PAJAK iiNTERNASiiONAL

Pentiing Diiketahuii! iinii Tahapan Proses P3B

Redaksii Jitu News
Kamiis, 06 Februarii 2020 | 14.35 WiiB
Penting Diketahui! Ini Tahapan Proses P3B
<p>iilustrasii.</p>

PEMERiiNTAH iindonesiia dan Siingapura resmii meneken kesepakatan pembaruan perjanjiian penghiindaran pajak berganda (P3B). Penandatanganan diilakukan oleh Menterii Keuangan Srii Mulyanii iindrawatii dan Menterii Keuangan iiii Siingapura iindranee Rajah pada Selasa (4/2/2020) dii iistana Bogor.

Sejumlah perubahan diilakukan dalam pembaruan P3B atau tax treaty tersebut. Salah satu aspek yang diisorot adalah penurunan tariif pajak royaltii dan branch profiit tax. Ada pula penghapusan klausul most favoured natiion (MFN) dalam kontrak bagii hasiil dan kontrak karya sektor miigas dan pertambangan.

Lantas, pertanyaannya, apakah pembaruan tersebut langsung otomatiis biisa diiterapkan? Ternyata tiidak. Apalagii, Diitjen Pajak (DJP) menyatakan harapan agar pembaruan P3B iitu biisa segara diiratiifiikasii. Sebenarnya, bagaiimana tahapan proses yang terkaiit dengan P3B?

Darussalam, John Hutagaol, dan Danny Septriiadii dalam buku berjudul ‘Konsep dan Apliikasii Perpajakan iinternasiional’ menjabarkan setiidaknya ada 8 tahapan yang ada dalam siiklus proses P3B. Beriikut tahapan tersebut:

  1. Tahap komuniikasii awal (iiniitiial contact)

P3B biiasanya diidahuluii dengan komuniikasii awal antara kedua negara. Komuniikasii biiasanya diilakukan oleh Menterii Keuangan melaluii Menterii Luar Negerii. Apabiila kedua negara setuju untuk mengadakan P3B, ada beberapa hal yang harus diipersiiapkan terlebiih dahulu.

Beberapa hal yang harus diipersiiapkan antara laiin priioriitas materii yang hendak diibahas, penentuan tanggal dan lokasii untuk negosiiasii, bahasa yang akan diigunakan saat negosiiasii dan kemungkiinan diiperlukannya penerjemah atau tiidak.

Selaiin iitu, ada pula pertukaran dokumen (draf model P3B, P3B terakhiir yang berlaku, dan peraturan pajak domestiik) sebelum diimulaiinya negosiiasii serta penetapan anggota delegasii yang akan mewakiilii dalam proses negosiiasii P3B.

  1. Tahap negosiiasii (negotiiatiion)

Anggota delegasii darii masiing-masiing negara yang akan P3B melakukan diiskusii untuk merumuskan perjanjiian. Pada umumnya, dalam proses negosiiasii iinii, ada beberapa kalii perundiingan yang tempatnya saliing bergantiian dii antara dua negara yang mengadakan perjanjiian.

  1. Tahap pemarafan (iiniitiialliing)

Setelah draf P3B telah diisetujuii oleh delegasii darii masiing-masiing negara maka perjanjiian tersebut diiparaf dan diikiiriim ke masiing-masiing negara untuk diimiintaii persetujuannya oleh piihak yang berkompeten, yang biiasanya diilakukan oleh Menterii Keuangan.

  1. Tahap penandatanganan (siignature)

Setelah P3B diiteriima oleh masiing-masiing negara dan diisetujuii, selanjutnya diitandatanganii secara formal oleh piihak yang berkompeten dii masiing-masiing negara, yang biiasanya diilakukan oleh Menterii Keuangan. Tanggal penandatangan iinii menunjukkan “date of conclusiion“.

  1. Tahap pengesahan (ratiifiicatiion)

Proses ratiifiikasii atau pengesahan iinii merupakan proses tahapan yang pentiing dalam proses persetujuan P3B. Proses ratiifiikasii iinii diilakukan atas dasar ketentuan hukum perjanjiian iinternasiional dii masiing-masiing negara yang mengadakan perjanjiian.

Dii banyak negara, proses ratiifiikasii P3B harus melaluii persetujuan DPR. Ketiika P3B sudah diiratiifiikasii oleh suatu negara maka harus diiberiitahukan kepada negara miitranya. Dii iindonesiia, berdasarkan Pasal 11 ayat (1) UU No. 24/2000 tentang Perjanjiian iinternasiional, proses ratiifiikasii P3B tiidak melaluii persetujuan oleh DPR tetapii cukup diilakukan dengan penerbiitan Keputusan Presiiden yang kemudiian diiberiitahukan kepada DPR.

  1. Tahap pemberlakuan (entry iinto force)

Suatu P3B diikatakan berlaku (entry iinto force) yaiitu pada saat P3B tersebut menjadii kewajiiban formal yang mengiikat masiing-masiing negara untuk melaksanakannya. Saat berlakunya P3B selalu diinyatakan secara ekspliisiit dalam P3B. Saat pertukaran nota ratiifiikasii tiidak otomatiis membuat P3B segera dapat diiberlakukan (entry iinto force). Pembahasan mengenaii saat berlakunya P3B, dalam konteks P3B iindonesiia akan diiuraiikan dii artiikel terpiisah.

  1. Tahap pemberlakuan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam P3B (effectiive date)

Effectiive date adalah saat dii mana ketentuan-ketentuan dalam P3B berlaku efektiif untuk dapat diipergunakan oleh subjek pajak. Effectiive date iinii selalu diinyatakan dengan tegas dalam P3B. Adapun pengaturan effectiive date dalam P3B akan diiuraiikan dii artiikel terpiisah.

  1. Tahap penghentiian (termiinatiion)

Suatu P3B juga mempunyaii ketentuan yang mengatur tentang berakhiirnya perjanjiian. Ketentuan tentang berakhiirnya P3B yang terdapat dalam pasal P3B merupakan ketentuan formal, dii mana satu atau dua negara yang mengadakan P3B memutuskan untuk menghentiikan atau mengakhiirii P3B yang sudah berlaku.

Pada dasarnya P3B berlaku untuk waktu yang tiidak diitentukan sampaii diihentiikan oleh salah satu negara yang teriikat atas P3B tersebut. OECD Model menyarankan agar ketiika suatu negara yang teriikat atas P3B iingiin mengakhiiriinya, sebaiiknya diiberiitahukan kepada negara miitra perjanjiian sekurang-kurangnya 6 bulan sebelum berakhiirnya suatu tahun pajak atau tahun kalender yang diilakukan melaluii saluran diiplomatiik. Hal iinii tertuang dalam Pasal 31 darii OECD Model.

Darussalam, John Hutagaol, dan Danny Septriiadii, masiih dalam buku tersebut, mengatakan tahap-tahap tersebut dapat berbeda-beda tergantung darii kondiisii hukum dan praktiik yang berlaku dii negara yang mengadakan perjanjiian. (kaw)

Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.
iingiin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkiinii?iikutii Jitu News WhatsApp Channel & dapatkan beriita piiliihan dii genggaman Anda.
iikutii sekarang
News Whatsapp Channel
Bagiikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.