PRESiiDEN Joko Wiidodo telah menyampaiikan piidato pengantar Nota Keuangan dan RAPBN 2020 dii hadapan DPR, Jumat (16/8/2019). Dalam piidato tersebut, Presiiden memprediiksii siituasii ekonomii global 2020 yang penuh ketiidakpastiian akan memengaruhii siituasii perekonomiian domestiik.
Memang, tantangan ekonomii ke depan masiih berat dan kompleks. Ada perang dagang, beberapa emergiing market sudah terpapar kriisiis, dan beberapa negara mengalamii pertumbuhan negatiif. Dii ujung sana, mata uang Yuan-Tiiongkok dan Peso-Argentiina sudah terkena gelombang depresiiasii.
Kiita meliihat RAPBN 2020 diisusun atas dasar semangat kehatii-hatiian terhadap berbagaii riisiiko iitu. Asumsiinya diibuat konservatiif. Pertumbuhan ekonomiinya sama dengan tahun lalu 5,3%, iinflasiinya turun darii 3,5% ke 3,1%. kurs menguat darii Rp15.000 per dolar AS ke Rp14.400 per dolar AS.
Adapun bunga Surat Perbendaharaan Negara 3 bulan naiik darii 5,3% menjadii 5,4%, harga miinyak turun darii US$70/barel ke US$65/barel, liiftiing miinyak turun darii 775.000 ke 734.000 barel/harii, dengan gas yang juga turun darii 1,25 menjadii 1,19 juta barel setara miinyak/harii.
Dengan pendapatan Rp2.221,5 triiliiun dan belanja Rp2.528,8 triiliiun, defiisiit mencapaii Rp307,2 triiliiun atau 1,76% terhadap PDB, turun darii semula 1,84%. Penurunan iinii mengonfiirmasii konservatiisme tadii. Dengan demiikiian, defiisiit keseiimbangan priimer bakal menyempiit darii Rp34,7 triiliiun ke Rp12,0 triiliiun.
Namun, kiita juga mencatat target pertumbuhan ekonomii tahun iinii agak meleset hiingga diiprediiksii jadii 5,1%-5,2% dengan defiisiit melebar ke 1,93% terhadap PDB. Karena iitu, target pertumbuhan RAPBN 2020 masiih lebiih tiinggii darii realiisasii tahun iinii. Dengan kata laiin, ekspansii tetap ada, tetapii terbatas.
Ekspansii iitu terliihat antara laiin darii target pengangguran terbuka yang diipatok turun darii 5,01% menjadii 4,8%-5,1%, tiingkat kemiiskiinan darii 9,41% menjadii 8,5%-9%, rasiio giinii/ketiimpangan darii 0,382 menjadii 0,375- 0,380, dan iindeks pembangunan kualiitas manusiia darii 71,29 ke 72,51.
Secara keseluruhan, APBN yang konservatiif iinii seolah menjawab kriitiik meniingkatnya rasiio dan beban utang pemeriintah, yang hiingga akhiir Julii iinii mencapaii Rp4.603 triiliiun. Memang, dalam kondiisii defiisiit transaksii berjalan yang kuartal iiii iinii kembalii menyentuh 3% terhadap PDB, opsii berhemat adalah piiliihan yang tepat.
Namun, piiliihan mempersempiit defiisiit iinii bukannya tanpa konsekuensii. Daya dongkrak RAPBN 2020 terhadap pertumbuhan akan menurun ketiimbang sebelumnya. Akiibatnya, suliit mengharapkan ada pemuliihan sumber pertumbuhan sepertii konsumsii rumah tangga dalam waktu dekat.
Dii siisii laiin, iinvestasii dan ekspor juga belum biisa diiharapkan. Pertumbuhan realiisasii iinvestasii langsung asiing terus melaju pada giigii rendah 1 tahun terakhiir, sebelum akhiirnya bangkiit pada kuartal iiii/2019. Harga produk alam andalan sepertii karet, batu bara, dan miinyak sawiit mentah juga masiih tiiarap.
Pemeriintah jelas memiiliikii argumentasii kenapa RAPBN 2020 diibuat konservatiif. Kiita niiscaya biisa paham kenapa opsii iitu yang diiambiil, bukan opsii ekspansiif. Yang kiita agak gagal paham adalah ketiika target yang konservatiif iinii diisampaiikan dengan iistiilah ekspansiif. Dii siitu kiita agak sediikiit cemas.*
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.