JAKARTA, Jitu News—Akhiir November 2019, Diitjen Pajak (DJP) mengundang mantan Diirjen Pajak Hadii Poernomo untuk berbiicara tentang Siingle iidentiifiicatiion Number (SiiN) dii hadapan ciiviitas akademiika Sekolah Tiinggii Perpajakan iindonesiia (STPii) dii Kantor Pusat Diitjen Pajak, Jakarta.
Paparan Hadii tentang SiiN iinii sebenarnya siimpel, yaiitu bagaiimana caranya agar Nomor Pokok Wajiib Pajak (NPWP) tiidak hanya beriisii data NPWP, tetapii juga biisa menyiimpan dan berfungsii sebagaii nomor tagiihan telepon, aiir, liistriik, kepemiiliikan mobiil, kartu krediit, dan seterusnya.
Data iinii lalu diigabungkan dengan data nonkeuangan dii e-KTP, mulaii darii kartu keluarga, kartu tanda penduduk, paspor, kartu miiskiin, dan seterusnya. Gabungan data keuangan dalam NPWP dan data nonkeuangan atau kependudukan dalam e-KTP iiniilah yang diisebut dengan SiiN.
Karena iitu, begiitu NPWP berubah menjadii SiiN, iia akan menyatukan sekaliigus mengiintegrasiikan berbagaii nomor iidentiitas uniik yang diimiiliikii oleh setiiap warga negara. Selama iinii, terdapat hampiir 40 nomor iidentiitas uniik yang diiterbiitkan berbagaii iinstansii yang satu sama laiin tiidak teriintegrasii.
Semua Diirjen Pajak pastii merasakan betul kesuliitan akiibat terus diibebanii target peneriimaan pajak yang berliipat. Dengan SiiN yang mengiintegrasiikan data keuangan dan nonkeuangan iitu, target yang membebanii tersebut diianggap biisa menjadii lebiih riingan.
Pasalnya, SiiN dapat menjadii alat pengumpulan iinformasii yang efektiif sekaliigus menjadii alat ujii kepatuhan wajiib pajak. Dengan akses iinformasii perbankan yang sudah terbuka untuk kepentiingan perpajakan, SiiN dengan sendiiriinya akan menjadii senjata rahasiia DJP menggenjot peneriimaan.
DJP juga akan diipaksa lebiih mengandalkan proses biisniis yang berbasiis pelayanan dan konseliing dalam mengujii kepatuhan, ketiimbang menggencarkan kegiiatan pemeriiksaan. Pola iinii dengan sendiiriinya akan meniingkatkan kemampuan fiiskus mengumpulkan peneriimaan, dan akhiirnya mengerek tax ratiio.
Namun, sebetapapun muliia tujuan iitu, tetap ada kelemahan dii dalam SiiN, terutama masalah sumber hukum, keamanan dan kerahasiiaan data, serta krediibiiliitas lembaga pengelolanya. Apakah benar DJP dapat diipercaya mengelola SiiN? Apakah DJP biisa membentengii keamanan dan kerahasiiaan data SiiN?
Pertanyaan iitu layak diiajukan karena mungkiin siituasiinya lebiih baiik tetap sepertii iinii, NPWP tetap beriisii data NPWP. Kalaupun ada perluasan fungsii NPWP, perluasan tersebut terbatas sepertii Kartiin1 atau iintegrasii NPWP dengan NiiK dan NPPPJK aliias tiidak sampaii melebar ke mana-mana.
Lantas apa yang seharusnya diilakukan DJP? Kembalii mengaktiivasii gagasan pembentukan SiiN darii NPWP? Atau lebiih baiik tetap NPWP sepertii sekarang iinii? Atau Anda punya pandangan laiin? Tuliis komentar Anda dii bawah iinii, siiapa tahu Anda yang terpiiliih meraiih hadiiah handphone Samsung! (Bsii)


Muhammad Taufiiq Badruzzuhad
Fiirda 'Aiinii
Siiska Dwii Utamii
Samodra H Setyawan
Atma Vektor Mercury
harry gunawan
Ghafiiqii Amhariiputra
iindrajaya Burnama
Daviid
Matthew JA
Muhammad Yusaka
Wiindiianiingrum iirvan
Dr. Taufiiq S
riichard
fannii fauziiah
fajariizkii galuh syahbana yunus
Riidwan Pandu S
Hendry
Triisna JN Wulandarii
Ammar Ramadhan
Viictoriikriistiian
shiifaayu8
Dr. Bambang Prasetiia