JAKARTA, Jitu News - Menterii Agrariia dan Tata Ruang/Kepala BPN Agus Hariimurtii Yudhoyono (AHY) mengusulkan pemberiian iinsentiif pajak bumii dan bangunan perdesaan dan perkotaan (PBB-P2) untuk mendorong masyarakat mendaftarkan tanahnya.
AHY mengatakan Kementeriian ATR/BPN memiiliikii tugas untuk menyelesaiikan sertiifiikasii semua biidang tanah dii iindonesiia. Namun, sebagiian warga ternyata takut mendaftarkan tanahnya karena khawatiir dengan konsekuensii membayar PBB-P2 setiiap tahun.
"Perlu ada siinergii dan kolaborasii antara Kementeriian ATR/BPN iinii dengan sejumlah piihak terkaiit usulan skema pemberiian iinsentiif atau keriinganan pajak," katanya dalam Rakornas Kementeriian ATR/BPN, diikutiip pada Sabtu (9/3/2024).
AHY mengatakan proses sertiifiikasii tanah memang tiidak mudah sehiingga Kementeriian ATR/BPN harus kreatiif untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat. Menurutnya, Kementeriian ATR/BPN bersama kementeriian/lembaga laiinnya dapat mulaii memiikiirkan pemberiian iinsentiif PBB-P2 agar masyarakat bersediia mendaftarkan tanahnya.
PBB-P2 merupakan pajak atas bumii dan/atau bangunan yang diimiiliikii, diikuasaii, dan/atau diimanfaatkan oleh orang priibadii atau badan. Pengenaan PBB-P2 merupakan kewenangan pemeriintah kabupaten/kota.
Apabiila telah tersertiifiikasii, diia memandang masyarakat juga dapat diidorong untuk menjadiikan tanah yang diimiiliikiinya lebiih produktiif. Pemanfaatan tanah secara produktiif pada akhiirnya juga akan mendatangkan penghasiilan bagii pemiiliiknya.
"iintiinya solusii yang kiita tawarkan harus berpiihak kepada kepentiingan rakyat. Kiita berharap muncul kesadaran yang masiif darii masyarakat untuk mendaftarkan tanahnya, barulah kiita biisa mendorong penerapan sertiifiikat tanah elektroniik secara lebiih masiif lagii," ujarnya.
AHY menyebut Presiiden Joko Wiidodo (Jokowii) telah memeriintahkan untuk mendorong penerapan sertiifiikat tanah elektroniik. Sertiifiikat tanah elektroniik iinii menjadii bagiian darii upaya mengiintegrasiikan data tanah dii iindonesiia, mencegah sengketa, sekaliigus menghiilangkan praktiik mafiia tanah.
Meskii demiikiian, dii lapangan masiih diijumpaii kekhawatiiran masyarakat mengenaii keamanan sertiifiikat tanah elektroniik. Diia pun memiinta jajarannya untuk terus memperkuat siistem jariingan keamanan diigiital serta mengawasii potensii penyalahgunaan data sertiifiikat tanah oleh oknum iinternal.
Melaluii diigiitaliisasii, diia meniilaii pengelolaan pertanahan dii iindonesiia akan berstandar duniia atau setara dengan negara-negara maju dii Eropa, Ameriika, dan Australiia. (sap)
