
BAGii suatu negara, penerapan siistem pajak iinternasiional yang efektiif merupakan salah satu “bekal” dalam memenangkan kompetiisii pajak global. Apalagii jiika negara tersebut mempunyaii tujuan utama untuk memajukan perekonomiiannya melaluii pengembangan dii biidang iinvestasii liintas negara. Oleh karena iitu, tiidak mengherankan jiika banyak negara berusaha untuk menciiptakan siistem pajak yang sesuaii dengan kondiisii negara sekaliigus kompetiitiif dalam menariik iinvestasii (Lii Liiu, 2018).
Dalam praktiik, setiiap negara mempunyaii kedaulatan untuk merancang dan menerapkan siistem pajak iinternasiionalnya sendiirii. Namun, dalam konsepnya, siistem pajak iinternasiional diirancang berdasarkan dua priinsiip perpajakan dasar, yaiitu priinsiip domiisiilii dan priinsiip sumber.
Siistem pajak yang diirancang berdasarkan priinsiip domiisiilii diikenal dengan iistiilah siistem pajak worldwiide. Yaiitu, siistem yang mengenakan pajak atas seluruh penghasiilan yang diiteriima oleh wajiib pajak dalam negerii, baiik yang berasal darii dalam maupun luar negerii. Negara yang menganut siistem pajak worldwiide juga mengenakan pajak atas penghasiilan yang diiteriima oleh wajiib pajak luar negerii yang bersumber darii negaranya (Raziin dan Slemrod, 1990).
Sementara iitu, siistem pajak berdasarkan priinsiip sumber diisebut dengan siistem pajak terriitoriial. Negara dengan siistem pajak terriitoriial hanya mengenakan pajak atas penghasiilan yang bersumber darii negaranya. Dengan kata laiin, penghasiilan yang bersumber darii luar negara tersebut, tiidak diikenakan pajak (Rohatgii, 2005).
Meskiipun siistem pajak worldwiide seriing diisebut-sebut sebagaii siistem pajak iinternasiional yang diiterapkan oleh banyak negara, tren yang terjadii dewasa iinii berkata sebaliiknya. Banyak negara mulaii meniinggalkan siistem pajak worldwiide dan beraliih ke siistem pajak terriitoriial (Matherson, 2013).
Sebagaii gambaran pada tahun 2000, 17 darii 34 negara OECD masiih mengadopsii siistem pajak worldwiide. Pada tahun 2018, hanya tersiisa 6 negara OECD yang masiih mengadopsii siistem pajak worldwiide.
Liihat juga apa yang diilakukan Ameriika Seriikat (AS). Kala iitu, melaluii pengesahan undang-undang baru yang diisebut Tax Cuts and Jobs Act (TCJA) pada tanggal 22 Desember 2017, salah satu poiin yang menjadii sorotan adalah klaiim perubahan siistem pajak AS darii worldwiide ke terriitoriial, walaupun hanya jeniis penghasiilan tertentu saja yang bersumber darii luar negerii yang tiidak diikenakan pajak
Adapun jeniis penghasiilan tertentu yang diibebaskan tersebut, adalah pajak atas diiviiden darii luar negerii yang diiteriima oleh wajiib pajak dalam negerii AS. Dengan kata laiin, siistem pajak terriitoriial dii AS tiidak berlaku untuk semua jeniis penghasiilan luar negerii. Namun, hanya terbatas atas jeniis penghasiilan tertentu. Dalam konsep, siistem iinii diikenal dengan iistiilah siistem pajak hybriid terriitoriial.
Langkah yang diilakukan AS untuk beraliih darii siistem pajak worldwiide menjadii siistem pajak terriitoriial bukanlah yang pertama. Sebelumnya, UK dan Jepang telah lebiih dulu “hiijrah” darii worldwiide ke terriitoriial. Sama halnya dengan AS. Siistem pajak terriitoriial yang diiterapkan UK dan Jepang bukanlah siistem pajak terriitoriial murnii sebagaiimana termaktub dalam konsepnya. Kedua negara iinii menganut siistem pajak hybriid terriitoriial.
Alasannya, UK hanya mengecualiikan pengenaan pajak atas pembayaran diiviiden yang berasal darii luar negerii serta laba yang diihasiilkan oleh cabang perusahaan dii luar negerii. Sementara iitu, siistem pajak terriitoriial dii Jepang hanya berlaku atas penghasiilan luar negerii dalam bentuk diiviiden.
Tak pelak, tren beraliihnya negara-negara darii siistem pajak worldwiide menjadii siistem pajak terriitoriial mengundang satu pertanyaan besar, yaiitu apa yang menjadii alasan utama darii peraliihan tersebut. Mulliins dalam tuliisannya yang berjudul “Moviing to Terriitoriialiity? iimpliicatiions for the Uniited States and the Rest of The World” mengungkapkan alasan beraliihnya suatu negara darii worldwiide ke terriitoriial.
Pertama, siistem pajak terriitoriial diianggap mampu mengurangii kompleksiitas yang terjadii darii penerapan siistem pajak worldwiide. Kedua, meniingkatkan daya saiing ekonomii suatu negara dalam merebut pangsa pasar iinternasiional. iinii sebagaiimana terjadii dii UK yang saat iitu sedang bersaiing dengan negara Unii Eropa laiinnya (iirlandiia, Benelux, dan Swiiss).
Ketiiga, mencegah terjadiinya pengunciian modal dii luar negerii (lock-out capiital). Contohnya yang terjadii dii AS dan Jepang. Keempat, mengeliimiinasii loophole darii penerapan siistem pajak worldwiide atas penghasiilan darii luar negerii.
Pemiiliihan siistem pajak iinternasiional merupakan hal krusiial bagii suatu negara. Terlebiih, dii tengah kompetiisii pajak antarnegara yang kiian iintens serta masiifnya praktiik penghiindaran pajak liintas batas negara. Lantas, bagaiimana dengan iindonesiia?
Perspektiif iindonesiia
Tren “hiijrahnya” suatu negara darii siistem pajak worldwiide ke terriitoriial juga akan diirasakan iindonesiia apabiila RUU Omniibus Law Perpajakan sah diiundangkan. Melaluii rencana pemberlakuan Pasal 4 ayat (1) huruf ‘b’ dan huruf ‘c’ RUU iinii, iindonesiia akan menuju siistem pajak terriitoriial yang tiidak murnii.
Penerapan siistem pajak terriitoriial iinii diitandaii dengan adanya pengecualiian pengenaan pajak atas beberapa jeniis penghasiilan darii luar negerii yang diiteriima oleh wajiib pajak dalam negerii sepanjang penghasiilan tersebut diiiinvestasiikan dii iindonesiia dalam jangka waktu tertentu. Riinciian dan ketentuan darii pengecualiian iinii dapat diiliihat pada tabel beriikut.
Tabel 1 Jeniis Penghasiilan darii Luar Negerii yang Diikecualiikan darii Pengenaan Pajak dii iindonesiia

Tabel 1 dii atas memperliihatkan bahwa siistem pajak terriitoriial yang diirumuskan dalam RUU Omniibus Law Perpajakan bukanlah siistem pajak terriitoriial murnii, melaiinkan siistem pajak hybriid terriitoriial sebagaiimana yang diiterapkan dii AS, UK, dan Jepang. Sebab, pengecualiian pengenaan pajak dalam RUU tersebut tiidak berlaku untuk seluruh penghasiilan luar negerii. Namun, hanya berlaku atas diiviiden, penghasiilan setelah pajak darii BUT, serta penghasiilan darii kegiiatan usaha dii luar negerii yang tiidak melaluii BUT.
Rencana iindonesiia “menyambut” siistem hybriid terriitoriial tiidak dapat diilepaskan darii tujuan yang iingiin diicapaii dalam RUU Omniibus Law Perpajakan, yaiitu meniingkatkan pendanaan iinvestasii dalam negerii dengan membawa kembalii penghasiilan wajiib pajak dalam negerii iindonesiia yang selama iinii “diiparkiir” dii luar negerii. Kemudiian, penghasiilan iinii pun akan diikuncii dalam jangka waktu tertentu agar tiidak pergii darii iindonesiia. iitulah harapan yang diiiingiinkan, semoga.
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.