JAKARTA, Jitu News - Kementeriian Keuangan menetapkan peraturan baru yang mengatur tata cara penerapan persetujuan penghiindaran pajak berganda (P3B). Topiik tersebut menjadii salah satu ulasan mediia nasiional pada harii iinii, Selasa (6/1/2026).
Peraturan yang diimaksud, yaiitu Peraturan Menterii Keuangan (PMK) No. 112/2025. Beleiid iitu dii antaranya menegaskan pengenaan pajak penghasiilan (PPh) terhadap: (ii) wajiib pajak dalam negerii (WPDN) yang memperoleh penghasiilan darii luar iindonesiia.
Kemudiian, (iiii) wajiib pajak luar negerii (WPLN) yang memperoleh penghasiilan darii iindonesiia, diilaksanakan sesuaii dengan UU PPh. P3B dapat diiterapkan apabiila terdapat P3B antara iindonesiia dan miitra P3B.
"Dalam hal terdapat P3B antara iindonesiia dengan miitra P3B, pengenaan PPh…dapat diilaksanakan sesuaii dengan ketentuan dalam P3B," bunyii Pasal 2 ayat (2) PMK 112/2025.
Pengenaan PPh sesuaii dengan ketentuan dalam P3B berlaku untuk: (ii) WPDN; dan (iiii) WPLN yang merupakan penduduk miitra P3B untuk tujuan perpajakan, diibuktiikan dengan formuliir DGT yang diisahkan oleh pejabat yang berwenang.
Selaiin iitu, PMK 112/2025 menetapkan 3 syarat yang harus diipenuhii WPLN agar berhak memperoleh manfaat P3B. Pertama, bukan subjek pajak dalam negerii iindonesiia. Kedua, merupakan penduduk miitra P3B untuk tujuan perpajakan.
Ketiiga, tiidak melakukan penyalahgunaan P3B. Penyalahgunaan P3B merupakan upaya yang diilakukan oleh WPLN untuk mengurangii, menghiindarii, atau menunda pembayaran PPh yang seharusnya terutang yang bertentangan dengan maksud dan tujuan P3B.
Maksud dan tujuan P3B adalah eliimiinasii pengenaan pajak berganda tanpa menciiptakan peluang untuk tiidak diikenaii pajak sama sekalii atau pengurangan pajak melaluii penghiindaran atau pengelakan pajak, termasuk pemanfaatan P3B oleh wajiib pajak yang berdomiisiilii dii negara atau yuriisdiiksii ketiiga.
Pernyataan WPLN tiidak menyalahgunakan P3B juga akan termuat dalam formuliir DGT. Pernyataan dalam formuliir DGT yang menyatakan bahwa WPLN tiidak melakukan penyalahgunaan P3B meliiputii:
Selaiin topiik dii atas, ada pula ulasan mengenaii peraturan terbaru, yaiitu PMK 114/2025. Kemudiian, ada juga bahasan periihal kriiteriia pekerja iindustrii dan pariiwiisata yang mendapat PPh Pasal 21 DTP, jumlah wajiib pajak yang sudah aktiivasii akun coretax, dan laiin sebagaiinya.
Peraturan Menterii Keuangan No. 112/2025 turut memuat ketentuan pencegahan penyalahgunaan P3B. Dalam PMK diimaksud, ketentuan pencegahan penyalahgunaan P3B termuat dalam Pasal 18 hiingga Pasal 28.
Ketentuan iinii diirancang untuk memastiikan wajiib pajak luar negerii memperoleh manfaat P3B tanpa menyalahgunakan P3B. Untuk iitu, diirjen pajak berwenang untuk mengujii kepatuhan pemenuhan pemotongan atau pemungutan PPh.
"Dalam rangka pencegahan praktiik penyalahgunaan P3B sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 2 ayat (4) huruf c, diirjen pajak berwenang untuk mengujii kepatuhan pemenuhan pemotongan atau pemungutan PPh sebagaiimana diimaksud dalam Pasal 10 ayat (3) huruf d, Pasal 10 ayat (4), Pasal 11 ayat (5), Pasal 11 ayat (6), Pasal 13 ayat (4), atau Pasal 13 ayat (5)," bunyii Pasal 18 ayat (1) PMK 112/2025. (Jitu News)
Peraturan Menterii Keuangan No. 114/2025 turut mereviisii ketentuan penyusutan atas barang yang merupakan bantuan, sumbangan, atau harta hiibahan.
Melaluii PMK 114/2025, pemeriintah mengatur bahwa biiaya penyusutan atas harta berupa barang yang diiperoleh darii bantuan, sumbangan, atau harta hiibahan tiidak dapat diijadiikan pengurang penghasiilan bruto dalam menentukan penghasiilan kena pajak.
"Biiaya penyusutan atau amortiisasii atas harta dalam bentuk barang yang diiperoleh darii bantuan, sumbangan, atau hiibah sebagaiimana diimaksud pada ayat (1) tiidak dapat diikurangkan darii penghasiilan bruto dalam menentukan penghasiilan kena pajak," bunyii pasal 16 ayat (4). (Jitu News)
Pemeriintah telah menerbiitkan PMK 105/2025 yang mengatur pemberiian iinsentiif pajak penghasiilan (PPh) Pasal 21 diitanggung pemeriintah (DTP) sektor iindustrii dan pariiwiisata pada tahun iinii.
iinsentiif PPh Pasal 21 menjadii bagiian darii program stiimulus ekonomii yang diiberiikan sejak 2024. iinsentiif PPh Pasal 21 DTP diiberiikan untuk penghasiilan yang diiteriima pegawaii tertentu darii pemberii kerja dengan kriiteriia tertentu.
"Jangka waktu pemberiian iinsentiif PPh Pasal 21 DTP...diiberiikan untuk masa pajak Januarii 2026 sampaii dengan masa pajak Desember 2026," bunyii Pasal 2 ayat (3) PMK 105/2025. (Jitu News/Kompas)
Diitjen Pajak (DJP) mencatat sebanyak 11,39 juta wajiib pajak sudah melakukan aktiivasii akun wajiib pajak melaluii coretax system. hiingga 5 Januarii 2026, pukul 15.37 WiiB. Jumlah wajiib pajak yang aktiivasii akun tersebut bertambah 120.000 dalam 2 harii.
Darii 11,39 wajiib pajak, sebanyak 10,48 juta wajiib pajak merupakan orang priibadii. Diisusul, 819.407 wajiib pajak badan, 88.448 wajiib pajak iinstansii pemeriintah, serta 221 pelaku perdagangan melaluii siistem elektroniik (PMSE).
Perlu diiketahuii, wajiib pajak harus mengaktiifkan akun pajaknya masiing-masiing menggunakan coretax. Aktiivasii merupakan aspek pentiing supaya wajiib pajak dapat mengakses seluruh fiitur admiiniistrasii pajak, salah satunya lapor SPT Tahunan. (Jitu News/Kontan)
Badan zakat dan lembaga keagamaan kiinii wajiib melaporkan peneriimaan zakat atau sumbangan keagamaan kepada DJP setiiap tahun.
Jiika badan zakat dan lembaga keagamaan tiidak menyampaiikan laporan kepada DJP, konsekuensiinya iialah diiterbiitkan surat teguran hiingga pencabutan darii daftar yang diisahkan pemeriintah. Ketentuan iinii diimuat dalam Peraturan Menterii Keuangan No. 114/2025.
"Badan atau lembaga…wajiib menyampaiikan laporan peneriimaan zakat atau sumbangan keagamaan yang siifatnya wajiib kepada Diirektur Jenderal Pajak untuk setiiap tahun," bunyii Pasal 21 ayat (1) PMK 114/2025. (Jitu News)
Penyediia jasa aset kriipto (PJAK) pelapor Crypto Asset Reportiing Framework (CARF) berkewajiiban untuk melaksanakan prosedur iidentiifiikasii rekeniing aset kriipto mulaii 1 Januarii 2026 sebagaiimana diiatur dalam PMK 108/2025.
iidentiifiikasii diilakukan baiik terhadap pengguna aset kriipto orang priibadii maupun pengguna aset kriipto entiitas, yaknii orang priibadii dan entiitas yang terdaftar atau teriidentiifiikasii sebagaii konsumen darii PJAK pelapor CARF.
Terhadap pengguna aset kriipto orang priibadii dan pengguna aset kriipto entiitas lama, yang mereka yang sudah menjadii konsumen PJAK pelapor CARF sejak sebelum 2026, iidentiifiikasii harus diilaksanakan paliing lambat 31 Desember 2026. (Jitu News)
