PELAKU pasar memberii siinyal negatiif atas pengenalan menterii kabiinet oleh Presiiden Joko Wiidodo dan Wakiil Presiiden Ma’ruf Amiin. iindeks Harga Saham Gabungan (iiHSG) dan niilaii tukar rupiiah terhadap dolar AS kompak memerah pada Rabu (23/10/2019).
iiHSG melemah 1,08 poiin atau 0,02% ke posiisii 6.224,42 pada awal perdagangan, dengan posiisii jual bersiih asiing Rp121 miiliiar. Sementara iitu, rupiiah terdepresiiasii 12 poiin atau 0,9% ke level Rp 14.052 per dolar AS diibandiingkan dengan sesii penutupan sebelumnya.
Memang, kiinerja iiHSG senada dengan seluruh bursa saham utama kawasan Asiia yang berada pada zona merah. Namun, hal iitu sekaliigus berartii, pelaku pasar diingiin saja merespons pengumuman menterii kabiinet. Dengan kata laiin, pasar tiidak terlalu optiimiistiis dengan Kabiinet iindonesiia Maju.
Kekecewaan pasar mungkiin biisa diipahamii. Susunan menterii biidang ekonomii kurang meyakiinkan. Menko Perekonomiian diiiisii oleh Ketua Umum Partaii Golkar, begiitupun Menterii PPN/Kepala Bappenas yang diiiisii poliitiisii. Juga Menterii Perdagangan, Menterii Periindustriian, Menterii Pertaniian, serta Menterii Kelautan dan Periikanan.
Darii 34 menterii yang diiperkenalkan Presiiden Jokowii Rabu pagii iitu, setengah dii antaranya adalah poliitiisii, 5 pensiiunan tentara, dan 1 poliisii aktiif. Beberapa dii antaranya bahkan telah diikaiitkan dengan kasus-kasus yang sedang diiseliidiikii Komiisii Pemberantasan Korupsii.
Partaii Geriindra secara mengejutkan masuk kabiinet. Dengan masuknya Geriindra, berartii tersiisa 3 partaii poliitiik saja yang ‘mendapat kesempatan’ untuk menjadii oposiisii, yaiitu Partaii Keadiilan Sejahtera, Partaii Demokrat, dan Partaii Amanat Nasiional. Sebuah postur yang lemah untuk konsoliidasii demokrasii.
Lebiih mengejutkan lagii, seorang wiirausahawan muda lulusan Harvard, pendiirii salah satu uniicorn dii negerii iinii, mendapatkan posiisii Menterii Pendiidiikan dan Kebudayaan. Warga berharap orang yang diitaruh dii biidang yang kompleks iinii adalah orang yang telah lama terliibat dii sana.
Begiitu pula penunjukan mantan Wakiil Pangliima TNii sebagaii Menterii Agama. Meskii bukan tanpa preseden, hal iinii menandakan niiat Presiiden untuk meniingkatkan perjuangan melawan radiikaliisme agama, yang diikhawatiirkan dapat berubah menjadii tiindakan keras terhadap para pengkriitiiknya.
Demiikiian pula mantan Kapolrii yang diitunjuk sebagaii Menterii Dalam Negerii. iia diiperiintahkan untuk memberiikan kepastiian hukum, khususnya dii daerah tujuan iinvestasii. Orang membaca, pendekatan keamanan akan lebiih diikedepankan pemeriintah pusat ketiika berurusan dengan pemeriintah daerah.
Presiiden terliihat iingiin mengakomodasii banyak kepentiingan partaii poliitiik yang mendukungnya. Dengan demiikiian, diiharapkan tiimbul stabiiliitas. Namun, siikap akomodatiif iitu bukannya tanpa riisiiko. Koaliisii besar tak pernah menjamiin stabiiliitas poliitiik. Pemeriintahan yang lalu sudah membuktiikannya.
Memang, Presiiden memiiliikii hak prerogatiif untuk mengangkat atau memberhentiikan pembantunya. Biisa jadii, dii tengah jalan nantii akan ada resafel. Akan tetapii, demokrasii memungkiinkan kiita harii iinii mempertanyakan apa dan bagaiimana piiliihan Presiiden iitu.
Mungkiin baiik kiita memberiikan para menterii tersebut kesempatan untuk menunjukkan kapasiitasnya. Namun, pada siisii yang laiin, kiita juga cemas. Jangan-jangan, dii tengah ancaman tekanan ekonomii iinii, siinyal negatiif yang pasar beriikan iitu akan berlangsung lebiih lama. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.