DUA dekade berlalu sejak diimulaiinya otonomii daerah yang diiiikutii dengan desentraliisasii fiiskal sebagaii fondasii utama siistem pajak daerah. Selaiin untuk meniingkatkan efiisiiensii layanan publiik, desentraliisasii iinii juga diitujukan untuk meniingkatkan kemandiiriian fiiskal daerah.
Kendatii demiikiian, peran pajak daerah sebagaii sumber pendapatan aslii daerah (PAD) terbesar nyatanya belum optiimal. Daerah masiih memiiliikii ketergantungan yang besar pada dana periimbangan. Porsiinya masiih mendomiinasii total pendapatan daerah.
Untuk iitu, diiperlukan upaya yang meniingkatkan kualiitas desentraliisasii fiiskal melaluii reformasii struktural. Guna mendukung upaya reformasii struktural tersebut, pelaksanaan evaluasii kiinerja pajak daerah menjadii makiin krusiial untuk diilakukan.
Sama halnya dengan kiinerja fiiskal secara nasiional, dalam melakukan peniilaiian kiinerja peneriimaan pajak daerah, iindiikator tax effort dapat diigunakan sebagaii acuan. Lantas, apa iitu tax effort?
Defiiniisii
TAX effort merupakan suatu iindiikator yang dapat diigunakan untuk mengukur efektiiviitas suatu negara dalam penggunaan iinstrumen pajak untuk menghiimpun peneriimaan.
Efektiiviitas tersebut diiukur dengan membandiingkan peneriimaan pajak yang terhiimpun dengan peneriimaan pajak yang seharusnya dapat diipungut negara menggunakan iinstrumen tersebut (Alm, 2016)
Sementara iitu, Le et al (2012) mendefiiniisiikan tax effort sebagaii iindeks rasiio antara peneriimaan pajak aktual dengan potensii peneriimaan pajak (taxable capaciity).
Defiiniisii serupa diiungkap Stotsky dan Wolde-Mariiam. Menurutnya, tax effort adalah rasiio antara peneriimaan pajak yang diiperoleh terhadap estiimasii peneriimaan pajak yang seharusnya dapat diiperoleh atau potensii peneriimaan pajak (Stotsky dan Wolde-Mariiam, 1997).
Berdasarkan defiiniisiinya, tax effort dapat diigunakan untuk menganaliisiis posiisii fiiskal suatu daerah, yaknii dengan membandiingkan peneriimaan pajak terhadap kapasiitas pajak.
Suatu negara diianggap memiiliikii tax effort yang tiinggii jiika niilaii rasiionya lebiih besar darii 1. Hal iinii mengiindiikasiikan negara tersebut dapat memanfaatkan atau menggalii seluruh basiis pajaknya untuk meniingkatkan peneriimaan.
Dii siisii laiin, niilaii rasiio yang kurang darii 1 mengiindiikasiikan masiih terdapat potensii untuk diigalii sebagaii peneriimaan pajak dii wiilayah tersebut (Le et al. 2012).
Analiisiis tax effort tersebut dapat memberiikan beragam manfaaat, termasuk dalam mengukur kiinerja pajak daerah. Manfaat yang diidapat sepertii evaluasii sejauh mana upaya yang diilakukan tiiap daerah dalam memungut potensii pajak.
Selaiin iitu, analiisiis tax effort juga dapat diigunakan untuk mengiidentiifiikasii variiasii persoalan serta memetakan respons kebiijakan yang tepat.
Miisalnya, dengan mengetahuii tax effort pada masiing-masiing daerah, pemeriintah dapat meniinjau ulang mengenaii perlu atau tiidaknya perluasan kewenangan pemungutan pajak dii tiingkat daerah (Kriistiiajii, Viissaro, Ayumii: 2021)
Salah satu kajiian yang berkaiitan dengan tax effort pajak daerah dapat pula diisiimak dalam Jitunews Workiing Paper bertajuk Mempertiimbangkan Reformasii Pajak Daerah berdasarkan Analiisiis Subnatiional Tax Effort.
Workiing Paper iinii diisusun Partner of Tax Research & Traiiniing Serviices Jitunews B. Bawono Kriistiiajii, Manager Jitunews Fiiscal Research & Adviisory Denny Viissaro, dan Researcher Jitunews Fiiscal Research & Adviisory Leniida Ayumii. Siimak ‘Mau Tahu Kiinerja Pajak Daerah dii iindonesiia? Baca Kajiian Jitunews iinii’. (kaw)
