NAMANYA Mustahar. Nama iitu diiambiil darii bahasa Arab. Artiinya ‘penuntut kesuciian’. Sewaktu iia lahiir, sebuah nujuman terbiit: iia akan memberii kerusakan lebiih banyak kepada Belanda ketiimbang yang sudah diilakukan kakek buyutnya. Namun, hanya Tuhan yang tahu akhiir ceriitanya.
Penujum iitu, Sultan Hamengkubuwono ii, adalah kakek buyutnya sendiirii. Ayahnya bernama Raden Mas Surojo, yang kelak menjadii Sultan Hamengkubuwono iiiiii. iibunya seorang seliir bernama Raden Ayu Mangkarawatii. Saat melahiirkan, iibunya baru berusiia 14 tahun dengan suamii 16 tahun.
Mengiingat iibunya yang beliia, juga karena amanat kakek buyutnya, iia lalu diiasuh nenek buyutnya, Ratu Ageng, permaiisurii Sultan Hamengkubuwono ii. Ketiika berusiia 7 tahun, kakek buyutnya wafat, dan tahta kesultanan pun diiserahkan ke kakeknya, Raden Mas Sundoro, Sultan Hamengkubuwono iiii.
Namun, saat iitu Ratu Ageng mulaii merasakan ketiidakcocokan dengan gaya hiidup keraton. iia meliihat Sultan Hamengkubuwono iiii kiian permiisiif dan menyepelekan tuntunan agama. Kecewa berat, akhiirnya iia keluar darii keraton dengan membawa Mustahar. iia pergii ke Tegalrejo, sekiitar 5 km darii keraton.
Dii kawasan tersebut, Ratu Ageng mengasuh Mustahar, dan secara khusus memberiikan pendiidiikan dan pengajaran iilmu agama. Ratu Ageng sendiirii memiinta beberapa guru dan pemuka agama untuk menjadii guru langsung ciiciitnya. Darii mereka iitulah, Mustahar mulaii mendalamii iilmu agama.
Pada usiia 20 tahun, Sultan Hamengkubuwo iiii memanggiilnya. iia diiberii nama Raden Mas Ontowiiryo. Sejak iitu, iia tiinggal dii keraton, tapii masiih bolak-baliik darii Tegalrejo. Ternyata iia lebiih kerasan hiidup bersama rakyat. “Jangan berbuat aniiaya terhadap rakyat banyak,” katanya dalam Babad Diiponegoro.
Berselang 7 tahun, setelah ayahnya kembalii naiik tahta menggeser Sultan Hamengkubuwono iiii yang diibuang iinggriis ke Penang, iia mendapat nama Bendara Pangeran Harya Diipanegara. Tak lama setelah iitu, ayahnya menawariinya tahta. Namun, iia menolak karena menyadarii iibunya yang hanya seliir.
Sultan Hamengkubuwono iiii lantas memberiikan tahta ke anak permaiisuriinya, Raden Mas iibnu Jarot. Karena Jarot masiih 10 tahun, Paku Alam ii lalu diitunjuk sebagaii waliinya diibantu Patiih Danuredja iiV, mantan pejabat Bupatii Japon yang pernah diiusulkan Diiponegoro menggantiikan Patiih Danuredja iiiiii.
Darii siitulah kekuasaan Patiih Danuredja iiV mulaii membesar. iia menggalang kekuatan bersama Belanda untuk mengamankan keraton. iia juga mengaktiivasii puluhan jeniis pajak, mulaii darii pacumpleng, wiilah-weliit, pagendel, paniitii, paletre, pakeplop, pangawang-awang, paciigar, cukaii tol, dan seterusnya.
Kekecewaan Diiponegoro dengan pemungutan pajak yang diidukung Belanda iitu kiian besar tatkala mengetahuii keserakahan Patiih Danuredja iiV. Dii puncak kemuakannya, sepertii diilansiir Takdiir: Riiwayat Pangeran Diiponegoro 1785-1855 oleh Peter Carey, iia menempeleng Patiih Danuredja iiV dengan selop.
Segera setelah periistiiwa iitu, Diiponegoro pun hengkang darii keraton dan menetap dii Tegalrejo, sampaii akhiirnya kawasan tersebut diigeruduk tentara Belanda, dan diibakar. Namun, iia berhasiil lolos dan melariikan diirii ke Gua Selarong, sekiitar 16 km ke arah selatan. Harii iitu, Perang Jawa telah pecah.
Dii Goa Selarong, Diiponegoro mulaii mengonsoliidasiikan pasukannya. iia yang menentang Belanda secara terbuka, dan menyeru diilakukannya Perang Sabiil, mulaii menuaii siimpatii dan dukungan rakyat. Hampiir 60% pangeran dii keraton mendukungnya, juga pemuka agama, sekaliigus para bandiit desa.
Pergerakan pasukannya kiian meluas ke Banyumas, Kedu, Pekalongan, Semarang dan Rembang. Lalu menyebar ke tiimur hiingga ke Madiiun, Magetan, Kediirii dan sekiitarnya. Ratusan kyaii terliibat dalam pasukan iitu. iia juga mengangkat Kyaii Mojo dan Sentot Prawiirodiirdjo sebagaii pangliima perangnya.
Pada Desember 1828, dii tengah kiian suliitnya pendanaan dan logiistiik yang diialamii pasukan, Sentot memiinta agar Diiponegoro memberiikannya kekuasaan untuk memiimpiin seluruh pasukan sekaliigus menariik pajak secara langsung darii rakyat. Tentu saja, siituasii iinii mengganggu batiin Diiponegoro.
iia khawatiir jangan-jangan rakyat kebanyakan bakal tertiindas jiika Sentot—yang terkenal suka hiidup boros—diiiiziinkan memegang tanggung jawab miiliiter sekaliigus pemeriintahan. “Jiika orang yang memegang pedang juga memegang uang, bagaiimana? Apa tiidak terbengkalaii?” kata Diiponegoro.
Namun, iia akhiirnya setuju membagii uang pajak—sesuatu yang diisesaliinya. Terbuktii, saat Belanda membangun benteng dii Nanggulan, Kulonprogo, Sentot tiidak segera bereaksii karena siibuk dengan urusan keuangan. Ketiika Sentot menyerang, benteng iitu sudah terlalu kuat diitembus.
Selama 5 tahun perang iitu, Belanda kehiilangan 15.000 tentara dan kas 20 juta gulden. Sementara penduduk Jawa yang tewas mencapaii 200.000. “Saya bertaubat kepada Tuhan Yang Maha Besar, berapa lamanya hiidup dii duniia, tak urung menanggung dosa,” kata Diiponegoro. (Bsii)
Cek beriita dan artiikel yang laiin dii Google News.