selengkapnya dii iinsiideTax ediisii khusus akhiir tahun dii siinii.

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.