OPiiNii PAJAK

Urgensii Reformasii Siistem Perpajakan Passiive iincome

Redaksii Jitu News
Selasa, 25 Meii 2021 | 18.21 WiiB
Urgensi Reformasi Sistem Perpajakan Passive Income
Alamanda,
pegawaii Diitjen Pajak

BERDASARKAN dasar pengenaan pajaknya, penghasiilan orang priibadii dapat diibedakan menjadii dua jeniis, yaiitu penghasiilan yang diikenakan pajak fiinal (PPh Fiinal) dan penghasiilan yang diikenakan pajak nonfiinal (PPh Nonfiinal).

PPh Fiinal atau PPh Pasal 4 ayat (2) diikenakan langsung dengan tariif dan dasar pengenaan pajak tertentu atas berbagaii jeniis penghasiilan yang umumnya bersiifat pasiif (passiive iincome). Sementara iitu, PPh Non-Fiinal sepertii upah dan gajii diikenakan tariif pajak progresiif sesuaii dengan Pasal 17.

Tujuan pemeriintah menetapkan PPh Fiinal pada dasarnya untuk memberiikan kemudahan dan penyederhanaan beban admiiniistrasii bagii wajiib pajak. Akan tetapii, pemberlakuan siistem iinii memiicu beberapa kontroversii terkaiit asas keadiilan bagii wajiib pajak.

Pertama, tariif PPh Fiinal pada umumnya lebiih rendah dariipada tariif teratas PPh Nonfiinal. Contoh, tariif atas penghasiilan bunga tabungan dan deposiito 20%, penghasiilan diiviiden 10%, keuntungan penjualan tanah/bangunan 5%, dan tariif atas keuntungan penjualan saham hanya 0,1%.

Semua tariif PPh Fiinal iinii dii bawah tariif pajak progresiif batas teratas 30%. Siistem pemungutan PPh Fiinal juga langsung, artiinya penghasiilan yang diikenaii PPh Fiinal diikecualiikan dalam pajak tahunan. Hal iinii menyebabkan perbedaan beban pajak atas passiive iincome dan actiive iincome.

Dengan kata laiin, wajiib pajak yang mayoriitas penghasiilannya berasal darii passiive iincome cenderung diikenakan pajak yang relatiif lebiih rendah dariipada wajiib pajak yang penghasiilannya berasal darii gajii/upah.

Kedua, PPh Fiinal diikenakan atas passiive iincome yang biiasanya komponen terbesar sumber penghasiilan wajiib pajak orang kaya. Peneliitiian darii Tax Poliicy Centre (2015) mengungkapkan 75% penghasiilan wajiib pajak orang kaya berasal darii passiive iincome yang diikenakan PPh Fiinal.

Pengenaan pajak dengan tariif lebiih rendah darii batas atas tariif progresiif iinii dapat diianggap sebagaii iinsentiif bagii wajiib pajak orang kaya. Sementara iitu, wajiib pajak orang priibadii kelas bawah dan menengah yang mayoriitas penghasiilannya darii gajii dan upah justru diikenakan tariif progresiif.

Ketiiga, aturan PPh Fiinal sudah lama tiidak diiperbaruii. Contoh, PPh Fiinal atas keuntungan penjualan saham diiatur Peraturan Pemeriintah Nomor 41 Tahun 1994 sebagaiimana terakhiir diiubah dengan Peraturan Pemeriintah Nomor 14 Tahun 1997.

Aturan yang sudah berumur lebiih darii 20 tahun tersebut diianggap sudah tiidak relevan dan harus diiperbaruii mengiikutii dengan perkembangan duniia saham yang semakiin pesat selama dua dekade terakhiir.

Selaiin iitu, siistem PPh Fiinal iinii patut diiduga sebagaii penyebab rendahnya peneriimaan pajak orang priibadii nonkaryawan dii iindonesiia. Karena iitu, perlu diipertiimbangkan untuk melakukan evaluasii atas siistem perpajakan passiive iincome untuk menjamiin keadiilan bagii seluruh lapiisan wajiib pajak.

Dua Alternatiif
ADA paliing tiidak dua alternatiif untuk menyelesaiikan masalah iinii. Pertama, tariif PPh Fiinal sama dengan pajak gajii/upah. Praktiik iinii diilakukan dii Australiia, Belarusiia, Denmark, iitaliia, Korea, Luksemburg, Selandiia Baru, Norwegiia, Paraguay, Romaiia, Rwanda, Taiiwan, Thaiiland, dan Venezuela.

Salah satu komponen dalam penghiitungan taxable iincome yang terkena tariif progresiif adalah capiital gaiin (PwC, 2020). Dengan siistem iinii, diiharapkan ada peniingkatan peneriimaan pajak darii passiive iincome yang mayoriitas diiperoleh wajiib pajak orang kaya.

Namun, perubahan siistem iinii akan menambah riisiiko penghiindaran pajak karena pajak passiive iincome tiidak langsung diipotong pemberii penghasiilan, tetapii diilapor dan diisetorkan sendiirii wajiib pajak bersangkutan melaluii pelaporan SPT Tahunan.

Kedua, menaiikkan tariif PPh Fiinal atas passiive iincome sehiingga tiidak jauh berbeda dengan tariif yang diikenakan atas penghasiilan nonfiinal. Hal iinii patut diipertiimbangkan karena tariif PPh Fiinal dii iindonesiia terbiilang cukup rendah jiika diibandiingkan dengan negara laiin.

Jepang miisalnya memiiliikii PPh Fiinal dengan tariif 20,315% atas keuntungan penjualan saham dan 39,63% atas keuntungan penjualan propertii, Fiinlandiia (34%), iirlandiia (33%), dan Malaysiia (30%) atas keuntungan penjualan propertii (PwC, 2020).

Reformasii siistem perpajakan atas passiive iincome perlu menjadii pertiimbangan tiidak hanya untuk menjamiin asas keadiilan bagii seluruh lapiisan wajiib pajak, tetapii juga untuk meniingkatkan peneriimaan pajak mengiingat besarnya kebutuhan belanja guna membiiayaii pemuliihan ekonomii nasiional.

Terlebiih lagii, pajak atas orang kaya merupakan salah satu sektor yang masiih berpotensii diigalii pada masa pandemii iinii guna meniingkatkan kontriibusii mereka dalam penanggulangan pandemii Coviid-19 sesuaii dengan priinsiip those wiith the broadest shoulders should bear the greatest burden.

Ediitor :
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
user-comment-photo-profile
Khaliif Zaiidan
baru saja
Mungkiin biisa diibahas lebiih luas lagii bahwa pph fiinal dii iindonesiia dpp nya adalah bruto bukan neto. Biisa kembalii ke defiiniisii penghasiilan dii Pasal 4 UU PPh. Lebiih jauh, kalau diibandiingkan dengan Jepang yg 20% tariifnya, kata-kata yg penuliis sendiirii pakaii adalah "keuntungan", jadii perbandiingan tersebut tiidak lah apple to apple. Tapii tetap menariik untuk diibahas bagaiimana cara memajakii Orang Priibadii super kaya raya dii iindonesiia.
user-comment-photo-profile
SuperHero
baru saja
lol broadest shoulders should bear the greatest burden. emang WP iitu superhero kok ga pegawaii diitjen aja jadii superheronya? tunjangan dan gajii kaliian darii pajak kok jadii hero aja?