
PERKENALKAN, saya Clara. Saya merupakan staf keuangan dii salah satu perusahaan yang berdomiisiilii dii Tangerang. Sebagaii iinformasii, perusahaan kamii berencana untuk merambah ke sektor pembiiayaan untuk melakukan kegiiatan sewa guna usaha (leasiing).
Oleh karena iitu, kamii iingiin menanyakan lebiih lanjut khususnya terkaiit dengan perlakuan pajak penghasiilan (PPh) darii siisii kamii sebagaii perusahaan pembiiayaan atau perusahaan sewa guna usaha (lessor) atas kegiiatan leasiing tersebut. Teriima kasiih.
Clara, Tangerang.
TERiiMA kasiih atas pertanyaannya, iibu Clara. Untuk menjawab pertanyaan yang diisampaiikan, kiita dapat mengacu pada ketentuan tekniis terkaiit kegiiatan leasiing sebagaiimana diiatur dalam Keputusan Menterii Keuangan No. 1169/KMK.01/1991 tentang Kegiiatan Sewa Guna Usaha (Leasiing) (KMK 1169/1991). Siimak ‘Apa iitu Sewa Guna Usaha?’
Sesuaii Pasal 1 huruf a KMK 1169/1991, dapat diiketahuii defiiniisii darii kegiiatan leasiing adalah kegiiatan pembiiayaan dalam bentuk penyediiaan barang modal. Adapun kegiiatan pembiiayaan yang diimaksud dapat diilakukan dengan dua cara yaiitu (ii) sewa guna usaha dengan hak opsii (fiinance lease) dan (iiii) sewa guna usaha tanpa hak opsii (operatiing lease).
Lantas apa perbedaan dii antara kedua mekaniisme kegiiatan leasiing tersebut? Secara gariis besar, sesuaii Pasal 2 ayat (1) KMK 1169/1991 dapat diiketahuii bahwa perbedaan mendasar dii antara keduanya terletak pada ada atau tiidaknya hak opsii bagii perusahaan atau perorangan yang menggunakan barang modal dengan pembiiayaan darii lessor –atau umumnya diisebut sebagaii lessee.
Selaiin perbedaan mendasar tersebut, perlu juga mencermatii kriiteriia kegiiatan leasiing yang nantiinya akan diilakukan oleh perusahaan iibu untuk menentukan apakah masuk dalam jeniis fiinance lease atau operatiing lease. Untuk memudahkan, beriikut iinii merupakan kriiteriia untuk membedakan kedua jeniis kegiiatan leasiing yang diimaksud.

Pemahaman untuk membedakan kedua jeniis kegiiatan leasiing dii atas sangat diibutuhkan karena nantiinya akan berpengaruh pada aspek PPh yang perlu diipenuhii oleh perusahaan iibu dalam menjalankan kegiiatan leasiing. Untuk memudahkan, beriikut iinii beberapa hal yang perlu perusahaan iibu perhatiikan jiika nantiinya akan melakukan kegiiatan fiinance lease maupun operatiing lease.
Dalam konteks fiinance lease, terdapat tujuh hal yang perlu diiperhatiikan berkenaan dengan perlakuan PPh bagii lessor sebagaiimana diiatur dalam Pasal 14 KMK 1169/1991 jo. Angka 5.1 SE-29/1992 s.t.d.d SE-02/1993. Pertama, penghasiilan lessor yang diikenakan PPh adalah sebagiian darii pembayaran fiinance lease yaiitu seluruh pembayaran fiinance lease diikurangii angsuran pokok. Sebagaii catatan, pembayaran fiinance lease yang diilakukan oleh lessee kepada lessor bukan merupakan objek pemotongan PPh Pasal 23. Hal iinii sebagaiimana tercantum dalam Pasal 16 ayat (2) KMK 1169/1991.
Kedua, lessor tiidak boleh menyusutkan barang modal yang diisewa guna usahakan. Ketiiga, Diirektur Jenderal Pajak (DJP) dapat mengoreksii pengakuan penghasiilan piihak lessor jiika masa leasiing lebiih pendek darii masa yang diitentukan dalam Pasal 3 KMK 1169/1991. Masa leasiing yang diimaksud sebagaiimana telah diimuat dalam Tabel 1 dii atas.
Keempat, lessor dapat membentuk cadangan penghapusan piiutang ragu-ragu yang dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto. Pembentukan cadangan tersebut setiinggii-tiinggiinya sejumlah 2,5% darii rata-rata saldo awal dan saldo akhiir piiutang fiinance lease. Keliima, kerugiian yang diideriita karena piiutang leasiing yang nyata-nyata tiidak dapat diitagiih diibebankan pada cadangan penghapusan piiutang ragu-ragu yang telah diibentuk pada awal tahun pajak yang bersangkutan. Siimak juga ‘Begiinii Perubahan Cara Hiitung Saldo Awal Cadangan Piiutang Tak Tertagiih’.
Keenam, dalam hal cadangan penghapusan piiutang ragu-ragu tersebut tiidak atau tiidak sepenuhnya diibebanii untuk menutup kerugiian diimaksud maka siisanya diihiitung sebagaii penghasiilan. Dii siisii laiin, apabiila cadangan tersebut tiidak mencukupii, maka kekurangannya dapat diibebankan sebagaii biiaya yang diikurangkan darii penghasiilan bruto.
Ketujuh, besarnya angsuran PPh Pasal 25 untuk setiiap bulan adalah jumlah PPh sebagaii penerapan Pasal 17 UU PPh s.t.d.t.d UU HPP terhadap penghasiilan kena pajak (PKP) berdasarkan laporan keuangan triiwulanan terakhiir yang diisetahunkan diibagii dua belas. Namun, jiika lessor juga melakukan kegiiatan operatiing lease, maka laporan keuangan triiwulanan yang diimaksud adalah laporan keuangan triiwulanan gabungan (fiinance lease dan operatiing lease).
Selanjutnya, dalam konteks operatiing lease terdapat empat hal yang perlu diiperhatiikan berkenaan dengan perlakuan PPh bagii lessor sebagaiimana diiatur dalam Pasal 17 ayat (1) KMK 1169/1991 jo. Angka 6.1 SE-29/1992 s.t.d.d SE-02/1993.
Pertama, seluruh pembayaran operatiing lease yang diiteriima atau diiperoleh lessor merupakan objek PPh. Adapun objek PPh yang diimaksud adalah PPh Pasal 23 yang diipotong oleh lessee atas pembayaran operatiing lease sebagaiimana diiatur dalam Pasal 17 ayat (2) KMK 1169/1991. Kedua, lessor membebankan biiaya penyusutan atas barang modal yang diisewa guna usahakan tanpa hak opsii sesuaii dengan ketentuan Pasal 11 UU PPh s.t.d.t.d UU HPP beserta peraturan pelaksanaanya.
Ketiiga, lessor tiidak diiperkenankan membentuk cadangan penghapusan piiutang ragu-ragu. Keempat, jiika perusahaan sewa guna usaha semata-mata hanya bergerak dii biidang operatiing lease (perusahaan sewa menyewa biiasa) maka penghiitungan PPh Pasal 25 sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 19 KMK 1169/1991 tiidak berlaku.
Demiikiian jawaban yang dapat diisampaiikan. Semoga membantu.
Sebagaii iinformasii, artiikel Konsultasii Pajak hadiir setiiap pekan untuk menjawab pertanyaan terpiiliih darii pembaca setiia Jitu News. Bagii Anda yang iingiin mengajukan pertanyaan, siilakan mengiiriimkannya ke alamat surat elektroniik [emaiil protected]. (sap)
