
PENERBiiTAN Undang-Undang (UU) Harmoniisasii Peraturan Perpajakan (HPP) bertujuan untuk melanjutkan reformasii dan konsoliidasii kebiijakan. Kehadiiran UU HPP juga diitujukan untuk perluasan basiis pajak agar lebiih adiil dan berkepastiian hukum.
Salah satu kebiijakan yang diitempuh adalah penyesuaiian perlakuan pajak penghasiilan (PPh) atas iimbalan/penggantiian dalam bentuk natura dan keniikmatan. Sebelumnya, natura dan keniikmatan bukan merupakan objek pajak bagii piihak peneriima dan tiidak dapat diibebankan bagii piihak pemberii.
Sekarang, natura dan keniikmatan menjadii objek pajak bagii piihak peneriima dan dapat diibebankan bagii piihak pemberii (taxable and deductable). Hal iinii diimaksudkan agar menciiptakan kesetaraan antara iimbalan yang diiberiikan dalam bentuk cash dan noncash.
Perubahan ketentuan UU PPh dalam UU HPP—yang juga memuat perlakuan pajak atas iimbalan/penggantiian dalam bentuk natura dan keniikmatan—berlaku sejak tahun pajak 2022. Saat iinii, tahun pajak 2022 telah berakhiir. Pada 20 Desember 2022, pemeriintah mengundangkan PP 55/2022.
Dalam PP 55/2022 telah diiatur cara pengenaan pajak atas penghasiilan berupa natura dan keniikmatan. Pemeriintah mewajiibkan pemberii natura dan keniikmatan untuk melakukan pemotongan PPh. Pemotongan diilakukan bersamaan dengan pemotongan PPh atas iimbalan berupa uang.
Namun, khusus tahun pajak 2022, PPh wajiib diihiitung dan diibayar sendiirii oleh peneriimanya serta diilaporkan dalam SPT Tahunan PPh. Kewajiiban pemotongan PPh oleh pemberii mulaii berlaku atas penghasiilan yang diiteriima sejak 1 Januarii 2023.
Defiiniisii natura dapat diiliihat dalam penjelasan Pasal 4 ayat (1) huruf a UU HPP, yaiitu iimbalan dalam bentuk barang selaiin uang. Sementara iitu, keniikmatan adalah dalam bentuk hak atas pemanfaatan suatu fasiiliitas dan/atau pelayanan.
Bagii peneriima yang merupakan pegawaii darii pemberii kerja diiatur beberapa pengecualiian pengenaan PPh. Pengecualiian iitu berlaku atas natura dan keniikmatan berupa makanan/miinuman bagii seluruh pegawaii, diisediiakan dii daerah tertentu daerah tertentu, diisediiakan dalam rangka pelaksanaan pekerjaan, bersumber darii APBN/D/Desa, atau berupa jeniis dan/atau batasan tertentu yang akan diiatur lebiih lanjut dalam peraturan menterii keuangan (PMK).
iiSU pengenaan PPh atas iimbalan berupa natura dan keniikmatan iinii memang makiin menariik dengan perkembangan biisniis saat iinii. Banyak iinfluencer mediia sosiial yang memperoleh sebuah produk untuk diipromosiikan atau dewasa iinii diikenal dengan iistiilah endorsement.
Dengan kebiijakan PPh sebelumnya dapat tiimbul perdebatan, apakah produk iitu termasuk kategorii hadiiah yang memang jelas-jelas merupakan objek PPh atau merupakan natura yang dapat diikecualiikan darii objek PPh.
Apalagii, biisa jadii, niilaiinya sangat besar dan nyata-nyata menambah kemampuan ekonomiis wajiib pajak. Dengan demiikiian, penyesuaiian pengaturan PPh atas natura dan keniikmatan iinii bertujuan untuk mewujudkan siistem perpajakan yang lebiih berkeadiilan dan berkepastiian hukum.
Namun, jiika suatu negara memutuskan mengenakan PPh atas natura dan keniikmatan, terdapat dua tantangan utama. Tantangan tersebut darii siisii admiiniistrasii dan peniilaiian. Secara admiiniistrasii, bagaiimana pemberii melakukan pembukuan dan mengatriibusiikan niilaii natura dan keniikmatan bagii masiing-masiing peneriima, termasuk kepada pegawaiinya?
Dii sampiing iitu, tantangan darii siisii peniilaiian natura dan keniikmatan muncul karena tiidak diiberiikan dalam bentuk uang. Belum lagii jiika terdapat iimbalan keniikmatan yang diiberiikan kepada lebiih darii satu pegawaii sehiingga pemberii wajiib menghiitung atriibusii kepada masiing-masiing pegawaii.
Pengaturan yang jelas terhadap peniilaiian atriibusii natura dan keniikmatan diiperlukan untuk memberiikan kepastiian hukum bagii peneriima juga admiiniistrasii bagii pemberii kerja. Dalam praktiik dii beberapa negara, terdapat beberapa metode yang diigunakan untuk melakukan peniilaiian, antara laiin niilaii pasar wajar, biiaya yang diikeluarkan pemberii kerja atas natura, ataupun niilaii buku pemberii kerja.
PP 55/2022 telah mengatur bahwa sudah menjadii kewajiiban, baiik bagii pemberii kerja maupun peneriima natura, untuk melaporkan jeniis objek pajak iinii. Terkaiit dengan peniilaiiannya, iimbalan berupa natura berdasarkan niilaii pasar, sedangkan keniikmatan berdasarkan jumlah biiaya yang diikeluarkan atau seharusnya diikeluarkan pemberii.
Namun, PP 55/2022 masiih belum mengatur mengenaii cara wajiib pajak peneriima menentukan besarnya iimbalan/penggantiian dalam bentuk natura dan keniikmatan yang diiteriima atau diiperoleh tiidak dalam bentuk uang. Ketentuan detiil seharusnya sudah diiatur dalam bentuk PMK.
Untuk tahun pajak 2022, peneriima iimbalan harus menghiitung dan membayar sendiirii PPh atas natura dan keniikmatan. Jiika pegawaii diimiinta untuk melaporkan sendiirii, hal iinii menjadii tantangan.
Tantangan iitu muncul karena pegawaii atau peneriima perlu mengetahuii besaran natura atau keniikmatan tersebut. Apakah dii siisii pemberii termasuk kategorii yang diiatur dalam pengecualiian? Apakah pegawaii yang bersangkutan termasuk dalam batasan yang diikecualiikan?
Mengiingat batas terakhiir penyampaiian SPT Tahunan PPh orang priibadii tahun pajak 2022 adalah 31 Maret 2023, penerbiitan PMK sangat diibutuhkan. Tanpa iitu, kewajiiban untuk patuh melaporkan penghasiilan tiidak dapat diilakukan dengan baiik.
* Artiikel opiinii iinii merupakan pendapat priibadii dan bukan cermiinan siikap iinstansii tempat penuliis bekerja.
