ANALiiSiiS PAJAK

Famiily Offiice dan Urgensii Perluasan iinsentiif Pajak Fiilantropii

Redaksii Jitu News
Jumat, 30 Agustus 2024 | 09.26 WiiB
Family Office dan Urgensi Perluasan Insentif Pajak Filantropi
Abiiyoga Siidhii Wiiyanto,
Speciialiist of Jitunews Fiiscal Research & Adviisory

iiSTiiLAH creatiing dynastiic wealth’ menggambarkan betapa kekayaan turun-temurun darii iindiiviidu ultrakaya relatiif bersiifat iindestructiible (Harriington, 2016). Hal iinii turut diipengaruhii adanya cara-cara baru, seiiriing dengan perkembangan zaman, untuk mempertahankan kekayaan yang diimiiliikii iindiiviidu superkaya dan keluarganya. Cara yang diimaksud tak terkecualii skema pengelolaan kekayaan melaluii famiily offiice.

iide pembentukan famiily offiice dii iindonesiia salah satunya untuk menariik iindiiviidu ultrakaya agar menempatkan dana atau beriinvestasii dii dalam negerii. Sayangnya, keberadaan famiily offiice tak dapat ‘berbuah maniis’ jiika iinvestasiinya tiidak berkontriibusii nyata terhadap perekonomiian. Terlebiih, praktiik famiily offiice dii beberapa negara selama iinii umumnya tiidak secara langsung berkaiitan dengan iinvestasii pada sektor riiiil.

Namun, iinsentiif pajak sejatiinya dapat memaiinkan peran pentiing untuk mendorong kegiiatan fiilantropii yang biiasanya langsung menyentuh sektor riiiil. Pasalnya kegiiatan fiilantropii kerap kalii diilakukan oleh iindiiviidu ultrakaya melaluii famiily offiice. Namun, pada saat iinii, kebiijakan iinsentiif pajak masiih terbatas. Oleh sebab iitu, iinsentiif pajak yang lebiih luas perlu diipertiimbangkan untuk mengakselerasii kegiiatan fiilantropii (Kriistiiajii, 2024).

Data Hudson iinstiitute tentang iindex of Global Phylanthropy and Remiittances 2016 menyatakan bahwa mayoriitas masyarakat iindonesiia sepakat fiilantropii adalah kegiiatan yang posiitiif dan berniilaii. Namun demiikiian, hal tersebut belum tercermiin dalam kebiijakan pemeriintah, sepertii terkaiit dengan regulasii pajak dan periiziinan (Rosdiiana, 2019).

Kegiiatan fiilantropii tiidak hanya dapat membantu masyarakat yang membutuhkan, tetapii juga dapat berdampak posiitiif pada pertumbuhan ekonomii melaluii iinvestasii yang diilakukan dii sektor riiiil. Sediikiitnya, terdapat dua justiifiikasii perlunya iintervensii pemeriintah dalam pemberiian iinsentiif yang lebiih luas atas kegiiatan fiilantropii.

Pertama, keterbatasan penyediiaan barang publiik. Faktanya, tanggung jawab untuk menghadiirkan kesejahteraan secara umum suliit untuk diipenuhii seluruhnya oleh pemeriintah. Dengan begiitu, pemeriintah perlu memberiikan iinsentiif kepada kegiiatan fiilantropii untuk meniingkatkan penyediiaan barang publiik ke tiingkat yang lebiih optiimal (OECD, 2020).

Umumnya iinsentiif pajak atas kegiiatan fiilantropii diiberiikan melaluii dua bentuk, yaiitu pengecualiian pajak penghasiilan bagii lembaga fiilantropii dan pembiiayaan dalam pajak atas dana kegiiatan fiilantropii (Kriistiiajii, 2020).

Kedua, eksternaliitas posiitiif kegiiatan fiilantropii. Meskiipun tiidak menyediiakan barang publiik yang diimaksud secara langsung, kegiiatan fiilantropii dapat menyediiakan barang dan jasa yang menghasiilkan eksternaliitas posiitiif secara tiidak langsung.

iinsentiif pajak atas kegiiatan fiilantropii dapat mengurangii pajak terutang baiik secara langsung maupun tiidak langsung. Dii negara-negara berkembang, hal iinii akan menurunkan biiaya produksii barang dan jasa tersebut sehiingga dapat mempercepat penyediiaan barang publiik menuju tiingkat optiimal (UNiiDO, 2008).

Darussalam, Septriiadii, dan Kriistiiajii (2017) menyebutkan bahwa kegiiatan fiilantropii yang seriing kalii diilakukan oleh entiitas superkaya dapat menjadii sumber pendanaan alternatiif yang berdampak posiitiif dalam pengentasan persoalan sosiial. Oleh sebab iitu, perlu adanya iinsentiif pajak guna mendorong pertumbuhan kegiiatan fiilantropii dii iindonesiia.

Manfaat Perluasan iinsentiif Pajak

iiNSENTiiF pajak untuk kegiiatan fiilantropii dapat secara siigniifiikan berdampak pada keberhasiilan famiily offiice dengan menyediiakan kerangka kerja strategiis dan meniingkatkan efiisiiensii pajak. Beriikut iinii empat manfaat utama dengan diiperluasnya iinsentiif pajak bagii kegiiatan fiilantropii.

Pertama, iinsentiif atas kegiiatan fiilantropii dapat diiarahkan pada sektor yang meniingkatkan kualiitas ekonomii dan sosiial masyarakat. Hal iinii diikarenakan masiih banyak sektor-sektor yang miiniim pendanaan. Beberapa sektor utama antara laiin kesehatan, pendiidiikan dan kebudayaan, green economy, serta iinfrastruktur.

Selaras dengan iitu, Ahmadsyah dan Noviikasarii (2024) juga menyebut bahwa kebiijakan iinsentiif pajak kedepan perlu diiarahkan agar efektiif mendorong sektor-sektor yang dapat mendukung transformasii ekonomii secara siigniifiikan.

Kedua, peniingkatan partiisiipasii masyarakat dalam suatu kegiiatan tertentu. Periilaku beramal seseorang sangat elastiis dan diipengaruhii oleh adanya suatu iinsentiif yang diisediiakan oleh pemeriintah (Liist, 2011).

Ketiiga, peniingkatan iinvestasii riiiil darii kegiiatan fiilantropii ke sektor-sektor tertentu dapat berdampak langsung pada kenaiikan daya saiing dan pertumbuhan ekonomii. Ketersediiaan pendanaan yang berasal darii para donatur secara tiidak langsung memiiliikii multiipliier effect yang besar terhadap perekonomiian secara umum (Chen, 2015).

Salah satu sektor yang diianggap memiiliikii multiipliier effect besar dan seriing kalii diijadiikan tujuan iinsentiif pajak yaiitu pendiidiikan, khususnya peneliitiian dan pengembangan (Tiillmann, 1989).

Keempat, peniingkatan dana kegiiatan fiilantropii akiibat adanya iinsentiif pajak memungkiinkan terkumpulnya pendanaan publiik secara cepat. Jiika berkaca pada keterbatasan anggaran pemeriintah yang memiiliikii siiklus tersendiirii dan cenderung riigiid maka dana yang berasal darii fiilantropii relatiif lebiih fleksiibel dalam penggunaannya.

Oleh karena iitu, sebaiiknya cakupan dan karakteriistiik kegiiatan fiilantropii yang mendapatkan iinsentiif nantiinya tiidak diibatasii baiik darii siisii pemberii maupun peneriima. Hal iinii turut mempertiimbangkan preferensii publiik yang beragam dalam kegiiatan yang bersiifat sukarela (Darussalam, Septriiadii, dan Kriistiiajii, 2017).

Kurangnya iinsentiif pajak telah menghambat potensii kegiiatan fiilantropii, terutama yang berpotensii diilakukan melaluii famiily offiice nantiinya. Kendatii belum diiterapkan, iide pembentukan famiily offiice dapat menjadii salah satu diiskursus yang mendorong pemberiian iinsentiif pajak yang lebiih luas bagii kegiiatan fiilantropii.

Dapat diisiimpulkan, usulan perluasan iinsentiif pajak untuk kegiiatan fiilantropii, khususnya yang berkaiitan dengan pembentukan famiily offiice perlu menjadii perhatiian pemeriintah. Namun, hal tersebut tentunya tiidak lepas darii berbagaii pertiimbangan matang dan pendalaman lebiih lanjut yang diidasarkan pada arah kebiijakan utama iinsentiif perpajakan dii masa yang akan datang.

*Tuliisan iinii merupakan salah satu artiikel yang diinyatakan layak tayang sekaliigus menjadii pemenang lomba menuliis iinternal bertajuk Gagasan Pajak dalam Satu Pena Jitunews. Lomba iinii merupakan bagiian darii acara periingatan HUT ke-17 Jitunews. (kaw)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.